Hubungan Antara Kepercayaan Kejawen Dan Agama Islam Dalam Ritual Gunung Kawi Oleh Pengunjung Muslim

LAPORAN PENELITIAN

METODELOGI PENELITIAN

“Hubungan Antara  Kepercayaan Kejawen Dan Agama Islam Dalam Ritual Gunung Kawi Oleh Pengunjung Muslim”

 

Dosen:

Intan Rahmawati, S.Psi., M.Psi

 

 

 

 

Oleh:

Viny Alfiani                           (105120307111015)

 

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2012

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1.   Latar Belakang

Banyak sekali cerita di Jawa yang menggambarkan bahwa pemenuhan harapan orang kejawen tidak cukup hanya dengan bekerja dan bersembahyang. Ada upaya lain yang harus mereka lakukan. Upaya tersebut adalah ritual, yang dilaksanakan masyarakat sesuai dengan kepercayaan mereka terhadap berbagai mitos dan sejarah tempat-tempat keramat tertentu yang berkembang. Salah satu tempat ritual dan memiliki kepercayaan mitos yang kuat adalah Gunung Kawi.

Gunung Kawi  terletak di kabupaten Malang, berada di ketinggian 2860m dari permukaan laut. Gunung Kawi masih merupakan tempat kunjungan wisata religi favorit yang sampai saat ini masih banyak di kunjungi wisatawan dari berbagai daerah. Banyak orang yang menganggap, bahwa Gunung Kawi sangat berkaitan dengan hal-hal mistis terutama pesugihan. Di Gunung kawi juga tidak terlepas dari ritual-ritual kejawen yaitu mengelilingi pesarehan dalam jumlah ganjil yang afdhol dilakukan diatas jam 12 malam, duduk di pohon dewandaru, nyekar, mandi di air sumber dan selametan. Ritual-ritual tersebut dilakukan pada Jumat legi, Senin pahing, Malam syuro, dan Tahun baru.

Kebanyakan dari pengunjung Gunung Kawi adalah orang muslim yang bertujuan untuk berziarah. Kebanyakan dari orang muslim yang datang, meyakini bahwa kedua makam Kyai Raden Mas Zakaria II (mbah Djoego) dan Kyai Raden Mas Iman Soedjono (mbah Soedjo) yang merupakan Tokoh Utama di Gunung Kawi, Wonosari  adalah makam “Wali”. Tetapi orang-orang muslim pengunjung disana tidak hanya berziarah atau nyekar, mereka juga melakukan ritual-ritual seperti keliling pesarehan dalam jumlah ganjil di 4 pos yang mengarah ke makam, duduk di pohon dewandaru yang dipercaya sakral dan magis, mandi di air sumber, dan selametan.

Ritual yang ada di Gunung Kawi pada sebagian besar pengunjung sana, tanpa terkecuali orang muslim memaknai sebagai ritual yang dipercaya dalam rangka untuk memperoleh berkah atau minta perlindungan dari bencana atau juga untuk menangkal pengaruh buruk dari daya kekuatan gaib yang tidak dikehendaki yang akan membahayakan bagi kelangsungan kehidupan manusia.

Ritual-ritual tersebut tidak lepas dari kepercayaan Kejawen, Sehingga disini peneliti ingin mengetahui bagaimana kepercayaan kejawen mempengaruhi agama khususnya agama islam, bagaimana masyarakat atau pengunjung khususnya orang muslim mempercayai ritual tersebut dan sejauh apa mereka mempraktekkan apa yang mereka percayai, dll. Sehingga berdasarkan rasa ingin tahu yang tinggi disamping juga tugas salah satu mata kuliah Metode Penelitian, Peneliti melakukan penelitian dengan terjun langsung ke Gunung Kawi untuk mengamati fenomena yang terjadi disana berdasarkan apa yang telah menjadi spesifikasi tujuan pengamatan peneliti.

 

1.2.   Rumusan Masalah

  1. Apa pengertian dari kepercayaan Kejawen dan ritual?
  2. Apa pengertian dari agama Islam?
  3. Bagaimana hubungan antara kepercayaan kejawen dalam ritual Gunung Kawi dengan agama Islam?
  4. Apa saja yang mempengaruhi kepercayaan pengunjung muslim terhadap ritual Gunung Kawi?

 

1.3.   Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk  menjawab rasa ingin tahu peneliti akan fenomena yang terjadi di Gunung Kawi dan juga untuk menyelesaikan tugas Mata Kuliah Metode Penelitian.

 

 

 

 

 

1.4.   Manfaat Penelitian

Ada dua bentuk kemanfaatan yang bisa diambil dalam laporan penelitian kali ini:

Secara Teoritik

Secara teoritik laporan penelitian kali ini memungkinkan bisa dijadikan tolak ukur, referensi pada kajian yang memiliki kesamaan bahasan atau bahkan kajian ulang dalam rangka pembenahan atas segala bentuk kekurangan yang tereduksi dalam kajian ini, yang selanjutnya untuk diadakan penyempurnaan dengan pengkajian yang cukup komprehensif, sekaligus dalam rangka pengembangan pemikiran secara akademik.

Secara Praktis

Ketika hasil penelitian ini memiliki akurasi dan juga memiliki tingkat kebenaran yang secara rasional atau secara esensial bisa diterima oleh banyak kalangan, baik kalangan akademisi maupun masyarakat umum, maka tidaklah keliru untuk menjadikan penulisan laporan ini tidak hanya sebagai tugas kuliah atau literatur akademis saja, namun juga sebagai pengetahuan umum akan fenomena yang ada di gunung kawi, baik kepercayaan kejawennya, ritual yang dilakukan, islam kejawenya dan lain-lain.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

 

2.1. Kepercayaan Kejawen

2.1.1. Kejawen

Kejawen adalah sebuah kepercayaan atau mungkin boleh dikatakan agama yang terutama dianut di pulau Jawa oleh suku Jawa dan suku bangsa lainnya yang menetap di Jawa.

Etimologi

Kata “Kejawen” berasal dari kata Jawa, sebagai kata benda yang memiliki arti dalam bahasa Indonesia yaitu segala yg berhubungan dengan adat dan kepercayaan Jawa (Kejawaan). Penamaan “kejawen” bersifat umum, biasanya karena bahasa pengantar ibadahnya menggunakan bahasa Jawa. Dalam konteks umum, kejawen merupakan bagian dari agama lokal Indonesia. Seorang ahli antropologi Amerika Serikat, Clifford Geertz pernah menulis tentang agama ini dalam bukunya yang ternama The Religion of Java atau dalam bahasa lain, Kejawen disebut “Agami Jawi”.

