Tips Anak Agar Mau Mandi…

Writer: Nevita Indayani

Image

Anakku yang berumur 5 tahun, paling susah untuk mandi, setiap kali akan mandi harus dimarahi dulu, tidak bisa dibujuk secara halus, harus saja diberikan iming-iming….. capek rasanya….. Mau dong info pengalamannya dalam hal ini…terima kasih (Selly, IRT).

 

Aktivitas anak dalam keseharian biasanya banyak dilakukan diluar rumah, misalnya bermain bola, main pasir, bersepeda dan berlari-larian yang membuat anak menjadi berkeringat dan tentunya banyak kuman di badannya. Tetapi setelah pulang kerumah anak sangat sulit disuruh untuk mandi dengan seribu alasan untuk menolak untuk mandi. Padahal rutin mandi setidaknya 2 kali sehari pagi dan sore penting untuk kesehatan.

Sebenarnya untuk permasalahan anak yang sulit untuk mandi memang umum dialami oleh anak-anak dan memang butuh kesabaran yang ekstra untuk para orang tua dalam menghadapinya. Untuk mengatasinya orang tua harus mencari tahu hal apa yang membuat anaknya tidak mau mandi. Ada beberapa penyebab yang bisa membuat anak tidak mau atau sulit mandi.Trauma, ada pengalaman yang menyebabkan anak sulit mandi. Salah satunya mungkin karena anak pernah mengalami kejadian yang tidak menyenangkan misalnya saat memakai sabun atau shampo terkena matanya, sehingga anak merasa takut. Rasa kurang nyaman, salah satunya akibat rasa tidak aman tadi yang menyebabkan anak tidak nyaman dan bertahan lama dikamar mandi.

Berikut tips sederhana yang bisa dilakukan orang tua untuk agar anak mau mandi, yaitu:

©       Cari alasan kenapa si anak tidak mau mandi, identifikasi apa yang si anak suka atau tidak suka. Bujuklah anak agar mau mandi dengan menggunakan sesuatu yang disukainya, bisa dengan mainan 

©       Buat aktivitas mandi agar lebih menyenangkan, menjadikan suasana menyenangkan dan aman dikamar mandi, sehingga membuat anak merasa nyaman. Misalnya memberikan mainan yang anak sukai saat mandi dan membiarkan anak mandi di ‘temani’ dengan mainannya atau mencoba hal-hal baru seperti bermain gelembung, boleh juga dicoba dengan bernyayi bersama saat mandi 

©       Secara perlahan anak sudah diajarkan cara mandi sendiri, ditanamkan konsep antara bersih dan kotor. Tentunya dengan penuh rasa kasih sayang 

 

TIPS MENGATASI ANAK SUSAH MAKAN

Writer: Viny Alfiani

Image

Kasus: “Bunda, anak saya umur 3 tahun, 2 bulan terakhir ini sangat susah sekali makan. berat badan anak saya juga semakin menurun dan sering sakit. Padahal 2 bulan sebelumnya anak saya tidak mengalami masalah dengan makanan. Sebelumnya anak saya memang pernah tidak sengaja menelan duri ikan dan merasa kesakitan. Apa yang harus lakukan terkait kondisi anak saya Bunda? Mohon saran nya”. (Bu Ema, Malang)

 

Dear Bu Ema..

Banyak faktor yang menyebabkan anak susah makan, antara lain masalah penyakit (alergi, infeksi, gangguan mengunyah dan menelan), makanan yang kurang menarik dan kurang bervariasi, dan faktor psikologi. Dari penjelasan ibu terkait kondisi anak, besar kemungkinan penyebab anak ibu susah makan dikarenakan faktor psikologi.

Anak ibu sepertinya memiliki pengalaman aktivitas makan yang tidak menyenangkan akibat tidak sengaja menelan duri. Besar kemungkinan akibat kejadian tersebut anak ibu jadi memiliki pemikiran bahwa aktivitas makan merupakan aktivitas yang tidak menyenangkan bahkan dapat menyakiti dirinya.  sehingga dari permasalahan tersebut, saya memberikan beberapa tips agar anak ibu tidak susah makan lagi.

  1. Untuk pertama kali, Bu Ema bisa mengubah pemikiran anak ibu terkait aktivitas makan, yang mana awalnya makan adalah aktivitas yang tidak menyenangkan dan menyakitkan menjadi aktivitas yang menyenangkan. Untuk menciptakan susasana yang menyenangkan, ibu bisa sambil menyetel  lagu-lagu anak, bermain sambil makan atau dengan makan bersama-sama anggota keluarga yang lain. Ini akan menimbulkan efek mood yang baik untuk anak karena dia akan merasakan suasana yang hangat dan menyenangkan. Sehingga anak tidak berpikiran lagi bahwa makan adalah aktivitas yang tidak menyenangkan.
  2. Berilah variasi menu makanan dan penampilan dari makanan yang menarik dan lucu. Sehingga dapat membuat anak tertarik untuk makan. Contoh: menyediakan makanan telur dengan dihiasi wortel dan cabe merah yang membentuk gambar kepala yang lucu dan tersenyum. Contoh lain saat membuat nasi goreng, kita bikinkan seperti bentuk ikan, gunakan wortel yang dibentuk seperti mata dan mulut ikan, timun kita potong menjadi ekor ikan misalnya. Silahkan anda kreasikan sendiri bentuknya, pasti anak akan lebih tertarik untuk makan.
  3. Hindari memaksa dan mengancam dalam menyuruh anak untuk makan. Untuk anak selalu gunakan gaya persuasi atau mengajak dengan membujukanya dan gunakan nada suara yang lembut serta jelaskan arti pentingnya makan untuknya.

Itulah tips yang bisa saya sarankan pada Bu Ema. Semoga dapat membantu. ^^

By: Viny Alfiani

MEMBENTUK KETERATURAN MASYARAKAT DENGAN PEMAHAMAN SHALAT MELALUI SUPEREGO

KARYA TULIS ILMIAH

 

MEMBENTUK KETERATURAN MASYARAKAT DENGAN PEMAHAMAN SHALAT MELALUI SUPEREGO

 

 

Disusun Oleh:

 

Viny Alfiani                       105120307111067

 

 

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2012

Abstract:

Keteraturan masyarakat adalah sebuah kondisi dimana masyarakat dalam kehidupan bermasyarakat dapat berjalan tertib dan teratur. Dalam Negara, keteraturan masyarakat sangat penting sebagai tolak ukur kesehatan suatu Negara. Tetapi dewasa ini banyak fenomena korupsi, tindak kejahatan, depresi, stress, dan skizofrenia yang menunjukkan ketidakteraturan masyarakat di Indonesia. Problema ini patut dikaji karena Negara dengan mayoritas penduduknya beragama Islam tetapi memiliki tingkat kejahatan, stress, depresi, skizofrenia yang terus bertambah banyak jumlahnya setiap tahunnya.

Pada QS. Al-Ankabut: 45 yang menyatakan bahwa “Sholat dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar”. Maka dapat menjawab mengapa di Indonesia angka kejahatan, stress, depresi, dan skizofrenia sangat tinggi. Kurangnya pemahaman akan esensi sholat merupakan salah satu akar dan pencetus dari permasalahan-permasalahan yang ada dalam masyarakat. Masyarakat Indonesia kebanyakan masih berpandangan bahwa sholat hanyalah kewajiban semata untuk mendapatkan pahala dan menghindari siksa, bukan sebagai kebutuhan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan yang secara tidak langsung berdampak pada ketentraman jiwa dan ketenangan hati.

Berdasarkan teori psikoanalitik, Freud mengenai super ego, yang dalam konteks Islam merupakan ke-imanan yang meliputi nilai-nilai ketuhanan. Maka Super ego merupakan hal yang harus dibentuk dan ditanamkan sejak dini. Salah satu bentuk tindakan yang dapat mendekatkan mengenai ketuhanan atau ketauhidan adalah dengan Sholat.

Pada realita saat ini, pemahaman esensi sholat ini kebanyakan luput dari penjelasan orang tua. Banyak pengasuhan dan pola didikan orang tua yang hanya mengajarkan anak tentang sholat sebagai suatu ritunitas, kewajiban atau terkesan formalitas tanpa penghayatan yang mendalam dan konprehensif. Sehingga sejak kecil anak-anak hanya diminta untuk mengikuti gerakan sholat orang tua dan menghafalkan bacaan-bacaan sholat tanpa memahami tujuan sebenarnya melakukan sholat dan makna dari setiap bacaannya. Sehingga tidak sedikit anak yang memiliki pemahaman sholat yang salah, dan fatalnya, hal demikian  mengakar sampai mereka dewasa.

Dengan demikian pentingnya menanamkan esensi sholat sejak dini dan urgensi dari permasalahan yang dihadapi masyarakat Indonesia. Maka untuk mengatasi permasalahan tersebut, tulisan ini menawarkan solusi dengan program parenting  DAS (Dialog After Shalat) yang dilakukan oleh orang tua dengan memaksimalkan dialog atau percakapan orang tua-anak dengan mengisi jeda ba’da sholat maghrib dan isya’.  Pada dialog tersebut orang tua dapat menamkan pemahaman akan esensi shalat. Sehingga kelak setiap anak memiliki masalah akan menjadikan sholat sebagai problem solving untuk mendekatkan diri kepada Tuhan dan mendapatkan ketenangan hati yang dapat menjauhkan diri dari gangguan hati seperti stress, depresi, dan skizofrenia sebagai pemicu tindak kejahatan ataupun bunuh diri. Sehingga laju kejahatan di Indonesia bisa ditekan. Yang pada akhirnya, mampu membentuk keteraturan masyarakat yang agamis.

Keyword: Keteraturan Masyarakat, Esensi Sholat, Super Ego, Parenting

 

KATA PENGANTAR

 

Puji syukur saya panjatkan kepada Allah SWT atas segala rahmat dan hidayah-Nya sehingga Karya Tulis Ilmiah ini dapat diselesaikan dengan tepat waktu dan dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Adapun judul dari Karya Tulis Ilmiah ini adalah “Membentuk Keteraturan Masyarakat Dengan Pemahaman Shalat Melalui Super Ego” . Pada kesempatan kali ini, dengan segala ketulusan dan kerendahan hati,  saya juga tidak lupa mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya kepada semua pihak yang telah membantu saya dalam proses pembuatan Karya Tulis Ilmiah ini sehingga saya dapat menyelesaiakan Karya Tulis Ilmiah ini dengan tepat waktu dan dengan sebaik-baiknya yaitu ditujukan kepada :

  1. Dosen pembimbing Karya Tulis Ilmiah saya, yaitu Bpk Ilhamnuddin, S.Psi., M.A
  2. Orang tua saya yang senantiasa mendoakan saya untuk dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini.
  3. Teman-teman saya yang selalu mendukung dalam pembuatan Karya Tulis Ilmiah ini, khususnya adalah Nevita dan Alif. 
  4. Semua pihak yang tidak dapat saya sebutkan satu per satu yang telah membantu saya dalam proses pembutan Karya Tulis Ilmiah ini.

Saya menyadari bahwa Karya Tulis Ilmiah ini memiliki kekurangan dan belum sempurna, maka dari itu kritik dan saran sangat saya harapkan demi kesempurnaan Karya Tulis Ilmiah yang selanjutnya. Semoga Karya Tulis Ilmiah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca. AMIN.

 

 

Malang, 5 Mei 2012

 

                                                                                                                    Penulis

 

BAB

PENDAHULUAN

 A.    Latar Belakang

Dewasa ini fenomena tindak kejahatan, stres, depresi, dan skizofrenia yang ada di Indonesia semakin banyak terjadi dan semakin bertambah setiap tahunnya. Problema ini tidak hanya dialami oleh orang dewasa saja, tetapi juga anak-anak, remaja, dewasa, dan pada usia lanjut. Banyak kita temui kasus-kasus bullying ataupun pemerkosaan yang dilakukakan oleh anak SD, begitu juga pada remaja, dimana banyak remaja yang mengalami stress, depresi akibat dari permasalahan yang tidak dapat diselesaikan seperti patah hati yang akhirnya berujung pada percobaan bunuh diri. Begitu juga oleh kasus-kasus yang dihadapi oleh orang dewasa ataupun lansia yang tidak jauh dari fenomena-fenomena tersebut.

Problema tersebut merupakan pokok bahasan yang penting, dimana Negara Indonesia  yang merupakan mayoritas bergama Islam tetapi mengapa memiliki tingkat kejahatan, stres, depresi, dan skizofrenia yang cukup tinggi. Mengapa bisa terdapat permasalahan seperti demikian? Jika menilik dari Al-Quran pada surat Al-Ankabut: 45;

 

45. bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, Yaitu Al kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. dan Sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.