Kejawen dalam opini umum berisikan tentang seni, budaya, tradisi, ritual, sikap serta filosofi orang-orang Jawa. Kejawen juga memiliki arti spiritualistis atau spiritualistis suku Jawa. Penganut ajaran kejawen biasanya tidak menganggap ajarannya sebagai agama dalam pengertian seperti agama monoteistik, seperti Islam atau Kristen, tetapi lebih melihatnya sebagai seperangkat cara pandang dan nilai-nilai yang dibarengi dengan sejumlah laku (mirip dengan “ibadah”). Ajaran kejawen biasanya tidak terpaku pada aturan yang ketat, dan menekankan pada konsep “keseimbangan”. Dalam pandangan demikian, kejawen memiliki kemiripan dengan Konfusianisme atau Taoisme, namun tidak sama pada ajaran-ajarannya. Hampir tidak ada kegiatan perluasan ajaran (misi) namun pembinaan dilakukan secara rutin.

Simbol-simbol “laku” biasanya melibatkan benda-benda yang diambil dari tradisi yang dianggap asli Jawa, seperti keris, wayang, pembacaan mantera, penggunaan bunga-bunga tertentu yang memiliki arti simbolik, dan sebagainya. Akibatnya banyak orang (termasuk penghayat kejawen sendiri) yang dengan mudah mengasosiasikan kejawen dengan praktek klenik dan perdukunan.

Ajaran-ajaran kejawen bervariasi, dan sejumlah aliran dapat mengadopsi ajaran agama pendatang, baik Hindu, Buddha, Islam, maupun Kristen. Gejala sinkretisme ini sendiri dipandang bukan sesuatu yang aneh karena dianggap memperkaya cara pandang terhadap tantangan perubahan zaman.

 

2.1.1. Kepercayaan

Kepercayaan adalah kemauan seseorang untuk bertumpu pada orang lain dimana kita memiliki keyakinan padanya. Kepercayaan merupakan kondisi mental yang didasarkan oleh situasi seseorang dan konteks sosialnya. Ketika seseorang mengambil suatu keputusan, ia akan lebih memilih keputusan berdasarkan pilihan dari orang- orang yang lebih dapat ia percaya dari pada yang kurang dipercayai (Moorman, 1993).

Menurut Rousseau et al (1998), kepercayaan adalah wilayah psikologis yang merupakan perhatian untuk menerima apa adanya berdasarkan harapan terhadap perilaku yang baik dari orang lain.

Menurut Ba dan Pavlou (2002) mendefinisikan kepercayaan sebagai penilaian hubungan seseorang dengan orang lain yang akan melakukan transaksi tertentu sesuai  dengan harapan  dalam sebuah  lingkungan yang penuh ketidakpastian. Kepercayaan terjadi ketika seseorang yakin dengan reliabilitas dan integritas dari orang yang dipercaya (Morgan & Hunt, 1994).

Das dan Teng (1998) memberikan definisi atau pengertian kepercayaan (trust) sebagai derajat di mana seseorang yang percaya menaruh sikap positif terhadap keinginan baik dan keandalan orang lain yang dipercayanya di dalam situasi yang berubah ubah dan beresiko.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa kepercayaan kejawen adalah merupakan kondisi mental yang didasarkan oleh situasi seseorang dan konteks sosialnya di jawa, dimana seseorang mempercayai segala yg berhubungan dengan adat dan kepercayaan Jawa (Kejawaan).

Kepercayaan merupakan salah satu dari komponen sikap. Komponen sikap lainnya, diantaranya:

  1. Kognitif (kepercayaan/keyakinan)
  2. Afektif  (kehidupan emosional)
  3. Konatif (kecenderungan orang untuk bertindak)

 

Kepercayaan seringkali dihubungkan dengan agama, kepercayaan agama, sesuatu yang berhubungan dengan yang ghaib, atau makhluk halus, dan selainnya. Misalnya saja agama islam, agama hindhu, agama budha, islam kejawen, semuanya menjadi bahasan yang sering ketika memasuki pembahasan masalah kepercayaan. Kepercayaan dalam komponen sikap yang sudah dijelaskan sebelumnya, merupakan jenis kognitif (pemahaman), sehingga ketika ingin mengetahui proses munculnya kepercayaan, sama halnya dengan munculnya pemahaman seseorang. Yakni secara umum, adanya sosialisasi nilai, adanya stimulus yang mempengaruhi pandangan. Ketika stimulus ini semakin sering diterima oleh seseorang, maka lama-kelamaan akan terinternalisasi, atau juga ketika hanya satu kali stimulus namun merupakan suatu hal yang sangat sesuai dengan individu tersebut, maka akan langsung di-iya-kan dan akhirnya dipercayai/diyakini untuk menjadi kepercayaan.

Kepercayaan merupakan salah satu variabel yang berpengaruh pada terbentuknya perilaku, baik perilaku individu maupun masyarakat. Variabel pembentuk perilaku selainnya yakni value dan norma. Kepercayaan adalah keyakinan yang dianut oleh seseorang, dengan adanya kepercayaan itu, maka berpengaruh pada perilaku yang dilakukan oleh seseorang tersebut. Mengingat bahwa sesuatu yang diimani, pastinya akan menuntut sebuah perilaku. Ketika mempercayai sesuatu, maka perilaku harus sesuai dengan kepercayaan tersebut. Sehingga, kepercayaan yang dimiliki oleh seseorang, akan sangat berpengaruh pada terbentuknya perilaku. Semua perilaku yang dijalankan akan diusahakan sesuai dengan kepercayaan tersebut, jika tidak sesuai, maka akan menimbulkan kekhawatiran tersendiri bagi individu tersebut.

 

2.2.  Ritual

2.2.1. Pengertian Ritual

Pengertian ritual menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Tim Penyusun, 2001 : 959) adalah hal ihwal  ritus atau tata cara dalam upacara keagamaan. Upacara ritual atau ceremony adalah sistem atau rangkaian tindakan yang ditata oleh adat atau hukum yang berlaku dalam masyarakat yang berhubungan dengan berbagai macam peristiwa yang biasanya terjadi dalam masyarakat yang bersangkutan (Koentjaraningrat, 1990 : 190)

Dalam kajian antropologi agama, Victor Turner memberikan definisi ritual, menurut Turner ritual dapat diartikan sebagai perilaku tertentu yang bersifat formal, dilakukan dalam waktu tertentu secara berkala, bukan sekedar sebagai rutinitas yang bersifat teknis, melainkan menunjuk pada tindakan yang didasari oleh keyakinan religius terhadap kekuasaan atau kekuatan-kekuatan mistis.

Dalam analisis Djamari (1993: 36), ritual ditinjau dari dua segi: tujuan (makna) dan cara. Dari segi tujuan, ada ritual yang tujuan¬nya bersyukur kepada Tuhan; ada ritual yang tujuannya mendekatkan diri kepada Tuhan agar mendapatkan keselamatan dan rahmat; dan ada yang tujuannya meminta ampun atas kesalahan yang dilakukan. Adapun dari segi cara, ritual dapat dibedakan menjadi dua: individual dan kolektif. Sebagian ritual dilakukan secara perorangan, bahkan ada yang dilakukan dengan mengisolasi diri dari keramaian, seperti meditasi, bertapa, dan yoga. Ada pula ritual yang dilakukan secara kolektif (umum), seperti khotbah, salat berjamaah, dan haji.

George Homans (Djamari, 1993: 38) menunjukkan hubungan antara ritual dan kecemasan. Menurut Homans, ritual berawal dari kecemasan. Dari segi tingkatannya, ia membagi kecemasan menjadi: kecemasan yang bersifat “sangat”, yang ia sebut kecemasan primer; dan kecemasan yang biasa, yang ia sebut kecemasan sekunder.
Selanjutnya, Homans menjelaskan bahwa kecemasan primer melahirkan ritual primer; dan kecemasan sekunder melahirkan ritual sekunder. Oleh karena itu, ia mendefinisikan ritual primer sebagai upacara yang bertujuan mengatasi kecemasan meskipun tidak langsung berpengaruh terhadap tercapainya tujuan- dan ritual sekunder sebagai upacara penyucian untuk kompensasi kemungkinan kekeliruan atau kekurangan dalam ritual primer.
Berbeda dengan Homans, C. Anthony Wallace (Djamari, 1993: 39) meninjau ritual dari segi jangkauannya, yakni sebagai berikut.

  1. Ritual sebagai teknologi, seperti upacara yang berhubungan dengan kegiatan pertanian dan perburuan.
  2. Ritual sebagai terapi, seperti upacara untuk mengobati dan mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.
  3. Ritual sebagai ideologis -mitos dan ritual tergabung untuk mengendalikan suasana perasaan hati, nilai, sentimen, dan perilaku untuk kelompok yang baik. Misalnya, upacara inisiasi yang merupakan konfirmasi kelompok terhadap status, hak, dan tanggung jawab yang baru.
  4. Ritual sebagai penyelamatan (salvation), misalnya seseorang yang mempunyai pengalaman mistikal, seolah-olah menjadi orang baru; ia berhubungan dengan kosmos yang juga mempengaruhi hubungan dengan dunia profan.
  5. Ritual sebagai revitalisasi (penguatan atau penghidupan kembali). Ritual ini sama dengan ritual salvation yang bertujuan untuk penyelamatan tetapi fokusnya masyarakat.

 

2.2.2. Ritual Kejawen Di Gunung Kawi

Pengertian dari ritual kejawen adalah ritual yang didasarkan pada kepercayaan kejawen atau kepercayaan yang ada di budaya jawa. Ritual kejawen yang terdapat di Gunung Kawi yaitu:

  1. Ritual keliling pesarehan yaitu berjalan keliling makam dalam jumlah ganjil, ketika melewati setiap pintu, mereka berhenti sejenak didepannya untuk memanjatkan doaa-doa, lalu melanjutkan berjalan keliling makam.
  2. Ritual selamatan yaitu ritual yang dilakukan dalam bentuk selamatan berupa selamatan ayam, kambing, dll
  3. Ritual nyekar dengan membawa sesaji dan uang sumbangan
  4. Ritual duduk di dewandaru
  5. Ritual mandi di air sumber untuk pembersihan

 

2.3.   Agama Islam

2.3.1. Pengertian Islam

Dari segi kebahasaan, Islam berasal dari bahasa Arab yaitu dari kata salima yang mengandung arti selamat, sentosa, dan damai. Dari kata salima selanjutnya diubah menjadi bentuk aslama yang berarti berserah diri masuk dalam kedamaian. Oleh sebab itu orang yang berserah diri, patuh, dan taat kepada Allah swt. disebut sebagai orang Muslim. Dari uraian tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa kata Islam dari segi kebahasaan mengandung arti patuh, tunduk, taat, dan berserah diri kepada Allah swt. dalam upaya mencari keselamatan dan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Hal itu dilakukan atas kesadaran dan kemauan diri sendiri, bukan paksaan atau berpura-pura, melainkan sebagai panggilan dari fitrah dirinya sebagai makhluk yang sejak dalam kandungan telah menyatakan patuh dan tunduk kepada Allah.

Adapun pengertian Islam dari segi istilah, banyak para ahli yang mendefinisikannya; di antaranya Prof. Dr. Harun Nasution. Ia mengatakan bahwa Islam menurut istilah (Islam sebagai agama) adalah agama yang ajaran-ajarannya diwahyukan Tuhan kepada masyarakat manusia melalui Nabi Muhammad saw. sebagai Rasul. Islam pada hakikatnya membawa ajaran-ajaran yang bukan hanya mengenal satu segi, tetapi menganal berbagai segi dari kehidupan manusia.

Sementara itu Maulana Muhammad Ali mengatakan bahwa Islam adalah agama perdamaian; dan dua ajaran pokoknya, yaitu keesaan Allah dan kesatuan atau persaudaraan umat manusia menjadi bukti nyata bahwa agama Islam selaras benar dengan namanya. Islam bukan saja dikatakan sebagai agama seluruh Nabi Allah, sebagaimana tersebut dalam Al Qur’an, melainkan pula pada segala sesuatu yang secara tak sadar tunduk sepenuhnya pada undang-undang Allah.

 

2.3.1. Pengertian Agama Islam

Kata Islam, berasal dari kata ‘as la ma – yus li mu – Is la man’ artinya, tunduk, patuh, menyerahkan diri. Kata Islam terambil dari kata dasar sa la ma atau sa li ma yang artinya selamat, sejahtera, tidak cacat, tidak tercela. Dari akar kata sa la ma itu juga terbentuk kata salmun, silmun artinya damai patuh dan menyerahkan diri. Sedangkan kata agama, menurut bahasa Al-Qur’an banyak digunakan katadin.

Din dalam bahasa Smit berarti Undang-undang atau hukum. Dalam Al-Qur’an kata din mempunyai arti berarti “agama” dalam surat Al-Fath 28 di sebutkan:

“Dialah yang mengutus rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang hak agar di menangkan-Nya terhadapsemuaagama, Dan cukuplah Allahsebagaisaksi”

Kedua kata tersebut din dan Islam bila digabungkan menjadi DinulIslam yang biasa juga dipakai istilah Agama Islam. Agama Islam menurut terminologi banyak disampaikan oleh para ulama dan cendikiawan, antara lain dikutipkan di sini menurut Abullah Al-Masdoosi (cenikiawan muslim asal Pakistan) yang dikutip Endang Saifuddin Anshari :”menurut pandangan Islam, agama ialah kaidah hidup yang diturunkan kepada ummat manusia, sejak manusia digelar ke atas buana ini, dan terbina dalam bentuknya yang terakhir dan sempurna dalam Al-Qur’an yang suci yang diwahyukan Allah kepada Nabi-Nya yang terakhir yakni Muhammad bin Abdullah sebagai Rasulullah SAW., satu kaidah hidup yang memuat tuntunan yang jelas dan lengkap mengenai aspek hidup manusia baik spiritual maupun material.

Pada dasarnya agama Islam terdiri dari tiga unsur pokok yaitu iman, islam dan ihsan, meskipun ketiganya mempunyai pengertian yang berbeda tetapi dalam praktek satu sama lain saling terkait dan tidak dapat dipisahkan.