 Dari redaksi ayat di atas, maka sebenarnya bisa menjawab pertanyaan tersebut. Sebab  sholat merupakan ukuran ataupun cerminan dari perbuatan manusia.  Jika seseorang tetap melakukan perbuatan kejahatan ataupun masih mengalami stres, depresi, atau bahkan sampai skizofrenia maka dimungkinkan nilai sholatnya nihil.

Jika demikian, maka yang perlu menjadi perhatian adalah bagaimana orang tua mengajarkan dan mengenalkan anaknya mengenai sholat. Apakah orang tua sudah menanamkan esensi sholat yang tepat pada anak? Pada realita yang ada di masyarakat banyak orang tua yang mengajarkan dan mengenalkan sholat sebagai suatu kewajiban. Jika  rajin melakukan sholat maka Allah pasti akan memberikan pahala dan Surga, tetapi jika anak tidak melakukan sholat maka akan mendapatkan siksa dan neraka. Statement inilah yang selalu ditekankan pada orang tua untuk menakuti dan memaksa anak untuk melakukan sholat, dan jika anak masih  tidak patuh maka tidak semua orang tua melakukan punishment, diantaranya dengan “memukul” anaknya sebagai hukuman. Sehingga esensi sholat yang seharusnya sebagai salah satu cara untuk mendekatkan diri kepada Allah agar menjadikan jiwa tentram dan tenangnya hati menjadi terabaikan.

Pandangan dan pola mendidik inilah yang harus dirubah dari orang tua. Karena seperti pada teori tabularasa dimana anak diperumpamakan seperti kertas kosong dan orang tualah yang akan menentukan apa yang akan dituangkan pada kertas kosong tersebut. Jika orang tua sudah salah memberikan pemahaman tentang sholat sejak awal, maka anak akan memiliki  pemahaman dan pemaknaan sholat yang salah pula. Sehingga pemaksimalan peran orang tua dalam membentuk pemahaman anak baik dalam sholat ataupun dalam segala hal sangatlah penting.

Menanamkan super ego sebagaimana teori Freud merupakan hal yang penting untuk ditanamkan sejak dini, khususnya pada usia keemasan pada anak. Sehingga ketika dewasa kelak anak akan memiliki sistem mekanisme pertahanan diri yang kuat terhadap semua masalah dan segala bentuk permasalahan hati yang dapat mengakibatkan seseorang melakukan tindak kejahatan ataupun mengalami stres, depresi, dan skizofrenia. Dengan demikian membentuk masyarakat yang teratur bukanlah hal yang mustahil jika permasalahan-permasalahan yang marak terjadi di Indonesia bisa berkurang atau bahkan tidak ada lagi.

 

B.  Rumusan Masalah

1. Bagaimana membentuk super ego pada anak usia dini?

2. Bagaimana membangun keteraturan masyarakat dengan pemahaman sholat yang tepat pada anak usia dini?

3. Bagaimana peran orang tua dalam menanamkan esensi sholat sejak dini?

 

C.   Tujuan Penulisan

1. Untuk mengetahui pembentukan super ego pada anak usia dini

2. Untuk mengetahui bagaimana keteraturan masyarakat melalui pemahaman shalat

3. Untuk mengetahui peran orang tua terhadap pemahaman esensi shalat sejak dini

 

D.   Manfaat Penulisan

Ada dua bentuk kemanfaatan yang bisa diambil dalam penulisan kali ini:

Secara Teoritik

Secara teoritik penulisan kali ini memungkinkan bisa dijadikan tolak ukur, referensi pada kajian yang memiliki kesamaan bahasan atau bahkan kajian ulang dalam rangka pembenahan atas segala bentuk kekurangan yang tereduksi dalam kajian ini, yang selanjutnya untuk diadakan penyempurnaan dengan pengkajian yang cukup komprehensif, sekaligus dalam rangka pengembangan pemikiran secara akademik.

Secara Praktis

Ketika hasil penulisan ini memiliki akurasi dan juga memiliki tingkat kebenaran yang secara rasional atau secara esensial bisa diterima oleh banyak kalangan, baik kalangan akademisi maupun masyarakat umum, maka tidaklah keliru untuk menjadikan karya tulis ini tidak sekedar sebagai manhaj atau literatur akademis saja, namun layak untuk diaplikasikan oleh masing-masing orangtua dan lembaga pendidikan dalam rangka mencapai tujuan pendidikan anak tentang shalat yang ideal. Yaitu, tidak mengabaikannya sebuah pemahaman tentang esensi shalat yang menjadikan pembentukkan karakter anak yang betul-betul menjadikan shalat sebagai inspirasi dalam kehidupan jangka panjang.

 

BAB

TELAAH PUSTAKA

 

 A.    KETERATURAN MASYARAKAT

Masyrakat berasal dari bahasa arab yaitu musyarak. Masyarakat memiliki arti sekelompok orang yang membentuk sebuah sistem semi tertutup atau terbuka. Masyarakat terdiri atas individu-individu yang saling berinteraksi dan saling tergantung satu sama lain atau di sebut zoon polticon. Dalam proses pergaulannya, masyarakat akan menghasilkan budaya yang selanjutnya akan dipakai sebagai sarana penyelenggaraan kehidupan bersama. Oleh sebab itu, konsep masyarakat dan konsep kebudayaan merupakan dua hal yang senantiasa berkaitan dan membentuk suatu sistem.

Adapun beberapa definisi masyarakat menurut para ahli:

  1. Menurut Selo Sumardjan, masyarakat adalah orang-orang yang hidup bersama dan menghasilkan kebudayaan.
  2. Menurut Karl Marx, masyarakat adalah suatu struktur yang menderita suatu ketegangan organisasi atau perkembangan akibat adanya pertentangan antara kelompok-kelompok yang terbagi secara ekonomi.
  3.  Menurut Emile Durkheim, masyarakat merupakan suau kenyataan objektif pribadi-pribadi yang merupakan anggotanya.
  4. Menurut Paul B. Horton & C. Hunt, masyarakat merupakan kumpulan manusia yang relatif mandiri, hidup bersama-sama dalam waktu yang cukup lama, tinggal di suatu wilayah tertentu, mempunyai kebudayaan sama serta melakukan sebagian besar kegiatan di dalam kelompok / kumpulan manusia tersebut.

Sedangkan Keteraturan Masyarakat adalah gambaran dari keadaan masyarakat yang teratur, tertib sebagai hasil hubungan yang serasi antara tindakan sosial, nilai-sosial, dan norma sosial. Dalam keteraturan masyarakat akan melahirkan:

a. Tertib sosial.

b. Order.

c. Keajegan.

d. Pola

Tertib sosial merupakan gambaran tentang kondisi kehidupan masyarakat yang aman, dinamis, dan teratur.

Order menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, diartikan sebagai perintah atau pesanan untuk melakukan sesuatu. Dalam sosiologi, order adalah sistem norma dan nilai-nilai sosial yang berkembang.

Keajegan adalah gambaran tentang suatu kondisi keteraturan sosial yang tetap dan tidak berubah sebagai hasil hubungan yang selaras antara tindakan, norma, dan nilai dalam interaksi sosial.

Pola, artinya gambaran tentang corak, mode, sistem, atau struktur yang tetap. Dalam sosiologi pola berarti gambaran atau corak hubungan sosial yang tetap dalam berinteraksi sosial.

 

B.     ESENSI SHALAT

menurut bahasa, shalat artinya adalah doa. sedangkan menurut istilah syariat, pengertian shalat adalah ibadah yang terdiri dari bacaan-bacaan khusus yang diawali dengan takbir kepada Allah (takbirah al-ihram) dan diakhiri dengan salam.

Dalam Al-Quran sering kali disebut kata shalat. Tentu, hal ini menunjukkan betapa pentingnya kedudukan shalat dalam kehidupan ini. shalat yang baik dan benar akan mengantar seseorang mengingat kebesaran Allah dan mendorongnya untuk melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Makna ini mengandung isyarat tentang hikmah di balik perintah shalat. Sehingga esensi dari shalat itu adalah komunikasi antara hamba dengan penciptanya, yang dapat menimbulkan kecintaan kepada Allah dan menimbulakna ketenangan hati serta pikiran. Sehingga dengan pancaran hati yang tenang maka ia akan sanggup menjauhi perbuatan keji dan mungkar.

Ketakwaan seseorang tercemin dalam kehidupan sehari-hari, berupa akhlak yang baik. alangkah ruginya jika kita mengerjakan shalat, tetapi ternyata masih memiliki akhlak yang buruk. hal itu mengisyaratkan bahwa kita hanya dapat rasa letih dari shalat yang kita kerjakan, dan tanpa disadari, kita sebenarnya sudah menjauh dari Allah Swt.

Shalat merupakan suatu aktivitas jiwa (soul), yang di dalamnya terdapat proses perjalanan spiritual penuh makna yang dilakukan seorang manusia untuk menemui Tuhan Semesta Alam. Shalat dapat menjernihkan jiwa dan mengangkat peshalat untuk mencapai taraf kesadaran yang lebih tinggi (altered states of consciousness) dan pengalaman puncak (peak experience).

Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku (Thaha, 20:14)

Shalat memiliki kemampuan untuk mengurangi kecemasan karena terdapat lima unsur di dalamnya, yaitu:

  1. Meditasi atau doa yang teratur, minimal lima kali sehari
  2. relaksasi melaui gerakan-gerakan shalat
  3. hetero atau auto sugesti dalam bacaan shalat
  4. group-therapy dalam shalat jama’ah, atau bahkan dalam shalat sendirian pun minimal ada aku dan Allah
  5. hydro therapy dalam mandi junub atau wudhu’ sebelum shalat.

Shalat adalah salah satu cara ibadah yang berkaitan dengan meditasi transcendental, yaitu mengarahkan jiwa kepada satu objek dalam waktu beberapa saat, seperti halnya dalam melakukan hubungan langsung antar hamba dengan Tuhannya. ketika shalat, ruhani bergerak menuju Zat Yang maha Mutlak. Pikiran terlepas dari keadaan riil dan panca indra melepaskan diri dari segala macam keruwetan peristiwa disekitarnya, termasuk keterikatannya terhadap sensasi tubuhnya seperti rasa sedih, gelisah, rasa cemas, dan lelah.

Kita merasakan betapa shalat menjadi beban sejak kecil. kita selalu ketakutan kalau tidak melaksanakan shalat. Di waktu itu, guru dan orang tua telah banyak andil menakuti-nakuti kita, bahwa kalau tidak shalat akan dijebloskan ke neraka, sehingga setiap kali ada suara adzan perasaan takut dan ngeri sering menyelusup ke dalam hati. Tanpa disadari, secara psikologis pikiran kita terganggu dengan doktrin tersebut. kita tidak pernah disadarkan, bahwa shalat itu untuk kebaikan kita dan bisa dirasakan langsung oleh pikiran dan perasaan hati kita, bahwa shalat itu akan membuat perasaan kita damai dan tenang, bahwa shalat itu merupakan tempat kita mengadu di saat kesusahan serta memohon petunjuk jika ada kebuntuhan pikiran. tetapi doktrin itu sudah terlanjur lengket dalam benak kita. sehingga tidak bisa dipungkiri, bahwa shalat menjadi benar-benar berat dan sulit dilaksanakan.

Jika sudah demikian maka shalat kita itu akan sia-sia sehingga shalat tidak lagi menjadi alat atau sarana menciptakan karakter mukmin yang berakhlak mulia. shalat yang demikian (lalai), akan menjemukan dan membuat kita merasa lelah. shalat tidak memberikan rasa nyaman, enak dan menyenangkan. kalau sudah demikian, nafsu kita tidak bisa dikendalikan karena ruh telah tenggelam, dimana ruh telah kehilangan kontak dengan sang pemberi petunjuk, sang pemberi ilmu, dan juru penerang.

 

C.    PARENTING

Anak adalah aset yang sangat berharga bagi sebuah Negara. anak akan menjadi generasi penerus yang pada masanya nanti akan menentukan perkembangan suatu Negara. Anak-anak yang terdidik dan berkualitas secara inteleltual, mental, dan spiritual akan berkembang menjadi orang dewasa yang kompeten dan mampu menjalankan roda kehidupan berbangsa dan bernegara sehingga kelangsungan dan martabat Negara dapat terjamin.

Parent dalam parenting memiliki beberapa definisi-ibu, ayah, seseorang yang akan membimbing dalam kehidupan baru, seorang penjaga, maupun seorang pelindung. Parent adalah seseorang yang mendampingi dan membimbing semua tahapan pertumbuhan anak, yang merawat, melindungi, mengarahkan kehidupan baru anak dalam setiap tahapan perkembangannya (Brooks, 2001).

Pengasuh erat kaitannya dengan kemampuan suatu keluarga/ rumah tangga dan komunitas dalam hal memberikan perhatian, waktu dan dukungan untuk memenuhi kebutuhan fisik, mental, dan social anak-anak yang sedang dalam masa pertumbuhan serta bagi anggota keluarga lainnya (ICN 1992 dalam Engel et al. 1997). Hoghughi (2004) menyebutkan bahwa pengasuhan mencakup beragam aktifitas yang bertujuan agar anak dapat berkembang secara optimal dan dapat bertahan hidup dengan baik. Prinsip pengasuhan menurut Hoghughi tidak menekankan pada siapa (pelaku) namun lebih menekankan pada aktifitas dari perkembangan dan pendidikan anak. Oleh karenanya pengasuhan meliputi pengasuhan fisik, pengasuhan emosi dan pengasuhan social.

Pengasuhan fisik mencakup semua aktifitas yang bertujuan agar anak dapat bertahan hidup dengan baik dengan menyediakan kebutuhan dasarnya seperti makan, kehangatan, kebersihan, ketenangan waktu tidur, dan kepuasan ketika membuang sisa metabolisme dalam tubuhnya. Pengasuhan emosi mencakup pendampingan ketika anak mengalami kejadian-kejadian yang tidak menyenangkan seperti merasa terasing dari teman-temannya, takut, atau mengalami trauma. Pengasuhan emosi ini mencakup pengasuhan agar anak merasa dihargai sebagai seorang individu, mengetahui rasa dicintai, serta memperoleh kesempatan untuk menentukan pilihan dan untuk mengetahui resikonya. Pengasuhan emosi ini bertujuan agar anak mempunyai kemampuan yang stabildan konsisten dalam berinteraksi dengan lingkungannya, menciptakan rasa aman, serta menciptakan rasa optimistic atas hal-hal baru yang akan ditemui oleh anak. Sementara itu, pengasuhan sosial bertujuan agar anak tidak merasa terasing dari lingkungan sosialnya yang akan berpengaruh terhadap perkembangan anak pada masa-masa selanjutnya. Pengasuhan sosial ini menjadi sangat penting karena hubungan sosial yang dibangun dalam pengasuhan akan membentuk sudut pandang terhadap dirinya sendiri dan lingkungannya.pengasuhan sosial yang baik berfokus pada memberikan bantuan kepada anak untuk dapat terintegrasi dengan baik di lingkungan rumah maupun sekolahnya dan membantu mengajarkan anak akan tanggung jawab sosial yang harus diembannya (Hughoghi, 2004).

Sementara itu, menurut Jerome Kagan seorang psikolog perkembangan mendefinisikan pengasuhan (parenting) sebagai serangkaian keputusan tentang sosialisasi pada anak, yang mencakup apa yang harus dilakukan oleh orang tua/ pengasuh agar anak mampu bertanggung jawab dan memberikan kontribusi sebagai anggota masyarakat termasuk juga apa yang harus dilakukan orang tua/ pengasuh ketika anak menangis, marah, berbohong, dan tidak melakukan kewajibannya dengan baik (Berns, 1997). Berns (1997) menyebutkan bahwa pengasuhan merupakan sebuah proses interaksi yang berlangsung terus-menerus dan mempengaruhi bukan hanya bagi anak juga bagi orang tua. Senada dengan Berns, Brooks (2001) juga mendefinisikan pengasuhan sebagai sebuah proses yang merujuk pada serangkaian aksi dan interaksi yang dilakukan orang tua untuk mendukung perkembangan anak. Proses pengasuhan bukanlah sebuah hubungan satu arah yang mana orang tua mempengaruhi anak namun lebih dari itu, pengasuhan merupakan proses interaksi antara orang tua dan anak yang dipengaruhi oleh budaya dan kelembagaan sosial dimana anak dibesarkan.

Beberapa definisi tentang pengasuhan tersebut menunjukkan bahwa konsep pengasuhan mencakup beberapa pengertian pokok, antara lain: (i) pengasuhan bertujuan untuk mendorong pertumbuhan dan perkembangan anak secara optimal, baik secara fisik, mental maupun sosial, (ii) pengasuhan merupakan sebuah proses interaksi yang terus menerus antara orang tua dengan anak, (iii)pengasuhan adalah sebuah proses sosialisasi, (iv) sebagai sebuah proses interaksi dan sosialisasi proses pengasuhan tidak bisa dilepaskan dari sosial budaya dimana anak dibesarkan.

Parenting merupakan tugas yang disandang oleh pasangan suami-isteri ketika mereka sudah mempunyai keturunan. Parenting di lain pihak adalah suatu tugas yang berkaitan dengan mengarahkan anak menjadi mandiri di masa dewasanya, secara fisik dan psikologis. Parenting ini menurut Shanock (Garbarino & Benn, 1992), adalah suatu hubungan yang intens berdasarkan kebutuhan yang berubah secara pelan sejalan dengan perkembangan anak. Idealnya, pasangan orangtua akan mengambil bagian dalam pendewasaan anak-anak karena dari kedua orang tua, anak-anak akan belajar untuk mandiri, entah melalui proses belajar sosial dengan modeling (Belsky, 1984), ataupun melalui proses resiprokal dengan prinsip pertukaran sosial.

Ayah dan ibu adalah pasangan yang datang dengan latar belakang yang berbeda. Perbedaan ini, idealnya, akan saling melengkapi sehingga pasangan akan dapat menjalankan rumah tangga dan perkawinannya dengan lancar. Demikian pula dalam hal pengasuhan, kedua orang tua akan memberikan model yang lengkap bagi anak-anak dalam menjalani kehidupan.

Pengasuhan anak merupakan tugas dalam masa menjadi orang tua. Tujuan pengasuhan ini adalah sosialisasi, yaitu mengajarkan anak bagaimana menjadi bagian dari masyarakat.

Keterlibatan dan Sensitivitas dalam Pengasuhan

Pengasuhan atau parenting adalah suatu perilaku yang pada dasarnya mempunyai kata-kata kunci yaitu; hangat, sensitive, penuh penerimaan, resiprokal, ada pengertian, dan respon yang tepat pada kebutuhan anak. Pengasuhan dengan ciri-ciri tersebut melibatan kemampuan untuk memahami kondisi dan kebutuhan anak, kemampuan untuk memilih respon yang paling tepat baik secara emosional afektif, maupun instrumental.

Keterlibatan dalam pengasuhan anak mengandung aspek waktu, interaksi, dan perhatian. Lamb (Shehan, 2003) dalam menganilisis dan meng-kategorikan keterlibatan dalam pengasuhan dalam tiga bentuk. Engagement atau interaction (McBride, Schoppe, & Rane, 2002) adalah interaksi dengan anak, meliputi kegiatan seperti memberi makan, mengenakan baju, berbincang, bermain, mengerjakan PR, dan sebagainya. Accesbility adalah bentuk keterlibatan yang lebih rendah. Orang tua ada di dekat anak tetapi tidak berinterkasi secara langsung dengan anak. Responsibility adalah bentuk keterlibatan yang paling intens karena melibatkan pe-rencanaan, pengambilan keputusan, dan mengorganisasi.

Sedangkan Grant menyebutkan filosofi dalam mengasuh anak adalah bahwa kesejahteraan dan kebahagiaan individu tergantung pada empat elemen, yaitu elemen fisik, elemen sosial, elemen spiritual, dan elemen intelektual. Orang tua haruslah dapat menfasilitasi perkembangan anak dalam ke-empat hal tersebut.

Pada penelitian Galinsky (Shehan, 2003) pada anak-anak Amerika mengungkap bahwa lebih dari 40 persen anak merasa ketika bersama-sama dengan orang tua meterka merasakan adanya ketergesaan, sehingga anak-anak kemudian mempunyai harapan agar orang tua mempunyai “waktu yang terfokus” atau focused time ketika bersama mereka. Perhatian diberikan pada mereka pada saat orang tua bersama mereka dan bukannya secara fisik bersama mereka tetapi pikiran terpecah pada hal lain. Dengan waktu yang terfokus ini orang tua menggunakan semua proses kognisinya untuk menjalin hubungan yang akrab dengan anak. Orang tua dapat saja mengembangkan gagasan-gagasan dalam berinteraksi sambil pada saat itu tetap menyadari apa yang menjadi kebutuhan anak sehingga terbentuk pengertian dan penerimaan.

Dalam penelitian Galinsky terdapat delapan keterampilan pengasuhan yang menjadi indikator, yaitu:

  1. membuat anak merasa penting dan dicintai.
  2. merespon pada tanda-tanda dan isyarat anak.               
  3. menerima anak apa adanya, tetapi juga mengharapkan keberhasilan.
  4. mengajarkan nilai-nilai yang kuat.
  5. menggunakan disiplin yang konstruktif.
  6. menyediakan hal-hal yang rutin dan yang bersifat ritual agar hidup lebih terprediksi.
  7. terlibat dalam pendidikan anak.
  8. siap membantu dan menudukung anak.

D.    SUPEREGO

Sigmun Freud, yang dikenal sebagai tokoh utama Psikoanalisis, dalm teorinya mengajukan tiga konsep utama yang mendasari perilaku manusia. Pertama adalah struktur kepribadian, yang terdiri dari Id, Ego, dan Superego. Ketiga struktur kepribadian tersebut akan mewarnai perilaku seseorang. Ke dua, adalah tingkat kesadaran atau consciousness levels. Ada tiga tingkat kesadaran yaitu bawah sadar (unconscious), ambang sadar (preconscious), dan tingkat sadar (consciousness). Tingkat kesadaran menunjuk pada letak di mana id, ego, dan superego berada, dan selanjutnya menggambarkan kekuatan masing-masing struktur tersebut dalam mempengaruhi perilaku seseorang.

Super Ego terdiri atas dua hal yaitu ego-ideal yang berupa konsep tentang perilaku yang baik dan buruk; dan conscience yang berupa konsep tentang betul dan salah. Superego terbentuk pada diri seorang anak dalam berhubungan dengan orang tuanya, terutama orang tua dengan jenis kelamin yang sama (Lefrancois, 1990), dimulai ketika usia anak sekitar 4-6 tahun. Proses pembentukan terjadinya melalui proses identifikasi dan internalisasi. Proses identifikasi dan internalisasi ini akan menghasilkan superego, dan hasil pembentukan ini dapat berupa superego yang kuat, lemah, atau menjadi ekstrim, tergantung pada nilai-nilai yang dikenalkan orang tua dalam proses ini.

Kaitan anatara Id, Ego, dan Superego dengan pemahaman islam

a. ID

Menurut teori Freud ini Id adalah bagian dari jiwa seseorang berupa dorongan atau nafsu yang sudah ada sejak manusia dilahirkan yang memerlukan pemenuhan dan pemuasan segera. Unsur Id ini sifatnya vital sebagai suatu mekanisme pertahanan diri, sebagai contoh misalnya dorongan atau nafsu makan, minum, seksualitas, agresivitas, dan lain-lain. Id sendiri terletak di ketidaksadaran, sehingga tidak bersentuhan langsung dengan realitas, oleh karena itu prinsip yang dianut id adalah prinsip kesenangan, yaitu bahwa tujuan dari id adalah memuaskan semua dorongan primitive ini. Id adalh dorongan-dorongan yang belum dibentuk atau dipengaruhi oleh kebudayaan, yaitu dorongan untuk hidup dan mempertahankan kehidupan dan dorongan untuk mati. bentuk dari dorongan hidup adalah dorongan seksual atau juga libido dan bentuk daripada dorongan mati adalah agresi, yaitu dorongan yang menyebabkan orang ingin menyerang orang lain berkelahi atau marah.

Dari sudut pandang agama (Islam), konsep Id, Ego, Super ego dari teori Freud tersebut diatas sebenarnya sudah ada hanya peristilahannya saja yang berbeda. Manusia sebagai mahkluk fitrah, sejak menusia lahir sudah dibekali dengan dorongan-dorongan atau nafsu seperti nafsu makan, minum, agresif, dan nafsu seksual. tanpa adanya dorongan Nafsu sebagaimana contoh diawal, maka manusia tidak akan dapat mempertahankan diri keberadaannya di dunia. misalnya bila seseorang kehilangan nafsu makan dan minum dengan sendirinya kondisi fisik akan melemah, maka dapat memudahkan terinfeksi penyakit dan jika hal tersebut berkepanjangan maka dapat menyebabkan kematian. Dorongan nafsu sebagaimana uraian di atas dikenal dalam teori freud sebagai Id.

b.  EGO

Ego merupakan “badan pelaksana” yang menjalankan kebutuhan Id setelah disensor dahulu oleh Super ego. Manusia melaksanakan kebutuhan-kebutuhan Nafsu tadi dalam bentuk perbuatan, perilaku atau amal yang kesemuanya disebut akhlak. dalam konsep Freud Akhlak ini disebut Ego. akhlak seseorang menjadi baik atau buruk tergantung dari hasil tarik menarik antara nafsu dan Imam atau dengan kata lain antara Id dan Super Ego. hasil tarik menarik antara nafsu dan iman tadi pada sebagian orang dapat menimbulkan konflik batin, misalnya pada orang yang melakukan perzinaan akan timbul perasaan bersalah, berdosa, dan ketakutan.

c.  SUPER EGO

Super ego merupakan “badan penyensor” yang memiliki nilai-nilai moral etika yang dapat membedakan mana yang boleh mana yang tidak, mana yang baik mana yang buruk, mana yang halal mana yang haram, dan sejenisnya. dengan kata lain Super ego merupakan “hati nurani” manusia.