  1. Iman artinya membenarkan dengan hati, mengucapkan dalam perkataan dan merealisasikan dalam perbuatan akan adanya Allah Swt, dengan segala Kemaha sempurnaan-Nya, para Malaikat, Kitab-kitab Allah, para Nabi dan Rasul, hari akhir serta Qadha dan Qadhar.
  2. Islam artinya taat, tunduk, patuh dan menyerahkan diri dari segala ketentuan yang telah di tetapkan Allah Swt. Yang terdiri atas Syahadatain (dua kalimat Syahadat), Shalat, Puasa, Zakat dan Haji bagi yang mampu.
  3. Ihsan artinya berakhlak serta berbuat shalih sehingga dalam melaksanakan ibadah kepada Allah dan bermuamalah (interaksi) dengan sesama makhluk dilaksanakan dengan penuh keikhlasan seakan-akan Allah menyaksikan gerak-geriknya sepanjang waktu meskipun ia sendiri tidak melihatnya.

 

2.3.3. Pengertian Ritual Menurut Psikologi Islam

Salah satu aspek dari kehidupan beragama adalah bahwa agama mengandung usur ajaran yang disebut ritual (rites), ibadat, atau upacara keagamaan tertentu yang harus dilakukan oleh penganutnya, seperti menyembah Tuhan, berdo’a, berkorban, tawaf, dan lain sebagainya. Adanya ibadat atau ritual ini juga merupakan kelanjutan dari kepercayaan kepada hal-hal yang sakral. Kepercayaan kepada yang sakral menghendaki sikap tertentu dan melarang melakukan pantangan tertentu. Tuhan sebagai yang Maha suci harus disembah dalam berbagai kesempatan. Kitab suci Al-Qur’an harus dibaca secara rutin dan dipelajari isinya dengan penuh kesadaran.

Ritual dalam Islam yang terinklud dalam pilar-pilar Iman dan Islam, serta berkembang dalam ritus popular atau local, semuanya merupakan prilaku yang terstruktur dan bermakna dalam budaya Islam. 

Tidak heran jika upaya pemeliharaan terhadap ritual keagamaan ini perlu mendapat perhatian khusus. Agama sebagai sumber system nilai merupkan pedoman dan pendorong bagi manusia untuk memecahkan berbagai masalah hidupnya, tentu pada prilaku manusia yang menunjukan pada keridhaan Allah. Agama Islam adalah agama yang mengandung ketentuan-ketentuan keimanan (akidah), ibadah, mu’amalah (syari’ah) yang menentukan proses berfikir, berbuat, dan proses terbentuknya kata hati.

Ritual agama tentu memiliki ciri dan kekhasan tersendiri dari agama yang lainnya. Bentuk ritual yang berbeda inipun dalam perkembangannya memerlukan sikap dan nilai etika dalam hal menyikapi kekhasan masing-masing ritual agam-agama. Menurut Haryatmoko, Masalah kekhasan suatu agama tidak identik sama sekali dengan superioritasnya. Hendaknya tidak mencampur adukkan masalah kebenaran dengan masalah superioritas. Permasalahan utama ialah identitas khas (ritual) suatu agama, yang tetap menghormati identitas religious yang lain. Perbedaan agama menjadi tantangan untuk dijawab.Dari sinilah tampak bahwa ritual yang bersarang sebagai aspek penting dalam agama tentu memerlukan responsibility internal dan eksternal, baik individual maupun kelompok.

Sehingga secara umum, ritual dalam Islam dapat dibedakan menjadi dua: ritual yang mempunyai dalil yang tegas dan eksplisit dalam A1-Quran dan Sunnah; dan ritual yang tidak memiliki dalil, baik dalam Al-Quran maupun dalam Sunnah. Salah satu contoh ritual bentuk pertama adalah shalat. Sedangkan contoh ritual kedua adalah marhabaan, peringatan hari (bulan) kelahiran Nabi Muhammad Saw (rnuludan, Sunda), dan tahlil yang dilakukan keluarga ketika salah satu anggota keluarganya menunaikan ibadah haji atau meninggal dunia.

Dari segi tujuan, ritual Islam dapat dibedakan menjadi dua pula, yaitu ritual yang bertujuan mendapatkan ridla Allah semata dan balasan yang ingin dicapai adalah kebahagiaan ukhrawi; dan ritual yang bertujuan mendapatkan balasan di dunia ini, misalnya shalat istisqa, yang dilaksanakan untuk memohon kepada Allah agar berkenan menakdirkan turun hujan.
Dengan meminjam pembagian ritual menurut sosiolog (yang dalam tulisan ini diambil dari Homans), ritual dalam Islam juga dapat dibagi menjadi dua: ritual primer dan ritual sekunder.
Ritual primer adalah ritual yang merupakan kewajiban sebagai pemeluk Islam. Umpamanya, kewajiban melakukan salat Jumat bagi Muslim laki-laki. Di sebagian masyarakat Indonesia, terdapat kebiasaan salat i’adah, yaitu salat zuhur yang dilakukan secara berjamaah setelah salat Jumat.

2.4. Teori Representasi Sosial

Representasi sosial sebagai mempelajari hubungan yang terjadi antara pikiran awal atau pengetahuan yang bersifat opini umum dan pengetahuan keilmuan; menjelaskan proses terjadinya pemikiran sosial; pembiasaan akan hal-hal baru dan pemahaman kebaruan tersebut berdasarkan pengalaman sosial yang berfungsi suatu pandangan fungsional yang membiarkan individu atau kelompok memberikan makna atau arti terhadap tindakan yang dilakukannya, untuk mengerti suatu realita kehidupan sesuai dengan referensi yang mereka miliki, dan untuk beradaptasi terhadap realitas tersebut (Abric, 1976). Representasi sosial terdiri dari elemen informasi, keyakinan, pendapat, dan sikap tentang suatu obyek. Bagian-bagian ini terorganisasi dan terstruktur sehingga kemudian menjadi sistem sosial-kognitif seseorang.

Teori yang dikembangkan oleh Moscovici ini memiliki beberapa tujuan, yakni untuk mengarahkan perilaku. Paradigma utama merujuk pada dua proses besar pembentukan representasi sosial : obyektivasi (objectification) yang menjelaskan intervensi kelompok-kelompok social (norma, nilai, kode, dll, yang ikut campur sebagai meta-sistem yang mengatur proses kognitif) serta kendala-kendala komunikasi dalam penyeleksian dan pengaturan unsur-unsur representasi di satu pihak, dan pengakaran (anchoring) yang menjelaskan pengintegrasian informasi-informasi baru ke dalam sistem pengetahuan dan pemaknaan yang sudah ada, di lain pihak. Proses itu menjelaskan juga cara elemen-elemen tersebut diperkenalkan kembali,sebagai instrumen operasional, dalam interpretasi terhadap situasi dunia dan dalam interaksi dengan orang lain.

Paradigma ini juga menyediakan instrumen konseptual untuk analisis representasi social seperti hasil yang terbentuk, maksudnya pengaturan isi (yang merupakan ide, imajinasi, dan simbol), dikenali dalam berbagai pendukung (produksi diskursus atau ikon, peralatan materi, dan praktik secara individual atau kolektif) dan/atau yang beredar dalam masyarakat, melalui berbagai saluran komunikasi (percakapan, media, dan institusi).

Di dalamnya ada tiga dimensi (informasi, sikap, dan ranah representasi, yang mencakup gambaran, ekspresi nilai-nilai, kepercayaan, dan opini, dll). Dalam hal pembentukan isi yang berhubungan dengan komunikasi sosial yang langsung, 3 faktor (penyebaran dan kesenjangan informasi yang bisa berupa penundaan atau ketidakberfokusan, tekanan dalam inferensi seperti berkesimpulan sendiri bagi penutur, serta kepentingan penutur dan implikasinya pada komunikasi) akan mempengaruhi aspek-aspek kognitif dalam representasi dan membedakan pemikiran awam dalam pola penalarannya, logikanya, dan gayanya. Dalam hal komunikasi media terjadi efek-efek yang disebabkan oleh upaya untuk menarik perhatian publik, akan secara berbeda-beda mempengaruhi pembentukan sikap dan perilaku: dan propaganda yang bersifat stereotip. Perkembangan terakhir teori Moscovici, menekankan pembedaan antara tipe-tipe pemikiran (magis, ilmiah, ideologis); peran thêmata, struktur-struktur biner yang mapan, yang mendukung pembentukan representasi-representasi baru; dasar subyektif dari representasi sosial dan cara menarik pengikut yang menjadi obyeknya pada saat representasi sosial telah berakar di dalam sejarah kebudayaan dalam bentuk kepercayaan.

 

2.5. Teori Hirarki Kebutuhan

Kebutuhan dapat didefinisikan sebagai suatu kesenjangan atau pertentangan yang dialami antara satu kenyataan dengan dorongan yang ada dalam diri. Menurut Abraham Maslow manusia mempunyai lima kebutuhan yang membentuk tingkatan-tingkatan atau disebut juga hirarki dari yang paling penting hingga yang tidak penting dan dari yang mudah hingga yang sulit untuk dicapai atau didapat. Motivasi manusia sangat dipengaruhi oleh kebutuhan mendasar yang perlu dipenuhi.

Kebutuhan maslow harus memenuhi kebutuhan yang paling penting dahulu kemudian meningkat ke yang tidak terlalu penting. Untuk dapat merasakan nikmat suatu tingkat kebutuhan perlu dipuaskan dahulu kebutuhan yang berada pada tingkat di bawahnya.
Lima (5) kebutuhan dasar Maslow – disusun berdasarkan kebutuhan yang paling penting hingga yang tidak terlalu krusial :

  1. 1.      Kebutuhan Fisiologis. Kebutuhan fisiologis adalah kebutuhan manusia yang paling mendasar untuk mempertahankan hidupnya secara fisik, yaitu kebutuhan akan makanan, minuman, tempat tinggal, seks, tidur, istirahat, dan udara. Seseorang yang mengalami kekurangan makanan, harga diri, dan cinta, pertama-tama akan mencari makanan terlebih dahulu. Bagi orang yang berada dalam keadaan lapar berat dan membahayakan, tak ada minat lain kecuali makanan. Bagi masyarakat sejahtera jenis-jenis kebutuhan ini umumnya telah terpenuhi. Ketika kebutuhan dasar ini terpuaskan, dengan segera kebutuhan-kebutuhan lain (yang lebih tinggi tingkatnya) akan muncul dan mendominasi perilaku manusia.
  2. 2.      Kebutuhan Keamanan dan Keselamatan. Segera setelah kebutuhan dasariah terpuaskan, muncullah apa yang digambarkan Maslow sebagai kebutuhan akan rasa aman atau keselamatan. Kebutuhan ini menampilkan diri dalam kategori kebutuhan akan kemantapan, perlindungan, kebebasan dari rasa takut, cemas dan kekalutan; kebutuhan akan struktur, ketertiban, hukum, batas-batas, dan sebagainya. Kebutuhan ini dapat kita amati pada seorang anak. Biasanya seorang anak membutuhkan suatu dunia atau lingkungan yang dapat diramalkan. Seorang anak menyukai konsistensi dan kerutinan sampai batas-batas tertentu. Jika hal-hal itu tidak ditemukan maka ia akan menjadi cemas dan merasa tidak aman. Orang yang merasa tidak aman memiliki kebutuhan akan keteraturan dan stabilitas serta akan berusaha keras menghindari hal-hal yang bersifat asing dan tidak diharapkan.
  3. 3.      Kebutuhan Sosial. Setelah terpuaskan kebutuhan akan rasa aman, maka kebutuhan sosial yang mencakup kebutuhan akan rasa memiliki-dimiliki, saling percaya, cinta, dan kasih sayang akan menjadi motivator penting bagi perilaku. Pada tingkat kebutuhan ini, dan belum pernah sebelumnya, orang akan sangat merasakan tiadanya sahabat, kekasih, isteri, suami, atau anak-anak. Ia haus akan relasi yang penuh arti dan penuh kasih dengan orang lain pada umumnya. Ia membutuhkan terutama tempat (peranan) di tengah kelompok atau lingkungannya, dan akan berusaha keras untuk mencapai dan mempertahankannya. Orang di posisi kebutuhan ini bahkan mungkin telah lupa bahwa tatkala masih memuaskan kebutuhan akan makanan, ia pernah meremehkan cinta sebagai hal yang tidak nyata, tidak perlu, dan tidak penting. Sekarang ia akan sangat merasakan perihnya rasa kesepian itu, pengucilan sosial, penolakan, tiadanya keramahan, dan keadaan yang tak menentu.
  4. 4.      Kebutuhan Penghargaan. Menurut Maslow, semua orang dalam masyarakat (kecuali beberapa kasus yang patologis) mempunyai kebutuhan atau menginginkan penilaian terhadap dirinya yang mantap, mempunyai dasar yang kuat, dan biasanya bermutu tinggi, akan rasa hormat diri atau harga diri. Karenanya, Maslow membedakan kebutuhan ini menjadi kebutuhan akan penghargaan secara internal dan eksternal. Yang pertama (internal) mencakup kebutuhan akan harga diri, kepercayaan diri, kompetensi, penguasaan, kecukupan, prestasi, ketidaktergantungan, dan kebebasan (kemerdekaan). Yang kedua (eksternal) menyangkut penghargaan dari orang lain, prestise, pengakuan, penerimaan, ketenaran, martabat, perhatian, kedudukan, apresiasi atau nama baik. Orang yang memiliki cukup harga diri akan lebih percaya diri. Dengan demikian ia akan lebih berpotensi dan produktif. Sebaliknya harga diri yang kurang akan menyebabkan rasa rendah diri, rasa tidak berdaya, bahkan rasa putus asa serta perilaku yang neurotik. Kebebasan atau kemerdekaan pada tingkat kebutuhan ini adalah kebutuhan akan rasa ketidakterikatan oleh hal-hal yang menghambat perwujudan diri. Kebutuhan ini tidak bisa ditukar dengan sebungkus nasi goreng atau sejumlah uang karena kebutuhan akan hal-hal itu telah terpuaskan.
  5. 5.      Kebutuhan Akutualisasi Diri (Self Actualization) Setiap orang ingin mengembangkan kapasitas kerjanya dengan baik. Hal ini merupakan kebutuhan untuk mewujudkan segala kemampuan (kebolehannya) dan seringkali nampak pada hal-hal yang sesuai untuk mencapai citra dan cita diri seseorang. Dalam motivasi kerja pada tingkat ini diperlukan kemampuan manajemen untuk dapat mensinkronisasikan antara cita diri dan cita organisasi untuk dapat melahirkan hasil produktivitas organisasi yang lebih tinggi.