Superego adalah suatu gambaran kesadaran akan nilai-nilai dan moral masyarakat yang ditanamkan oleh adat istiadat, agama, orang tua, guru dan orang- orang lain pada anak.

Karena itu pada dasarnya Superego adalah hati nurani (concenience) seseorang yang menilai benar atau salahnya suatu tindakan seseorang.itu berarti Superego mewakili nilai-nilai ideal dan selau berorientasi pada kesempurnaan. Cita-cita individu juga diarahkan pada nilai-nilai ideal tersebut, sehingga setiap individu memiliki gambaran tentang dirinya yang paling ideal (Ego-ideal).

Bersama-sama dengan ego, Superego mengatur dan mengarahkan tingkah laku individu yang mengarahkan dorongan-dorongan dari Id berdasarkan aturan-aturan dalam masyarakat, agama atau keyakinan-keyakinan tertentu mengenai perilaku yang baik dan buruk. Mengakhiri deskripsi singkat diatas tentang ketiga sistem kepribadian diatas, harus diingat bahwa Id, Ego, dan Superego tidak dipandang sebagai orang – orangan yang menjalankan suatu kepribadian mental.

Sebaliknya mereka bekerja sama seperti suatu tim yang diatur oleh ego. Kepribadian Mental biasanya berfungsi sebagai suatu kesatuan dan bukan merupakan tiga bagian yang terpisah. Secara sangat umum Id dipandang sebagai komponen biologis kepribadian mental, sedangkan ego dipandang sebagai komponen psikologis dan superego sebagai komponen sosialnya.

Sedangkan menurut islam

Untuk melaksanakan kebutuhan nafsu manusia berbeda dengan mahkluk hewan, karena pada diri manusia sudah ada fitrah ke-Tuhan-an yang berisikan akal (rasio), moral dan etika sehingga manusia itu dapat membedakan mana yang halal dan mana yang haram, mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang boleh dan tidak. Fitrah ke-Tuhan-an ini dalam istilah Freud disebut Super ego, dan dalam agama (islam) dapat dianalogikan dengan Imam yang berfungsi sebagai pengendalian diri (self control). oleh karena itu dalam memenuhi kebutuhan nafsu seksual tersebut diatas terdapat perbedaan yang jelas antara manusia dengan mahkluk hewan. hubungan seksual sesama manusia diatur oleh hukum tertulis maupun tidak tertulis berdasarkan adat istiadat, hukum Negara dan hukum agama; sedangkan mahkluk hewan hewan berdasarkan naluri atau insting belaka.

Dari bahasan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa perkembangan seorang anak diarahkan pada kemampuan mengintegrasikan Id, Ego, dan Superego sehingga dalam kehidupannya seseorang akan selalu terkendali perilakunya secara sosial dengan landasan moralitas yang dimilikinya. Seseorang dapat jatuh sakit (baik sakit fisik atau psikis) manakala seseorang tidak dapat menyelesaikan konflik internal (konflik batin) antara Id, Ego, dan Super ego.

 

BAB

ANALISIS DAN SINTESIS

A.    Analisis

Berdasarkan data yang didapat dari badan statistic nasional permasalahan di Indonesia seperti tindak kejahatan, stres, depresi, dan skizofrenia yang ada semakin banyak terjadi dan semakin bertambah setiap tahunnya. Problema ini tidak hanya dialami oleh orang dewasa saja, tetapi juga anak-anak, remaja, dewasa, dan pada usia lanjut. Banyak kita temui kasus-kasus bullying ataupun pemerkosaan yang dilakukakan oleh anak SD, begitu juga pada remaja, dimana banyak remaja yang mengalami stress, depresi akibat dari permasalahan yang tidak dapat diselesaikan seperti patah hati yang akhirnya berujung pada percobaan bunuh diri. Begitu juga oleh kasus-kasus yang dihadapi oleh orang dewasa ataupun lansia yang tidak jauh dari fenomena-fenomena tersebut.

Dengan demikian maka bisa dianalisa bahwa kondisi msyarakat Indonesia baik secara fisik dan psikis sedang sakit dan keteraturan masyarakat ini sendiri sedang mengalami ketidakteraturan yang disebabkan banyaknya permasalahan masyarakat yang meresahkan dan menimbulkan ketidaknyamanan serta ketertiban di Indonesia.

Ketidakterauran masyarakat Indonesia yang dimunculkan dengan banyaknya problema seperti tindak kejahatan, stres, depresi, dan skizofrenia yang cukup tinggi di Indonesia. Padahal seperti yang kita ketahui bahwa masyarakat di Indonesia mayoritas adalah orang muslim. Sehingga jika ditilik dari perspektif islam maka permasalan tersebut sangatlah dipengaruhi dengan kualitas shalat masyarakat muslim di Indonesia.

Dan dari fakta yang kita ketahui di Indonesia ternyata pandangan mereka mengenai shalat adalah sebuah kewajiban yang hanya sebagai rutinitas lima kali dalam sehari. Sehingga esensi dari shalat tersebut tidak tercapai, seperti ketenangan hati dan pikiran setelah berkomunikasi dengan penciptanya yaitu Allah SWT. Dari shalat itu sendiripun terdapat pembentukan ketauhidan dan pembentukan akhlak dan moral yaitu Superego.

Dari sinilah maka dapat dianalisa mengapa permasalahan di Indonesia seperti tindak kejahatan, stress, depresi, dan skizofrenia selalu terus berkembang dan bertambah banyak. karena shalat sendiri sebagai tiang agama dan pondasi dari akhlak serta moral yang dapat membentuk superego, hanya sebagai kewajiban bukan sebagai kebutuhan dan problem solving.

Jika demikian, maka yang perlu menjadi perhatian adalah bagaimana orang tua mengajarkan dan mengenalkan anaknya mengenai sholat. Pada realita yang ada di masyarakat banyak orang tua yang mengajarkan dan mengenalkan sholat sebagai suatu kewajiban. Jika  rajin melakukan sholat maka Allah pasti akan memberikan pahala dan Surga, tetapi jika anak tidak melakukan sholat maka akan mendapatkan siksa dan neraka. Statement inilah yang selalu ditekankan pada orang tua untuk menakuti dan memaksa anak untuk melakukan sholat, dan jika anak masih  tidak patuh maka tidak semua orang tua melakukan punishment, diantaranya dengan “memukul” anaknya sebagai hukuman. Sehingga esensi sholat yang seharusnya sebagai salah satu cara untuk mendekatkan diri kepada Allah agar menjadikan jiwa tentram dan tenangnya hati menjadi terabaikan.

Pandangan dan pola mendidik inilah yang harus dirubah dari orang tua. Karena seperti pada teori tabularasa dimana anak diperumpamakan seperti kertas kosong dan orang tualah yang akan menentukan apa yang akan dituangkan pada kertas kosong tersebut. Jika orang tua sudah salah memberikan pemahaman tentang sholat sejak awal, maka anak akan memiliki  pemahaman dan pemaknaan sholat yang salah pula. Sehingga pemaksimalan peran orang tua dalam membentuk pemahaman anak baik dalam sholat ataupun dalam segala hal sangatlah penting.

Menanamkan super ego sebagaimana teori Freud merupakan hal yang penting untuk ditanamkan sejak dini, khususnya pada usia keemasan pada anak. Sehingga ketika dewasa kelak anak akan memiliki sistem mekanisme pertahanan diri yang kuat terhadap semua masalah dan segala bentuk permasalahan hati yang dapat mengakibatkan seseorang melakukan tindak kejahatan ataupun mengalami stres, depresi, dan skizofrenia. Dengan demikian membentuk masyarakat yang teratur bukanlah hal yang mustahil jika permasalahan-permasalahan yang marak terjadi di Indonesia bisa berkurang atau bahkan tidak ada lagi.

 

B.     Sintesis

Karena urgensi dari permasalahan yang dialami di Indonesia seperti tindak kejahatan, stress, depresi dan skizofrenia  yang berdampak ketidakteraturan masyarakat akibat dari peran orang tua yang salah menanamkan pemahaman sholat dalam membentuk superego, maka tulisan ini memberikan solusi program parenting DAS (Dialog After Shalat), dimana dalam program ini orang tua diberi pemahaman terlebih dahulu bagaimana urgensi peran mereka dalam membentuk superego (iman) anak dan bagaimana dampaknya jika orang tua kurang maksimal dalam memberikan pemahaman pada anak akan suatu hal. Sehingga setelah orang tua tahu urgensi peran mereka, yang bisa dilakukan oleh orang tua yang ada di Indonesia untuk membentuk  superego dalam artian iman, akhlak dan moral dengan pemahaman esensi sholat sejak dini yaitu dengan memaksimalkan dialog antara orang tua dan anak. Mengapa pemaksimalan dialog orang tua-anak dijadikan solusi utama? hal ini dikarenakan proses pengasuhan bukanlah sebuah hubungan satu arah yang mana orang tua mempengaruhi anak namun lebih dari itu, pengasuhan merupakan proses interaksi antara orang tua dan anak. Sehingga interaksi melalui dialog dua arah anatara orang tua-anak dirasa tepat memberikan pemahaman anak secara maksimal dan dapat membentuk superego secara maksimal pula.

Dalam tulisan ini juga memberikan alternatif yang tepat dimana kapan pemaksimalan dialog antara orang-anak yang dirasa tepat yaitu pada saat jeda ba’da sholat maghrib dan isya’. Mengapa pada saat tersebut dirasa tepat?

  1. Karena kegiatan tersebut dilakukan pada saat ba’da sholat maghrib dan isya’ maka orang tua bisa sekaligus menerapkan sholat berjamaah dengan anak.
  2. Karena pada saat-saat itu atmosfir atau suasana dirasa sangat cocok untuk memberikan pemahaman dan menanamkan esensi sholat, akhlak yang berdasarkan nilai-nilai ketuhanan, yang akhirnya dapat membentuk superego yang kuat.
  3. Karena pada saat itu orang tua terbebas dari pekerjaan kantor (bagi ayah) dan pekerjaan rumah tangga (bagi ibu), dan anakpun pada saat itu bebas dari aktivitas bermain.

 

Sedangkan pada isi dialog tersebut orang tua bisa mengisinya dengan mengenalkan dan memberikan pemahaman akan esensi shalat, akhlak, ketahuidan, nilai-nilai ketuhanan, karakter-karakter terpuji. Adapun juga orang tua bisa mengawali dialog tersebut dengan mengaji bersama kemudian menjelaskan apa yang sudah mereka bajakan dengan pemahaman yang dapat ditangkap oleh anak yaitu melalui cerita-cerita para nabi, rasulullah, dan para sahabat. Orang tua disini juga harus berperan aktif untuk memancing tanggapan anak seperti bagaimana tanggapan anak mengenai cerita contohnya cerita shalatnya para nabi serta akhlak terpuji para nabi sehingga dari tanggapan anak tersebut akan memicu dialog secara dua arah. dan akhirnya anak akan memiliki pemahaman secara terarah dan dapat mengambil kesimpulan dari pelajaran dari kisah-kisah para nabi, rasul, dan para sahabat. Dari kisah dan dialog tersebut akhirnya anak akan secara tidak langsung akan menanamkan pemahaman akan esensi shalat, sehingga mereka dapat mengetahui nikmat dari shalat sejak dini yang berpengaruh pada perilaku dan akhlak/ karakter baik dalam perilaku sehari-hari yang sesuai dengan yang dilakukan oleh nabi, rasul, dan para sahabat.

Ketika orang tua di Indonesia dapat melakukan sebagaimana solusi yang ditawarkan ini. maka harapan untuk menuju keteraturan masyarakat bukanlah hal yang mustahil jika memang anak-anak sebagai generasi penerus memiliki iman (superego) yang kuat. Sehingga mereka jauh dari tindak kejahatan, stress, depresi, dan skizofrenia.