 

2.5. Kerangka Pemikiran

                                      Kepercayaan Kejawen

Kepercayaan                                                                      Proses Kognitif          Perilaku Ritual

                                       Kepercayaan Islam

Motivasi

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

METODELOGI PENELITIAN

 

3.1.   Metode Penelitian

Metode penelitian yang digunakan peneliti adalah metode penelitian kualitatif. Metode penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat postpositivisme, digunakan untuk meneliti pada kondisi objek yang alamiah, dimana peneliti adalah instrument kunci. Hasil dari penelitian kualitatif lebih menekankan makna. Denzin dan Lincoln (Moleong, 2007:5), metode penelitian kualitatif merupakan penelitian yang menggunakan latar alamiah, dengan maksud menafsirkan fenomena yang terjadi. Dengan berbagai karakteristik khas yang dimiliki, penelitian kualitatif memiliki keunikan tersendiri sehingga berbeda dengan penelitian kuantitatif.

 

3.2.  Subjek Penelitian

Subjek dari penelitian ini adalah pengunjung gunung kawi yang peneliti spesifikasikan pada pengunjung muslim. Sehingga pengambilan subjek, peneliti menggunakan purposive sampling, yaitu menentukan subjek/objek sesuai dengan tujuan.

 

3.3.   Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian yang dilakukan peneliti bertempat di Gunung Kawi, kecamatan Wonosari, kabupaten Malang, Jawa Timur.

 

3.4.   Teknik Pengumpulan Data

  1. Observasi

Observasi atau pengamatan merupakan suatu teknik atau cara mengumpulkan data dengan jalan mengadakan pengamatan terhadap kegiatan yang sedang berlangsung. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan observasi dalam bentuk observasi partisipan, dimana dalam observasi ini peneliti ikut berpartisipasi dengan terjun secara langsung apa yang dilakukan oleh subjek. Susan Stainback (1988) menyatakan “In participant observation, the researcher observes what their activities”. Dalam observasi partisipatif, peneliti mengamati apa yang dikerjakan orang, mendengarkan apa yang mereka ucapkan, dan berpatisipasi dalam aktivitas mereka.

  1. Wawancara

Wawancara adalah proses pengumpulan data atau informasi melalui tatap muka antara pihak penanya (interviewer) dengan pihak yang ditanya atau penjawab (interviewee). Wawancara yang dilakukan oleh peneliti adalah dengan wawancara mendalam yang dilakukan dalam konteks observasi partisipasi. Wawancara mendalam adalah suatu proses mendapatkan informasi untuk kepentingan penelitian dengan cara dialog antara peneliti dengan yang diteliti.

 

3.5.   Validity

Uji keabsahan berdasarkan ketepatan antara data yang terjadi pada objek penelitian dengan daya yang dilaporkan oleh peneliti ditunjukkan dengan memastikan ketepatan validitas, yang terdiri dari reflective validity, ironic validity, neo-pragmatic validity, rhizomatic validity, dan situated validity.

 

3.6.   Reliability

Uji keabsahan berdasarkan dengan derajad kekonsistenan dan stabilitas data atau temuan juga ditunjukkan oleh peneliti dengan berdasarkan kondisi di lapangan (Quixotic Reliability), terdapat sumber yang jelas berupa buku sejarah (Diachronic Reliability), dan mengacu pada kesuaian data (Synchronic Reliability).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV

PEMBAHASAN

 

4.1.   Hubungan Antara Kepercayaan Kejawen Dalam Ritual Gunung Kawi Dengan Agama Islam

Di dalam ritual gunung kawi tidak terlepas dari kepercayaan kejawen (kepercayaan Jawa). Ritual yang terdapat di gunung kawi seperti ritual keliling pesarean dalam jumlah ganjil, selamatan, nyekar, duduk di pohon dewandaru, mandi di air sumber merupakan bentuk-bentuk ritual yang melekat dengan kebudayaan jawa.

Pada fenomena yang dapat dilihat di dalam Gunung Kawi banyak terdapat pengunjung muslim yang datang kesana baik untuk berziarah maupun juga melakukan ritual-ritual yang terdapat di sana. Berdasarkan analisa fakta yang ada di sana, terdapat hubungan antara kepercayaan kejawen dalam ritual gunung kawi dengan agama islam.

Jika dikaitkan dengan sejarah penyebaran islam. Penyebaran islam di pulau Jawa memang berbeda dengan pulau lainya. Pada penyebaran islam di pulau ini menggunkanan perantara budaya sebagai sarana mediator penyebarannya. Seperti menggunakan wayang, gamelan, dll. Aspek-aspek kepercayaan jawa pun digabungkan ke dalam ibadah islam. Contohnya pada saat dulu islam belum masuk di pulau jawa para penduduk jawa ketika di suatu daerah terdapat orang yang mati, maka akan dilakukan ritual-ritual sesajen, penjagaan roh, dll. Tetapi setelah penyebaran islam memasuki jawa aktivitas tersebut dirubah dengan melakukan tahlilan, selamatan pada 7 hari, 40 hari, 100 hari, dan 1000 harinya.

Dari metode penyebaran agama islam yang sangat terkait dengan media budaya jawa menyebabkan adanya percampuran antara kepercayaan kejawen dengan islam sehingga terjalinnya sebuah hubungan yang akhirnya membentuk islam kejawen. Islam kejawen ini merupakan islam yang sangat dipengaruhi oleh animesme kejawen/ kepercayaan kejawen. Sehingga dalam perilaku ibadahnya juga menggabungkan syariat islam dan budaya jawanya.

Berdasarkan sejarahnya masuknya islam yang menggunakan media budaya jawa ini kita bisa menganalisa mengapa banyak pengunjung muslim yang datang di gunung kawi mereka disana tetap melakukan ritual-ritual gunung kawi yang mengandung kepercayaan kejawen. Hal ini tidak lepas dari faktor pengaruh budaya dimana kita tinggal. Dimana masyarakat jawa tidak serta merta bisa melupakan budaya jawa dalam ritual ibadahnya.

Dalam analisis Djamari (1993: 36), ritual ditinjau dari dua segi: tujuan (makna) dan cara. Dari segi tujuan, ada ritual yang tujuannya bersyukur kepada Tuhan; ada ritual yang tujuannya mendekatkan diri kepada Tuhan agar mendapatkan keselamatan dan rahmat; dan ada yang tujuannya meminta ampun atas kesalahan yang dilakukan. Ritual yang terdapat di Gunung Kawi pun seperti ritual keliling pesarean, nyekar, selametan, duduk di pohon dewandaru menurut anggapan pengunjung juga merupakan bentuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Sehingga dari tujuan tersebut pengunjung muslim di Gunung kawi melakukan ritual-ritual tersebut dengan alasan mendekatkan diri dan mencari rahmat Allah.

Adapun beberapa hal yang menguatkan kepercayaan kejawen dalam ritual-ritual gunung kawi dengan agama islam, yaitu menurut salah satu orang ahli yang berada di Gunung Kawi ritual seperti keliling pesarean dalam jumlah ganjil merupakan adaptasi layaknya thowaf  yang ada di Mekkah. Sehingga ritual tersebut tidak serta merta adaptasi dari kepercayaan kejawen saja.

 

4.2.   Pembentukan Kepercayaan Pengunjung Muslim Terhadap Ritual Gunung Kawi

Kepercayaan dalam komponen sikap yang sudah dijelaskan sebelumnya, merupakan jenis kognitif (pemahaman), sehingga ketika ingin mengetahui proses munculnya kepercayaan, sama halnya dengan munculnya pemahaman seseorang. Yakni secara umum, adanya sosialisasi nilai, adanya stimulus yang mempengaruhi pandangan. Ketika stimulus ini semakin sering diterima oleh seseorang, maka lama-kelamaan akan terinternalisasi, atau juga ketika hanya satu kali stimulus namun merupakan suatu hal yang sangat sesuai dengan individu tersebut, maka akan langsung di-iya-kan dan akhirnya dipercayai/diyakini untuk menjadi kepercayaan.

Kepercayaan merupakan salah satu variabel yang berpengaruh pada terbentuknya perilaku, baik perilaku individu maupun masyarakat. Variabel pembentuk perilaku selainnya yakni value dan norma. Kepercayaan adalah keyakinan yang dianut oleh seseorang, dengan adanya kepercayaan itu, maka berpengaruh pada perilaku yang dilakukan oleh seseorang tersebut. Mengingat bahwa sesuatu yang diimani, pastinya akan menuntut sebuah perilaku. Ketika mempercayai sesuatu, maka perilaku harus sesuai dengan kepercayaan tersebut. Sehingga, kepercayaan yang dimiliki oleh seseorang, akan sangat berpengaruh pada terbentuknya perilaku. Semua perilaku yang dijalankan akan diusahakan sesuai dengan kepercayaan tersebut, jika tidak sesuai, maka akan menimbulkan kekhawatiran tersendiri bagi individu tersebut.

Berdasarkan fenomena yang ada di Gunuung Kawi, sebagain besar para pengunjung Gunung Kawi percaya bahwa aktivitas ritual seperti keliling pesarehan, nyekar, duduk di pohon dewandaru, selamatan merupakan kegiatan yang mendatangkan berkah, kesuksesan, dan keberhasilan dalam hidup. Sehingga tidak sedikit pengunjung gunung kawi khususnya yang muslim datang ke sana dikarenakan ingin mendapat berkah, kesuksesan akibat kehidupan sebelumnya yang gagal atau kurang sukses.

Salah satu bentuk fakta yang terdapat di lapangan menunjukkan bahwa pengunjung percaya dengan ritual-ritual gunung kawi adalah banyaknya pengunjung yang melakukan ritual-ritual tersebut. Hal ini menunjukkan adanya korelasi antara kepercayaan dengan pengarahan perilaku menujun kepercayaan tersebut. Sehingga benar jika pengunjung percaya dengan ritual tersebut sebagai pembewa sukses dan keberkahan, maka dia akan melakukan ritual tersebut.

 

4.2.1.Proses terbentuknya kepercayaan menurut teori representasi sosial

Terbentuknya kepercayaan tidak lepas dari faktor kognitif, dimana individu mengolah secara kognitif informasi yang diberikan, sugesti, pengaruh dari luar untuk di yakini atau dipercayai. Berdasarkan teori representasi sosial yang disampaikan oleh kita bisa melihat bagaimana proses pembentukan kepercayaan para pengunjung gunung kawi khususnya pengunjung muslim yang sangat dipengaruhi oleh sugesti, pengaruh dari luar yang di proses secara kognitif.

Representasi sosial ini  menjelaskan proses terjadinya pemikiran sosial; pembiasaan akan hal-hal baru dan pemahaman kebaruan tersebut berdasarkan pengalaman sosial yang berfungsi suatu pandangan fungsional yang membiarkan individu atau kelompok memberikan makna atau arti terhadap tindakan yang dilakukannya, untuk mengerti suatu realita kehidupan sesuai dengan referensi yang mereka miliki, dan untuk beradaptasi terhadap realitas tersebut (Abric, 1976).

Sesuai dengan data penelitian di gunung kawi, pemahaman pengunjung akan gunung kawi juga sangat mempengaruhi kepercayaan tersebut. Sehingga tindakan yang dilakukan pengunjung kawi seperti melakukan ritual-ritual yang ada dimaknai sebagai usaha dalam mendapat sesuatu, yang tidak lepas dari pengamatan yang dilakukan oleh pengunjung lain disana.

Adapun elemen-elemen terbentuknya  kepercayaan adalah:

 

  1. Elemen informasi

Elemen informasi ini merupakan elemen penting dalam pembentukan kepercayaan. Dimana dalam elemen ini informasi awal dari luar diproses secara kognitif untuk pemberian makna atau interpretasi. Dalam kasus yang ada, pengunjung gunung kawi sebagian yang datang mendapatkan informasi tentang gunung kawi dari teman, keluarga, tetangga, dll yang pernah datang kesana dan mendapatkan keberkahan dalam kehidupan berupa kesusksesan atau kesehatan. Setelah pemberian informasi tersebut dimaksukkan ke dalam proses kognitif berupa internalisasi untuk mendapatkan pemaknaan.

  1. Keyakinan

Setelah individu mendapatkan pemaknaan akan informasi tersebut maka elemen selanjutnya yang penting dalam pembentukan kepercayaan adalah keyakinan. Dalam tahap ini keyakinan akan diperkuat jika individu sudah melakukan sesuatu sesuai dengan informasi yang didapat dan mendapatkan hal positif yang didapat. Hal ini juga yang dilakukan oleh pengunjung di gunung kawi, dimana setelah mereka tertarik akan cerita gunung kawi yang dapat memberikan kesuksesan dan keberkahan. Maka mereka akan datang kesana dan setelah mereka merasakan efek dari datang kesana, maka keyakinan tersebut akan muncul dan diperkuat dengan datang kesana lagi.

  1. Pendapat

Elemen ini merupakan bentuk dari pendapat individu mengenai informasi tertentu. Sesuai dengan data yang ditemui, ketika pengunjung mendapatkan kesuksesan dan keberkahan selama berkunjung di gunung kawi, maka mereka akan memberikan pendapat yang positif akan gunung kawi.