BAB

PENUTUP

A.    Simpulan

Jadi, untuk membentuk keteraturan masyarakat maka peran orang tua sangatlah penting dan urgent dalam membentuk superego yang dalam islam dinamakan iman. Pembentukan superego inipun diharuskan ditanamkan sejak dini dengan memberikan pemahaman yang tepat akan sesuatu hal, dalam hal ini adalah pemahaman akan shalat. Sehingga jika anak sebagai generasi penerus bangsa dekat dengan Tuhan, memiliki iman yang kuat, akhlak yang baik, dan tiang agama yang kuat (shalat) maka permasalahan Indonesia saat ini yang menjadikan masyarakat Indonesia tidak teratur, seperti tindak kejahatan, stress, depresi, dan skizofrenia dapat terselesaikan dan tidak akan berakar ke generasi selanjutnya.

B.     Saran

Saran ini ditujukan kepada kita semua khususnya pada orang tua dan calon orang tua bahwa peran sebagai orang tua sangatlah penting dan urgent bagi anak yang merupakan penerus bangsa. Diharapkan orang tua dapat menerapkan program parenting DAS (Dialog After Shalat) yang ditawarkan oleh penulis. Dikarenakan program ini sangatlah efektif, sehingga orang tua dapat memaksimalkan perannya baik dari pengasuhan dan pemberian pemahaman akan suatu hal. Maka dengan orang tua dapat memaksimalkan perannya dengan  melaksanakan program ini sama dengan mereka menyelamatkan 10 generasi Indonesia dari ketidakteraturan dan keterpurukan akhlak.


DAFTAR PUSTAKA

 

Hawari, Dadang. 2006. Dimensi Religi Dalam Praktek Psikiatri Dan Psikologi. Balai Pustaka FKUI: Jakarta.

Andayani, Budi., Koentjoro. 2004. Peran Ayah Menuju Coparenting. Citra Media: Jakarta.

Alwisol. 2009. Psikologi Kepribadian. UMM Press: Malang

Roham & Jahim, Abu. 2001. Shalat Tiang Agama. Media Da’wah: Jakarta

Hawari, Dadang. 2008. Lima Besar Penyakit Mental Masyarakat. Balai Pustaka FKUI: Jakarta

Hawari, Dadang. 2007. Our Children Our Future: Dimensi Psikoreligi Pada Tumbuh Kembang Anak dan Remaja. Balai Pustaka FKUI: Jakarta

Sangkan, Abu. 2005. Pelatihan Shalat Khusyu’: Shalat Sebagai Meditasi Tertinggi Dalam Islam. Baitul Ihsan: Jakarta

Kohn, Alfie & Atmoko M. Rudi. Jangan Pukul Aku: Paradigma Baru Pola Pengasuhan Anak. Mizan Learning Center: Jakarta

Papalia, Old & Feldman. 2009. Human Development: Perkembangan Manusia. Jilid 1. Salemba Humanika: Jakarta

Hubungan Antara Kepercayaan Kejawen Dan Agama Islam Dalam Ritual Gunung Kawi Oleh Pengunjung Muslim

LAPORAN PENELITIAN

METODELOGI PENELITIAN

“Hubungan Antara  Kepercayaan Kejawen Dan Agama Islam Dalam Ritual Gunung Kawi Oleh Pengunjung Muslim”

 

Dosen:

Intan Rahmawati, S.Psi., M.Psi

 

 

Oleh:

Viny Alfiani                           (105120307111015)

 

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2012

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1.   Latar Belakang

Banyak sekali cerita di Jawa yang menggambarkan bahwa pemenuhan harapan orang kejawen tidak cukup hanya dengan bekerja dan bersembahyang. Ada upaya lain yang harus mereka lakukan. Upaya tersebut adalah ritual, yang dilaksanakan masyarakat sesuai dengan kepercayaan mereka terhadap berbagai mitos dan sejarah tempat-tempat keramat tertentu yang berkembang. Salah satu tempat ritual dan memiliki kepercayaan mitos yang kuat adalah Gunung Kawi.

Gunung Kawi  terletak di kabupaten Malang, berada di ketinggian 2860m dari permukaan laut. Gunung Kawi masih merupakan tempat kunjungan wisata religi favorit yang sampai saat ini masih banyak di kunjungi wisatawan dari berbagai daerah. Banyak orang yang menganggap, bahwa Gunung Kawi sangat berkaitan dengan hal-hal mistis terutama pesugihan. Di Gunung kawi juga tidak terlepas dari ritual-ritual kejawen yaitu mengelilingi pesarehan dalam jumlah ganjil yang afdhol dilakukan diatas jam 12 malam, duduk di pohon dewandaru, nyekar, mandi di air sumber dan selametan. Ritual-ritual tersebut dilakukan pada Jumat legi, Senin pahing, Malam syuro, dan Tahun baru.

Kebanyakan dari pengunjung Gunung Kawi adalah orang muslim yang bertujuan untuk berziarah. Kebanyakan dari orang muslim yang datang, meyakini bahwa kedua makam Kyai Raden Mas Zakaria II (mbah Djoego) dan Kyai Raden Mas Iman Soedjono (mbah Soedjo) yang merupakan Tokoh Utama di Gunung Kawi, Wonosari  adalah makam “Wali”. Tetapi orang-orang muslim pengunjung disana tidak hanya berziarah atau nyekar, mereka juga melakukan ritual-ritual seperti keliling pesarehan dalam jumlah ganjil di 4 pos yang mengarah ke makam, duduk di pohon dewandaru yang dipercaya sakral dan magis, mandi di air sumber, dan selametan.

Ritual yang ada di Gunung Kawi pada sebagian besar pengunjung sana, tanpa terkecuali orang muslim memaknai sebagai ritual yang dipercaya dalam rangka untuk memperoleh berkah atau minta perlindungan dari bencana atau juga untuk menangkal pengaruh buruk dari daya kekuatan gaib yang tidak dikehendaki yang akan membahayakan bagi kelangsungan kehidupan manusia.

Ritual-ritual tersebut tidak lepas dari kepercayaan Kejawen, Sehingga disini peneliti ingin mengetahui bagaimana kepercayaan kejawen mempengaruhi agama khususnya agama islam, bagaimana masyarakat atau pengunjung khususnya orang muslim mempercayai ritual tersebut dan sejauh apa mereka mempraktekkan apa yang mereka percayai, dll. Sehingga berdasarkan rasa ingin tahu yang tinggi disamping juga tugas salah satu mata kuliah Metode Penelitian, Peneliti melakukan penelitian dengan terjun langsung ke Gunung Kawi untuk mengamati fenomena yang terjadi disana berdasarkan apa yang telah menjadi spesifikasi tujuan pengamatan peneliti.

 

1.2.   Rumusan Masalah

  1. Apa pengertian dari kepercayaan Kejawen dan ritual?
  2. Apa pengertian dari agama Islam?
  3. Bagaimana hubungan antara kepercayaan kejawen dalam ritual Gunung Kawi dengan agama Islam?
  4. Apa saja yang mempengaruhi kepercayaan pengunjung muslim terhadap ritual Gunung Kawi?

 

1.3.   Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk  menjawab rasa ingin tahu peneliti akan fenomena yang terjadi di Gunung Kawi dan juga untuk menyelesaikan tugas Mata Kuliah Metode Penelitian.

 

1.4.   Manfaat Penelitian

Ada dua bentuk kemanfaatan yang bisa diambil dalam laporan penelitian kali ini:

Secara Teoritik

Secara teoritik laporan penelitian kali ini memungkinkan bisa dijadikan tolak ukur, referensi pada kajian yang memiliki kesamaan bahasan atau bahkan kajian ulang dalam rangka pembenahan atas segala bentuk kekurangan yang tereduksi dalam kajian ini, yang selanjutnya untuk diadakan penyempurnaan dengan pengkajian yang cukup komprehensif, sekaligus dalam rangka pengembangan pemikiran secara akademik.

Secara Praktis

Ketika hasil penelitian ini memiliki akurasi dan juga memiliki tingkat kebenaran yang secara rasional atau secara esensial bisa diterima oleh banyak kalangan, baik kalangan akademisi maupun masyarakat umum, maka tidaklah keliru untuk menjadikan penulisan laporan ini tidak hanya sebagai tugas kuliah atau literatur akademis saja, namun juga sebagai pengetahuan umum akan fenomena yang ada di gunung kawi, baik kepercayaan kejawennya, ritual yang dilakukan, islam kejawenya dan lain-lain.

 

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

 

2.1. Kepercayaan Kejawen

2.1.1. Kejawen

Kejawen adalah sebuah kepercayaan atau mungkin boleh dikatakan agama yang terutama dianut di pulau Jawa oleh suku Jawa dan suku bangsa lainnya yang menetap di Jawa.

Etimologi

Kata “Kejawen” berasal dari kata Jawa, sebagai kata benda yang memiliki arti dalam bahasa Indonesia yaitu segala yg berhubungan dengan adat dan kepercayaan Jawa (Kejawaan). Penamaan “kejawen” bersifat umum, biasanya karena bahasa pengantar ibadahnya menggunakan bahasa Jawa. Dalam konteks umum, kejawen merupakan bagian dari agama lokal Indonesia. Seorang ahli antropologi Amerika Serikat, Clifford Geertz pernah menulis tentang agama ini dalam bukunya yang ternama The Religion of Java atau dalam bahasa lain, Kejawen disebut “Agami Jawi”.

Kejawen dalam opini umum berisikan tentang seni, budaya, tradisi, ritual, sikap serta filosofi orang-orang Jawa. Kejawen juga memiliki arti spiritualistis atau spiritualistis suku Jawa. Penganut ajaran kejawen biasanya tidak menganggap ajarannya sebagai agama dalam pengertian seperti agama monoteistik, seperti Islam atau Kristen, tetapi lebih melihatnya sebagai seperangkat cara pandang dan nilai-nilai yang dibarengi dengan sejumlah laku (mirip dengan “ibadah”). Ajaran kejawen biasanya tidak terpaku pada aturan yang ketat, dan menekankan pada konsep “keseimbangan”. Dalam pandangan demikian, kejawen memiliki kemiripan dengan Konfusianisme atau Taoisme, namun tidak sama pada ajaran-ajarannya. Hampir tidak ada kegiatan perluasan ajaran (misi) namun pembinaan dilakukan secara rutin.

Simbol-simbol “laku” biasanya melibatkan benda-benda yang diambil dari tradisi yang dianggap asli Jawa, seperti keris, wayang, pembacaan mantera, penggunaan bunga-bunga tertentu yang memiliki arti simbolik, dan sebagainya. Akibatnya banyak orang (termasuk penghayat kejawen sendiri) yang dengan mudah mengasosiasikan kejawen dengan praktek klenik dan perdukunan.

Ajaran-ajaran kejawen bervariasi, dan sejumlah aliran dapat mengadopsi ajaran agama pendatang, baik Hindu, Buddha, Islam, maupun Kristen. Gejala sinkretisme ini sendiri dipandang bukan sesuatu yang aneh karena dianggap memperkaya cara pandang terhadap tantangan perubahan zaman.

 

2.1.1. Kepercayaan

Kepercayaan adalah kemauan seseorang untuk bertumpu pada orang lain dimana kita memiliki keyakinan padanya. Kepercayaan merupakan kondisi mental yang didasarkan oleh situasi seseorang dan konteks sosialnya. Ketika seseorang mengambil suatu keputusan, ia akan lebih memilih keputusan berdasarkan pilihan dari orang- orang yang lebih dapat ia percaya dari pada yang kurang dipercayai (Moorman, 1993).

Menurut Rousseau et al (1998), kepercayaan adalah wilayah psikologis yang merupakan perhatian untuk menerima apa adanya berdasarkan harapan terhadap perilaku yang baik dari orang lain.

Menurut Ba dan Pavlou (2002) mendefinisikan kepercayaan sebagai penilaian hubungan seseorang dengan orang lain yang akan melakukan transaksi tertentu sesuai  dengan harapan  dalam sebuah  lingkungan yang penuh ketidakpastian. Kepercayaan terjadi ketika seseorang yakin dengan reliabilitas dan integritas dari orang yang dipercaya (Morgan & Hunt, 1994).

Das dan Teng (1998) memberikan definisi atau pengertian kepercayaan (trust) sebagai derajat di mana seseorang yang percaya menaruh sikap positif terhadap keinginan baik dan keandalan orang lain yang dipercayanya di dalam situasi yang berubah ubah dan beresiko.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa kepercayaan kejawen adalah merupakan kondisi mental yang didasarkan oleh situasi seseorang dan konteks sosialnya di jawa, dimana seseorang mempercayai segala yg berhubungan dengan adat dan kepercayaan Jawa (Kejawaan).

Kepercayaan merupakan salah satu dari komponen sikap. Komponen sikap lainnya, diantaranya:

  1. Kognitif (kepercayaan/keyakinan)
  2. Afektif  (kehidupan emosional)
  3. Konatif (kecenderungan orang untuk bertindak)

 

Kepercayaan seringkali dihubungkan dengan agama, kepercayaan agama, sesuatu yang berhubungan dengan yang ghaib, atau makhluk halus, dan selainnya. Misalnya saja agama islam, agama hindhu, agama budha, islam kejawen, semuanya menjadi bahasan yang sering ketika memasuki pembahasan masalah kepercayaan. Kepercayaan dalam komponen sikap yang sudah dijelaskan sebelumnya, merupakan jenis kognitif (pemahaman), sehingga ketika ingin mengetahui proses munculnya kepercayaan, sama halnya dengan munculnya pemahaman seseorang. Yakni secara umum, adanya sosialisasi nilai, adanya stimulus yang mempengaruhi pandangan. Ketika stimulus ini semakin sering diterima oleh seseorang, maka lama-kelamaan akan terinternalisasi, atau juga ketika hanya satu kali stimulus namun merupakan suatu hal yang sangat sesuai dengan individu tersebut, maka akan langsung di-iya-kan dan akhirnya dipercayai/diyakini untuk menjadi kepercayaan.

Kepercayaan merupakan salah satu variabel yang berpengaruh pada terbentuknya perilaku, baik perilaku individu maupun masyarakat. Variabel pembentuk perilaku selainnya yakni value dan norma. Kepercayaan adalah keyakinan yang dianut oleh seseorang, dengan adanya kepercayaan itu, maka berpengaruh pada perilaku yang dilakukan oleh seseorang tersebut. Mengingat bahwa sesuatu yang diimani, pastinya akan menuntut sebuah perilaku. Ketika mempercayai sesuatu, maka perilaku harus sesuai dengan kepercayaan tersebut. Sehingga, kepercayaan yang dimiliki oleh seseorang, akan sangat berpengaruh pada terbentuknya perilaku. Semua perilaku yang dijalankan akan diusahakan sesuai dengan kepercayaan tersebut, jika tidak sesuai, maka akan menimbulkan kekhawatiran tersendiri bagi individu tersebut.

 

2.2.  Ritual

2.2.1. Pengertian Ritual

Pengertian ritual menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Tim Penyusun, 2001 : 959) adalah hal ihwal  ritus atau tata cara dalam upacara keagamaan. Upacara ritual atau ceremony adalah sistem atau rangkaian tindakan yang ditata oleh adat atau hukum yang berlaku dalam masyarakat yang berhubungan dengan berbagai macam peristiwa yang biasanya terjadi dalam masyarakat yang bersangkutan (Koentjaraningrat, 1990 : 190)

Dalam kajian antropologi agama, Victor Turner memberikan definisi ritual, menurut Turner ritual dapat diartikan sebagai perilaku tertentu yang bersifat formal, dilakukan dalam waktu tertentu secara berkala, bukan sekedar sebagai rutinitas yang bersifat teknis, melainkan menunjuk pada tindakan yang didasari oleh keyakinan religius terhadap kekuasaan atau kekuatan-kekuatan mistis.

Dalam analisis Djamari (1993: 36), ritual ditinjau dari dua segi: tujuan (makna) dan cara. Dari segi tujuan, ada ritual yang tujuan¬nya bersyukur kepada Tuhan; ada ritual yang tujuannya mendekatkan diri kepada Tuhan agar mendapatkan keselamatan dan rahmat; dan ada yang tujuannya meminta ampun atas kesalahan yang dilakukan. Adapun dari segi cara, ritual dapat dibedakan menjadi dua: individual dan kolektif. Sebagian ritual dilakukan secara perorangan, bahkan ada yang dilakukan dengan mengisolasi diri dari keramaian, seperti meditasi, bertapa, dan yoga. Ada pula ritual yang dilakukan secara kolektif (umum), seperti khotbah, salat berjamaah, dan haji.

George Homans (Djamari, 1993: 38) menunjukkan hubungan antara ritual dan kecemasan. Menurut Homans, ritual berawal dari kecemasan. Dari segi tingkatannya, ia membagi kecemasan menjadi: kecemasan yang bersifat “sangat”, yang ia sebut kecemasan primer; dan kecemasan yang biasa, yang ia sebut kecemasan sekunder.
Selanjutnya, Homans menjelaskan bahwa kecemasan primer melahirkan ritual primer; dan kecemasan sekunder melahirkan ritual sekunder. Oleh karena itu, ia mendefinisikan ritual primer sebagai upacara yang bertujuan mengatasi kecemasan meskipun tidak langsung berpengaruh terhadap tercapainya tujuan- dan ritual sekunder sebagai upacara penyucian untuk kompensasi kemungkinan kekeliruan atau kekurangan dalam ritual primer.
Berbeda dengan Homans, C. Anthony Wallace (Djamari, 1993: 39) meninjau ritual dari segi jangkauannya, yakni sebagai berikut.

  1. Ritual sebagai teknologi, seperti upacara yang berhubungan dengan kegiatan pertanian dan perburuan.
  2. Ritual sebagai terapi, seperti upacara untuk mengobati dan mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.
  3. Ritual sebagai ideologis -mitos dan ritual tergabung untuk mengendalikan suasana perasaan hati, nilai, sentimen, dan perilaku untuk kelompok yang baik. Misalnya, upacara inisiasi yang merupakan konfirmasi kelompok terhadap status, hak, dan tanggung jawab yang baru.
  4. Ritual sebagai penyelamatan (salvation), misalnya seseorang yang mempunyai pengalaman mistikal, seolah-olah menjadi orang baru; ia berhubungan dengan kosmos yang juga mempengaruhi hubungan dengan dunia profan.
  5. Ritual sebagai revitalisasi (penguatan atau penghidupan kembali). Ritual ini sama dengan ritual salvation yang bertujuan untuk penyelamatan tetapi fokusnya masyarakat.

 

2.2.2. Ritual Kejawen Di Gunung Kawi

Pengertian dari ritual kejawen adalah ritual yang didasarkan pada kepercayaan kejawen atau kepercayaan yang ada di budaya jawa. Ritual kejawen yang terdapat di Gunung Kawi yaitu:

  1. Ritual keliling pesarehan yaitu berjalan keliling makam dalam jumlah ganjil, ketika melewati setiap pintu, mereka berhenti sejenak didepannya untuk memanjatkan doaa-doa, lalu melanjutkan berjalan keliling makam.
  2. Ritual selamatan yaitu ritual yang dilakukan dalam bentuk selamatan berupa selamatan ayam, kambing, dll
  3. Ritual nyekar dengan membawa sesaji dan uang sumbangan
  4. Ritual duduk di dewandaru
  5. Ritual mandi di air sumber untuk pembersihan

 

2.3.   Agama Islam

2.3.1. Pengertian Islam

Dari segi kebahasaan, Islam berasal dari bahasa Arab yaitu dari kata salima yang mengandung arti selamat, sentosa, dan damai. Dari kata salima selanjutnya diubah menjadi bentuk aslama yang berarti berserah diri masuk dalam kedamaian. Oleh sebab itu orang yang berserah diri, patuh, dan taat kepada Allah swt. disebut sebagai orang Muslim. Dari uraian tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa kata Islam dari segi kebahasaan mengandung arti patuh, tunduk, taat, dan berserah diri kepada Allah swt. dalam upaya mencari keselamatan dan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Hal itu dilakukan atas kesadaran dan kemauan diri sendiri, bukan paksaan atau berpura-pura, melainkan sebagai panggilan dari fitrah dirinya sebagai makhluk yang sejak dalam kandungan telah menyatakan patuh dan tunduk kepada Allah.

Adapun pengertian Islam dari segi istilah, banyak para ahli yang mendefinisikannya; di antaranya Prof. Dr. Harun Nasution. Ia mengatakan bahwa Islam menurut istilah (Islam sebagai agama) adalah agama yang ajaran-ajarannya diwahyukan Tuhan kepada masyarakat manusia melalui Nabi Muhammad saw. sebagai Rasul. Islam pada hakikatnya membawa ajaran-ajaran yang bukan hanya mengenal satu segi, tetapi menganal berbagai segi dari kehidupan manusia.

Sementara itu Maulana Muhammad Ali mengatakan bahwa Islam adalah agama perdamaian; dan dua ajaran pokoknya, yaitu keesaan Allah dan kesatuan atau persaudaraan umat manusia menjadi bukti nyata bahwa agama Islam selaras benar dengan namanya. Islam bukan saja dikatakan sebagai agama seluruh Nabi Allah, sebagaimana tersebut dalam Al Qur’an, melainkan pula pada segala sesuatu yang secara tak sadar tunduk sepenuhnya pada undang-undang Allah.

 

2.3.1. Pengertian Agama Islam

Kata Islam, berasal dari kata ‘as la ma – yus li mu – Is la man’ artinya, tunduk, patuh, menyerahkan diri. Kata Islam terambil dari kata dasar sa la ma atau sa li ma yang artinya selamat, sejahtera, tidak cacat, tidak tercela. Dari akar kata sa la ma itu juga terbentuk kata salmun, silmun artinya damai patuh dan menyerahkan diri. Sedangkan kata agama, menurut bahasa Al-Qur’an banyak digunakan katadin.

Din dalam bahasa Smit berarti Undang-undang atau hukum. Dalam Al-Qur’an kata din mempunyai arti berarti “agama” dalam surat Al-Fath 28 di sebutkan:

“Dialah yang mengutus rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang hak agar di menangkan-Nya terhadapsemuaagama, Dan cukuplah Allahsebagaisaksi”

Kedua kata tersebut din dan Islam bila digabungkan menjadi DinulIslam yang biasa juga dipakai istilah Agama Islam. Agama Islam menurut terminologi banyak disampaikan oleh para ulama dan cendikiawan, antara lain dikutipkan di sini menurut Abullah Al-Masdoosi (cenikiawan muslim asal Pakistan) yang dikutip Endang Saifuddin Anshari :”menurut pandangan Islam, agama ialah kaidah hidup yang diturunkan kepada ummat manusia, sejak manusia digelar ke atas buana ini, dan terbina dalam bentuknya yang terakhir dan sempurna dalam Al-Qur’an yang suci yang diwahyukan Allah kepada Nabi-Nya yang terakhir yakni Muhammad bin Abdullah sebagai Rasulullah SAW., satu kaidah hidup yang memuat tuntunan yang jelas dan lengkap mengenai aspek hidup manusia baik spiritual maupun material.

Pada dasarnya agama Islam terdiri dari tiga unsur pokok yaitu iman, islam dan ihsan, meskipun ketiganya mempunyai pengertian yang berbeda tetapi dalam praktek satu sama lain saling terkait dan tidak dapat dipisahkan.

  1. Iman artinya membenarkan dengan hati, mengucapkan dalam perkataan dan merealisasikan dalam perbuatan akan adanya Allah Swt, dengan segala Kemaha sempurnaan-Nya, para Malaikat, Kitab-kitab Allah, para Nabi dan Rasul, hari akhir serta Qadha dan Qadhar.
  2. Islam artinya taat, tunduk, patuh dan menyerahkan diri dari segala ketentuan yang telah di tetapkan Allah Swt. Yang terdiri atas Syahadatain (dua kalimat Syahadat), Shalat, Puasa, Zakat dan Haji bagi yang mampu.
  3. Ihsan artinya berakhlak serta berbuat shalih sehingga dalam melaksanakan ibadah kepada Allah dan bermuamalah (interaksi) dengan sesama makhluk dilaksanakan dengan penuh keikhlasan seakan-akan Allah menyaksikan gerak-geriknya sepanjang waktu meskipun ia sendiri tidak melihatnya.

 

2.3.3. Pengertian Ritual Menurut Psikologi Islam

Salah satu aspek dari kehidupan beragama adalah bahwa agama mengandung usur ajaran yang disebut ritual (rites), ibadat, atau upacara keagamaan tertentu yang harus dilakukan oleh penganutnya, seperti menyembah Tuhan, berdo’a, berkorban, tawaf, dan lain sebagainya. Adanya ibadat atau ritual ini juga merupakan kelanjutan dari kepercayaan kepada hal-hal yang sakral. Kepercayaan kepada yang sakral menghendaki sikap tertentu dan melarang melakukan pantangan tertentu. Tuhan sebagai yang Maha suci harus disembah dalam berbagai kesempatan. Kitab suci Al-Qur’an harus dibaca secara rutin dan dipelajari isinya dengan penuh kesadaran.

Ritual dalam Islam yang terinklud dalam pilar-pilar Iman dan Islam, serta berkembang dalam ritus popular atau local, semuanya merupakan prilaku yang terstruktur dan bermakna dalam budaya Islam. 

Tidak heran jika upaya pemeliharaan terhadap ritual keagamaan ini perlu mendapat perhatian khusus. Agama sebagai sumber system nilai merupkan pedoman dan pendorong bagi manusia untuk memecahkan berbagai masalah hidupnya, tentu pada prilaku manusia yang menunjukan pada keridhaan Allah. Agama Islam adalah agama yang mengandung ketentuan-ketentuan keimanan (akidah), ibadah, mu’amalah (syari’ah) yang menentukan proses berfikir, berbuat, dan proses terbentuknya kata hati.