  1. Sikap tentang suatu obyek.

Sikap individu terhadap suatu objek sangat dipengaruhi oleh keyakinan akan suatu informasi tersebut. Sehingga ketika pengunjung muslim gunung kawi percaya akan manfaat datang kesana maka mereka akan menunjukkan sikap pro akan aktivitas ritual di gunung kawi dengan melakukan ritual-ritual tersebut.

 

Bagian-bagian ini terorganisasi dan terstruktur sehingga kemudian menjadi sistem sosial-kognitif seseorang.

 

4.2.2.Pengaruh Motivasi terhadap terbentuknya perilaku ritual dan pengaruhnya dalam kepercayaan

Motivasi seseorang akan suatu hal akan mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu untuk mencapai tujuan tertentu. Pada fenomena yang terdapat di gunung kawi, motivasi seseorang datang kesana khususnya pengunjung muslim adalah karena ingin mendapatkan berkah dan kesuksesan yang merupakan bentuk dari kebutuhan manusia. Berdasarkan teori Hirarki Kebutuhan Abraham Maslow yang terdiri dari:

  1. Kebutuhan Fisiologis. Kebutuhan fisiologis adalah kebutuhan manusia yang paling mendasar untuk mempertahankan hidupnya secara fisik, yaitu kebutuhan akan makanan, minuman, tempat tinggal, seks, tidur, istirahat, dan udara. Salah satu alasan dari pengungjung datang ke gunung kawi adalah untuk sukses dan keberhasilan dalam hidup. Sehingga kebutuhan-kebutuhan dasarnya mereka dapat terpenuhi.
  2. Kebutuhan Keamanan dan Keselamatan. Segera setelah kebutuhan dasariah terpuaskan, muncullah apa yang digambarkan Maslow sebagai kebutuhan akan rasa aman atau keselamatan. Kebutuhan ini menampilkan diri dalam kategori kebutuhan akan kemantapan, perlindungan, kebebasan dari rasa takut, cemas dan kekalutan. Motivasi untuk memenuhi kebutuhan ini juga tampak di pengunjung muslim gunung kawi, dimana mereka datang kesana dikarenakan ingin sehat, jauh dari sakit, serta ingin berhasil dan sukses sehingga jauh dari ketakutan serta kecemasan terhadap kegagalan dan kurangnya sejahtera.
  3. Kebutuhan Sosial. Setelah terpuaskan kebutuhan akan rasa aman, maka kebutuhan sosial yang mencakup kebutuhan akan rasa memiliki-dimiliki, saling percaya, cinta, dan kasih sayang akan menjadi motivator penting bagi perilaku. Kedatangan ke gunung kawi karena ingin mendapatkan jodoh juga tidak lepas dari faktor kebutuhan ini.
  4. Kebutuhan Penghargaan. Menurut Maslow, semua orang dalam masyarakat (kecuali beberapa kasus yang patologis) mempunyai kebutuhan atau menginginkan penilaian terhadap dirinya yang mantap, mempunyai dasar yang kuat, dan biasanya bermutu tinggi, akan rasa hormat diri atau harga diri. Pada pengunjung di gunung kawi motivasi akan pemenuhan kebutuhan penghargaan ini tidak lepas jika seseorang dalam kedudukannya mengalami perubahan kearah yang positif yaitu bertambah sukses, berhasil dalam karir dll, masyarakat sekitar pasti akan memberikan penghargaan terhadap individu tersebut.
  5. Kebutuhan Akutualisasi Diri (Self Actualization) Setiap orang ingin mengembangkan kapasitas kerjanya dengan baik. Hal ini merupakan kebutuhan untuk mewujudkan segala kemampuan (kebolehannya) dan seringkali nampak pada hal-hal yang sesuai untuk mencapai citra dan cita diri seseorang. Aktualisasi diri ini juga tidak lepas dari ingin mendekatkan diri dengan Tuhan. Sehingga pengunjung disana juga beranggapan bahwa dengan datang kesana merupakan salah stu aktivitas yang dapat mendekatkan diri dengan Tuhan.

Berdasarkan kebutuhan-kebutuhan pengunjung muslim di gunung kawi. Maka menyebabkan mereka datang ke gunung kawi dan melakukan ritual-ritual tersebut sebagai salah satu bentuk dari usaha mereka untuk menadapatkan kebutuhan tersebut.

Jika dikaitkan dengan kepercayaan maka seseorang yang memiliki motivasi atau dorongan akan pemenuhan kebutuhan akan percaya dengan segala apapun yang menghantarkan mereka pada pemenuhan kebutuhan tersebut. Sehingga jika seseorang sudah termotivasi dan memiliki kepercayaan maka akan menimbulkan perilaku sesuai dengan kepercayaan dan motivasi mereka dalam pemenuhan kebutuhan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB V

PENUTUP

 

5.1. Kesimpulan

Terdapat hubungan yang saling terkait antara kepercayaan jawa dengan agama islam. Dimana penganut agama islam di jawa tidak terlepas dari ritual-ritual budaya jawa seperti selamatan, nyekar, dll. Kepercayaan yang didapat oleh pengunjung di gunung ini merupakan hasil dari proses kognif yang dikaitkan dengan teori representasi sosial dalam pembentukaanya. Kepercayaan pengunjung akan ritual-ritual gunung yang dapat memberikan keberkahan dan kesuksesan juga menjadikan arahan dalam pembentukan perilaku. Sehingga seseorang akan melakukan sesuatu hal pasti di dasarkan pada kepercayaan bahwa perilaku tersebut sesuai dengan apa yang dia yakini. Motivasi dalam pemenuhan kebutuhan juga merupakan penguat dari perilaku ritual gunung kawi oleh pengunjung muslim.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Satori Djam’an., Komariah Aan. 2011. Metode Penelitian Kualitatif. Alfabeta: bandung

Sugiyono. 2008. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Alfabeta: bandung

Munandar Ashar Sunyoto. 2010. Psikologi Industri dan Organisasi. UI Press: Jakarta

Solso, Robert L., Maclin, Otto H., Maclin M. K. 2007. Psikologi Kognitif. Erlangga: Jakarta

Alwisol. 2009. Psikologi Kepribadian. UMM Press: Malang

Simuh, Islam dan Pergumulan Budaya Jawa, (Jakarta Selatan : Teraju, 2003).

http://wisata.kompasiana.com

http://akhfa14.wordpress.com/2012/02/06/representasi-sosial/

http://kolokiumkpmipb.wordpress.com/tag/representasi-sosial/

http://www.docstoc.com/docs/20428553/LATAR-BELAKANG-TEORETIK-TEORI-REPRESENTASI-SOSIAL

http://kumpulan-teori-skripsi.blogspot.com/2011/09/teori-hirarki-kebutuhan.html

http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2009/11/motivasi-teori-hirarki-kebutuhan-maslow/

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Lampiran

 

 

 

 

 

 

 

 


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s