Ritual agama tentu memiliki ciri dan kekhasan tersendiri dari agama yang lainnya. Bentuk ritual yang berbeda inipun dalam perkembangannya memerlukan sikap dan nilai etika dalam hal menyikapi kekhasan masing-masing ritual agam-agama. Menurut Haryatmoko, Masalah kekhasan suatu agama tidak identik sama sekali dengan superioritasnya. Hendaknya tidak mencampur adukkan masalah kebenaran dengan masalah superioritas. Permasalahan utama ialah identitas khas (ritual) suatu agama, yang tetap menghormati identitas religious yang lain. Perbedaan agama menjadi tantangan untuk dijawab.Dari sinilah tampak bahwa ritual yang bersarang sebagai aspek penting dalam agama tentu memerlukan responsibility internal dan eksternal, baik individual maupun kelompok.

Sehingga secara umum, ritual dalam Islam dapat dibedakan menjadi dua: ritual yang mempunyai dalil yang tegas dan eksplisit dalam A1-Quran dan Sunnah; dan ritual yang tidak memiliki dalil, baik dalam Al-Quran maupun dalam Sunnah. Salah satu contoh ritual bentuk pertama adalah shalat. Sedangkan contoh ritual kedua adalah marhabaan, peringatan hari (bulan) kelahiran Nabi Muhammad Saw (rnuludan, Sunda), dan tahlil yang dilakukan keluarga ketika salah satu anggota keluarganya menunaikan ibadah haji atau meninggal dunia.

Dari segi tujuan, ritual Islam dapat dibedakan menjadi dua pula, yaitu ritual yang bertujuan mendapatkan ridla Allah semata dan balasan yang ingin dicapai adalah kebahagiaan ukhrawi; dan ritual yang bertujuan mendapatkan balasan di dunia ini, misalnya shalat istisqa, yang dilaksanakan untuk memohon kepada Allah agar berkenan menakdirkan turun hujan.
Dengan meminjam pembagian ritual menurut sosiolog (yang dalam tulisan ini diambil dari Homans), ritual dalam Islam juga dapat dibagi menjadi dua: ritual primer dan ritual sekunder.
Ritual primer adalah ritual yang merupakan kewajiban sebagai pemeluk Islam. Umpamanya, kewajiban melakukan salat Jumat bagi Muslim laki-laki. Di sebagian masyarakat Indonesia, terdapat kebiasaan salat i’adah, yaitu salat zuhur yang dilakukan secara berjamaah setelah salat Jumat.

2.4. Teori Representasi Sosial

Representasi sosial sebagai mempelajari hubungan yang terjadi antara pikiran awal atau pengetahuan yang bersifat opini umum dan pengetahuan keilmuan; menjelaskan proses terjadinya pemikiran sosial; pembiasaan akan hal-hal baru dan pemahaman kebaruan tersebut berdasarkan pengalaman sosial yang berfungsi suatu pandangan fungsional yang membiarkan individu atau kelompok memberikan makna atau arti terhadap tindakan yang dilakukannya, untuk mengerti suatu realita kehidupan sesuai dengan referensi yang mereka miliki, dan untuk beradaptasi terhadap realitas tersebut (Abric, 1976). Representasi sosial terdiri dari elemen informasi, keyakinan, pendapat, dan sikap tentang suatu obyek. Bagian-bagian ini terorganisasi dan terstruktur sehingga kemudian menjadi sistem sosial-kognitif seseorang.

Teori yang dikembangkan oleh Moscovici ini memiliki beberapa tujuan, yakni untuk mengarahkan perilaku. Paradigma utama merujuk pada dua proses besar pembentukan representasi sosial : obyektivasi (objectification) yang menjelaskan intervensi kelompok-kelompok social (norma, nilai, kode, dll, yang ikut campur sebagai meta-sistem yang mengatur proses kognitif) serta kendala-kendala komunikasi dalam penyeleksian dan pengaturan unsur-unsur representasi di satu pihak, dan pengakaran (anchoring) yang menjelaskan pengintegrasian informasi-informasi baru ke dalam sistem pengetahuan dan pemaknaan yang sudah ada, di lain pihak. Proses itu menjelaskan juga cara elemen-elemen tersebut diperkenalkan kembali,sebagai instrumen operasional, dalam interpretasi terhadap situasi dunia dan dalam interaksi dengan orang lain.

Paradigma ini juga menyediakan instrumen konseptual untuk analisis representasi social seperti hasil yang terbentuk, maksudnya pengaturan isi (yang merupakan ide, imajinasi, dan simbol), dikenali dalam berbagai pendukung (produksi diskursus atau ikon, peralatan materi, dan praktik secara individual atau kolektif) dan/atau yang beredar dalam masyarakat, melalui berbagai saluran komunikasi (percakapan, media, dan institusi).

Di dalamnya ada tiga dimensi (informasi, sikap, dan ranah representasi, yang mencakup gambaran, ekspresi nilai-nilai, kepercayaan, dan opini, dll). Dalam hal pembentukan isi yang berhubungan dengan komunikasi sosial yang langsung, 3 faktor (penyebaran dan kesenjangan informasi yang bisa berupa penundaan atau ketidakberfokusan, tekanan dalam inferensi seperti berkesimpulan sendiri bagi penutur, serta kepentingan penutur dan implikasinya pada komunikasi) akan mempengaruhi aspek-aspek kognitif dalam representasi dan membedakan pemikiran awam dalam pola penalarannya, logikanya, dan gayanya. Dalam hal komunikasi media terjadi efek-efek yang disebabkan oleh upaya untuk menarik perhatian publik, akan secara berbeda-beda mempengaruhi pembentukan sikap dan perilaku: dan propaganda yang bersifat stereotip. Perkembangan terakhir teori Moscovici, menekankan pembedaan antara tipe-tipe pemikiran (magis, ilmiah, ideologis); peran thêmata, struktur-struktur biner yang mapan, yang mendukung pembentukan representasi-representasi baru; dasar subyektif dari representasi sosial dan cara menarik pengikut yang menjadi obyeknya pada saat representasi sosial telah berakar di dalam sejarah kebudayaan dalam bentuk kepercayaan.

 

2.5. Teori Hirarki Kebutuhan

Kebutuhan dapat didefinisikan sebagai suatu kesenjangan atau pertentangan yang dialami antara satu kenyataan dengan dorongan yang ada dalam diri. Menurut Abraham Maslow manusia mempunyai lima kebutuhan yang membentuk tingkatan-tingkatan atau disebut juga hirarki dari yang paling penting hingga yang tidak penting dan dari yang mudah hingga yang sulit untuk dicapai atau didapat. Motivasi manusia sangat dipengaruhi oleh kebutuhan mendasar yang perlu dipenuhi.

Kebutuhan maslow harus memenuhi kebutuhan yang paling penting dahulu kemudian meningkat ke yang tidak terlalu penting. Untuk dapat merasakan nikmat suatu tingkat kebutuhan perlu dipuaskan dahulu kebutuhan yang berada pada tingkat di bawahnya.
Lima (5) kebutuhan dasar Maslow – disusun berdasarkan kebutuhan yang paling penting hingga yang tidak terlalu krusial :

  1. 1.      Kebutuhan Fisiologis. Kebutuhan fisiologis adalah kebutuhan manusia yang paling mendasar untuk mempertahankan hidupnya secara fisik, yaitu kebutuhan akan makanan, minuman, tempat tinggal, seks, tidur, istirahat, dan udara. Seseorang yang mengalami kekurangan makanan, harga diri, dan cinta, pertama-tama akan mencari makanan terlebih dahulu. Bagi orang yang berada dalam keadaan lapar berat dan membahayakan, tak ada minat lain kecuali makanan. Bagi masyarakat sejahtera jenis-jenis kebutuhan ini umumnya telah terpenuhi. Ketika kebutuhan dasar ini terpuaskan, dengan segera kebutuhan-kebutuhan lain (yang lebih tinggi tingkatnya) akan muncul dan mendominasi perilaku manusia.
  2. 2.      Kebutuhan Keamanan dan Keselamatan. Segera setelah kebutuhan dasariah terpuaskan, muncullah apa yang digambarkan Maslow sebagai kebutuhan akan rasa aman atau keselamatan. Kebutuhan ini menampilkan diri dalam kategori kebutuhan akan kemantapan, perlindungan, kebebasan dari rasa takut, cemas dan kekalutan; kebutuhan akan struktur, ketertiban, hukum, batas-batas, dan sebagainya. Kebutuhan ini dapat kita amati pada seorang anak. Biasanya seorang anak membutuhkan suatu dunia atau lingkungan yang dapat diramalkan. Seorang anak menyukai konsistensi dan kerutinan sampai batas-batas tertentu. Jika hal-hal itu tidak ditemukan maka ia akan menjadi cemas dan merasa tidak aman. Orang yang merasa tidak aman memiliki kebutuhan akan keteraturan dan stabilitas serta akan berusaha keras menghindari hal-hal yang bersifat asing dan tidak diharapkan.
  3. 3.      Kebutuhan Sosial. Setelah terpuaskan kebutuhan akan rasa aman, maka kebutuhan sosial yang mencakup kebutuhan akan rasa memiliki-dimiliki, saling percaya, cinta, dan kasih sayang akan menjadi motivator penting bagi perilaku. Pada tingkat kebutuhan ini, dan belum pernah sebelumnya, orang akan sangat merasakan tiadanya sahabat, kekasih, isteri, suami, atau anak-anak. Ia haus akan relasi yang penuh arti dan penuh kasih dengan orang lain pada umumnya. Ia membutuhkan terutama tempat (peranan) di tengah kelompok atau lingkungannya, dan akan berusaha keras untuk mencapai dan mempertahankannya. Orang di posisi kebutuhan ini bahkan mungkin telah lupa bahwa tatkala masih memuaskan kebutuhan akan makanan, ia pernah meremehkan cinta sebagai hal yang tidak nyata, tidak perlu, dan tidak penting. Sekarang ia akan sangat merasakan perihnya rasa kesepian itu, pengucilan sosial, penolakan, tiadanya keramahan, dan keadaan yang tak menentu.
  4. 4.      Kebutuhan Penghargaan. Menurut Maslow, semua orang dalam masyarakat (kecuali beberapa kasus yang patologis) mempunyai kebutuhan atau menginginkan penilaian terhadap dirinya yang mantap, mempunyai dasar yang kuat, dan biasanya bermutu tinggi, akan rasa hormat diri atau harga diri. Karenanya, Maslow membedakan kebutuhan ini menjadi kebutuhan akan penghargaan secara internal dan eksternal. Yang pertama (internal) mencakup kebutuhan akan harga diri, kepercayaan diri, kompetensi, penguasaan, kecukupan, prestasi, ketidaktergantungan, dan kebebasan (kemerdekaan). Yang kedua (eksternal) menyangkut penghargaan dari orang lain, prestise, pengakuan, penerimaan, ketenaran, martabat, perhatian, kedudukan, apresiasi atau nama baik. Orang yang memiliki cukup harga diri akan lebih percaya diri. Dengan demikian ia akan lebih berpotensi dan produktif. Sebaliknya harga diri yang kurang akan menyebabkan rasa rendah diri, rasa tidak berdaya, bahkan rasa putus asa serta perilaku yang neurotik. Kebebasan atau kemerdekaan pada tingkat kebutuhan ini adalah kebutuhan akan rasa ketidakterikatan oleh hal-hal yang menghambat perwujudan diri. Kebutuhan ini tidak bisa ditukar dengan sebungkus nasi goreng atau sejumlah uang karena kebutuhan akan hal-hal itu telah terpuaskan.
  5. 5.      Kebutuhan Akutualisasi Diri (Self Actualization) Setiap orang ingin mengembangkan kapasitas kerjanya dengan baik. Hal ini merupakan kebutuhan untuk mewujudkan segala kemampuan (kebolehannya) dan seringkali nampak pada hal-hal yang sesuai untuk mencapai citra dan cita diri seseorang. Dalam motivasi kerja pada tingkat ini diperlukan kemampuan manajemen untuk dapat mensinkronisasikan antara cita diri dan cita organisasi untuk dapat melahirkan hasil produktivitas organisasi yang lebih tinggi.

 

2.5. Kerangka Pemikiran

                                      Kepercayaan Kejawen

Kepercayaan                                                                      Proses Kognitif          Perilaku Ritual

                                       Kepercayaan Islam

Motivasi

 

 

 

 

 

 

BAB III

METODELOGI PENELITIAN

 

3.1.   Metode Penelitian

Metode penelitian yang digunakan peneliti adalah metode penelitian kualitatif. Metode penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat postpositivisme, digunakan untuk meneliti pada kondisi objek yang alamiah, dimana peneliti adalah instrument kunci. Hasil dari penelitian kualitatif lebih menekankan makna. Denzin dan Lincoln (Moleong, 2007:5), metode penelitian kualitatif merupakan penelitian yang menggunakan latar alamiah, dengan maksud menafsirkan fenomena yang terjadi. Dengan berbagai karakteristik khas yang dimiliki, penelitian kualitatif memiliki keunikan tersendiri sehingga berbeda dengan penelitian kuantitatif.

 

3.2.  Subjek Penelitian

Subjek dari penelitian ini adalah pengunjung gunung kawi yang peneliti spesifikasikan pada pengunjung muslim. Sehingga pengambilan subjek, peneliti menggunakan purposive sampling, yaitu menentukan subjek/objek sesuai dengan tujuan.

 

3.3.   Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian yang dilakukan peneliti bertempat di Gunung Kawi, kecamatan Wonosari, kabupaten Malang, Jawa Timur.

 

3.4.   Teknik Pengumpulan Data

  1. Observasi

Observasi atau pengamatan merupakan suatu teknik atau cara mengumpulkan data dengan jalan mengadakan pengamatan terhadap kegiatan yang sedang berlangsung. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan observasi dalam bentuk observasi partisipan, dimana dalam observasi ini peneliti ikut berpartisipasi dengan terjun secara langsung apa yang dilakukan oleh subjek. Susan Stainback (1988) menyatakan “In participant observation, the researcher observes what their activities”. Dalam observasi partisipatif, peneliti mengamati apa yang dikerjakan orang, mendengarkan apa yang mereka ucapkan, dan berpatisipasi dalam aktivitas mereka.

  1. Wawancara

Wawancara adalah proses pengumpulan data atau informasi melalui tatap muka antara pihak penanya (interviewer) dengan pihak yang ditanya atau penjawab (interviewee). Wawancara yang dilakukan oleh peneliti adalah dengan wawancara mendalam yang dilakukan dalam konteks observasi partisipasi. Wawancara mendalam adalah suatu proses mendapatkan informasi untuk kepentingan penelitian dengan cara dialog antara peneliti dengan yang diteliti.

 

3.5.   Validity

Uji keabsahan berdasarkan ketepatan antara data yang terjadi pada objek penelitian dengan daya yang dilaporkan oleh peneliti ditunjukkan dengan memastikan ketepatan validitas, yang terdiri dari reflective validity, ironic validity, neo-pragmatic validity, rhizomatic validity, dan situated validity.

 

3.6.   Reliability

Uji keabsahan berdasarkan dengan derajad kekonsistenan dan stabilitas data atau temuan juga ditunjukkan oleh peneliti dengan berdasarkan kondisi di lapangan (Quixotic Reliability), terdapat sumber yang jelas berupa buku sejarah (Diachronic Reliability), dan mengacu pada kesuaian data (Synchronic Reliability).

 

BAB IV

PEMBAHASAN

 

4.1.   Hubungan Antara Kepercayaan Kejawen Dalam Ritual Gunung Kawi Dengan Agama Islam

Di dalam ritual gunung kawi tidak terlepas dari kepercayaan kejawen (kepercayaan Jawa). Ritual yang terdapat di gunung kawi seperti ritual keliling pesarean dalam jumlah ganjil, selamatan, nyekar, duduk di pohon dewandaru, mandi di air sumber merupakan bentuk-bentuk ritual yang melekat dengan kebudayaan jawa.

Pada fenomena yang dapat dilihat di dalam Gunung Kawi banyak terdapat pengunjung muslim yang datang kesana baik untuk berziarah maupun juga melakukan ritual-ritual yang terdapat di sana. Berdasarkan analisa fakta yang ada di sana, terdapat hubungan antara kepercayaan kejawen dalam ritual gunung kawi dengan agama islam.

Jika dikaitkan dengan sejarah penyebaran islam. Penyebaran islam di pulau Jawa memang berbeda dengan pulau lainya. Pada penyebaran islam di pulau ini menggunkanan perantara budaya sebagai sarana mediator penyebarannya. Seperti menggunakan wayang, gamelan, dll. Aspek-aspek kepercayaan jawa pun digabungkan ke dalam ibadah islam. Contohnya pada saat dulu islam belum masuk di pulau jawa para penduduk jawa ketika di suatu daerah terdapat orang yang mati, maka akan dilakukan ritual-ritual sesajen, penjagaan roh, dll. Tetapi setelah penyebaran islam memasuki jawa aktivitas tersebut dirubah dengan melakukan tahlilan, selamatan pada 7 hari, 40 hari, 100 hari, dan 1000 harinya.

Dari metode penyebaran agama islam yang sangat terkait dengan media budaya jawa menyebabkan adanya percampuran antara kepercayaan kejawen dengan islam sehingga terjalinnya sebuah hubungan yang akhirnya membentuk islam kejawen. Islam kejawen ini merupakan islam yang sangat dipengaruhi oleh animesme kejawen/ kepercayaan kejawen. Sehingga dalam perilaku ibadahnya juga menggabungkan syariat islam dan budaya jawanya.

Berdasarkan sejarahnya masuknya islam yang menggunakan media budaya jawa ini kita bisa menganalisa mengapa banyak pengunjung muslim yang datang di gunung kawi mereka disana tetap melakukan ritual-ritual gunung kawi yang mengandung kepercayaan kejawen. Hal ini tidak lepas dari faktor pengaruh budaya dimana kita tinggal. Dimana masyarakat jawa tidak serta merta bisa melupakan budaya jawa dalam ritual ibadahnya.

Dalam analisis Djamari (1993: 36), ritual ditinjau dari dua segi: tujuan (makna) dan cara. Dari segi tujuan, ada ritual yang tujuannya bersyukur kepada Tuhan; ada ritual yang tujuannya mendekatkan diri kepada Tuhan agar mendapatkan keselamatan dan rahmat; dan ada yang tujuannya meminta ampun atas kesalahan yang dilakukan. Ritual yang terdapat di Gunung Kawi pun seperti ritual keliling pesarean, nyekar, selametan, duduk di pohon dewandaru menurut anggapan pengunjung juga merupakan bentuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Sehingga dari tujuan tersebut pengunjung muslim di Gunung kawi melakukan ritual-ritual tersebut dengan alasan mendekatkan diri dan mencari rahmat Allah.

Adapun beberapa hal yang menguatkan kepercayaan kejawen dalam ritual-ritual gunung kawi dengan agama islam, yaitu menurut salah satu orang ahli yang berada di Gunung Kawi ritual seperti keliling pesarean dalam jumlah ganjil merupakan adaptasi layaknya thowaf  yang ada di Mekkah. Sehingga ritual tersebut tidak serta merta adaptasi dari kepercayaan kejawen saja.

 

4.2.   Pembentukan Kepercayaan Pengunjung Muslim Terhadap Ritual Gunung Kawi

Kepercayaan dalam komponen sikap yang sudah dijelaskan sebelumnya, merupakan jenis kognitif (pemahaman), sehingga ketika ingin mengetahui proses munculnya kepercayaan, sama halnya dengan munculnya pemahaman seseorang. Yakni secara umum, adanya sosialisasi nilai, adanya stimulus yang mempengaruhi pandangan. Ketika stimulus ini semakin sering diterima oleh seseorang, maka lama-kelamaan akan terinternalisasi, atau juga ketika hanya satu kali stimulus namun merupakan suatu hal yang sangat sesuai dengan individu tersebut, maka akan langsung di-iya-kan dan akhirnya dipercayai/diyakini untuk menjadi kepercayaan.

Kepercayaan merupakan salah satu variabel yang berpengaruh pada terbentuknya perilaku, baik perilaku individu maupun masyarakat. Variabel pembentuk perilaku selainnya yakni value dan norma. Kepercayaan adalah keyakinan yang dianut oleh seseorang, dengan adanya kepercayaan itu, maka berpengaruh pada perilaku yang dilakukan oleh seseorang tersebut. Mengingat bahwa sesuatu yang diimani, pastinya akan menuntut sebuah perilaku. Ketika mempercayai sesuatu, maka perilaku harus sesuai dengan kepercayaan tersebut. Sehingga, kepercayaan yang dimiliki oleh seseorang, akan sangat berpengaruh pada terbentuknya perilaku. Semua perilaku yang dijalankan akan diusahakan sesuai dengan kepercayaan tersebut, jika tidak sesuai, maka akan menimbulkan kekhawatiran tersendiri bagi individu tersebut.

Berdasarkan fenomena yang ada di Gunuung Kawi, sebagain besar para pengunjung Gunung Kawi percaya bahwa aktivitas ritual seperti keliling pesarehan, nyekar, duduk di pohon dewandaru, selamatan merupakan kegiatan yang mendatangkan berkah, kesuksesan, dan keberhasilan dalam hidup. Sehingga tidak sedikit pengunjung gunung kawi khususnya yang muslim datang ke sana dikarenakan ingin mendapat berkah, kesuksesan akibat kehidupan sebelumnya yang gagal atau kurang sukses.

Salah satu bentuk fakta yang terdapat di lapangan menunjukkan bahwa pengunjung percaya dengan ritual-ritual gunung kawi adalah banyaknya pengunjung yang melakukan ritual-ritual tersebut. Hal ini menunjukkan adanya korelasi antara kepercayaan dengan pengarahan perilaku menujun kepercayaan tersebut. Sehingga benar jika pengunjung percaya dengan ritual tersebut sebagai pembewa sukses dan keberkahan, maka dia akan melakukan ritual tersebut.

 

4.2.1.Proses terbentuknya kepercayaan menurut teori representasi sosial

Terbentuknya kepercayaan tidak lepas dari faktor kognitif, dimana individu mengolah secara kognitif informasi yang diberikan, sugesti, pengaruh dari luar untuk di yakini atau dipercayai. Berdasarkan teori representasi sosial yang disampaikan oleh kita bisa melihat bagaimana proses pembentukan kepercayaan para pengunjung gunung kawi khususnya pengunjung muslim yang sangat dipengaruhi oleh sugesti, pengaruh dari luar yang di proses secara kognitif.

Representasi sosial ini  menjelaskan proses terjadinya pemikiran sosial; pembiasaan akan hal-hal baru dan pemahaman kebaruan tersebut berdasarkan pengalaman sosial yang berfungsi suatu pandangan fungsional yang membiarkan individu atau kelompok memberikan makna atau arti terhadap tindakan yang dilakukannya, untuk mengerti suatu realita kehidupan sesuai dengan referensi yang mereka miliki, dan untuk beradaptasi terhadap realitas tersebut (Abric, 1976).

Sesuai dengan data penelitian di gunung kawi, pemahaman pengunjung akan gunung kawi juga sangat mempengaruhi kepercayaan tersebut. Sehingga tindakan yang dilakukan pengunjung kawi seperti melakukan ritual-ritual yang ada dimaknai sebagai usaha dalam mendapat sesuatu, yang tidak lepas dari pengamatan yang dilakukan oleh pengunjung lain disana.

Adapun elemen-elemen terbentuknya  kepercayaan adalah:

 

  1. Elemen informasi

Elemen informasi ini merupakan elemen penting dalam pembentukan kepercayaan. Dimana dalam elemen ini informasi awal dari luar diproses secara kognitif untuk pemberian makna atau interpretasi. Dalam kasus yang ada, pengunjung gunung kawi sebagian yang datang mendapatkan informasi tentang gunung kawi dari teman, keluarga, tetangga, dll yang pernah datang kesana dan mendapatkan keberkahan dalam kehidupan berupa kesusksesan atau kesehatan. Setelah pemberian informasi tersebut dimaksukkan ke dalam proses kognitif berupa internalisasi untuk mendapatkan pemaknaan.

  1. Keyakinan

Setelah individu mendapatkan pemaknaan akan informasi tersebut maka elemen selanjutnya yang penting dalam pembentukan kepercayaan adalah keyakinan. Dalam tahap ini keyakinan akan diperkuat jika individu sudah melakukan sesuatu sesuai dengan informasi yang didapat dan mendapatkan hal positif yang didapat. Hal ini juga yang dilakukan oleh pengunjung di gunung kawi, dimana setelah mereka tertarik akan cerita gunung kawi yang dapat memberikan kesuksesan dan keberkahan. Maka mereka akan datang kesana dan setelah mereka merasakan efek dari datang kesana, maka keyakinan tersebut akan muncul dan diperkuat dengan datang kesana lagi.

  1. Pendapat

Elemen ini merupakan bentuk dari pendapat individu mengenai informasi tertentu. Sesuai dengan data yang ditemui, ketika pengunjung mendapatkan kesuksesan dan keberkahan selama berkunjung di gunung kawi, maka mereka akan memberikan pendapat yang positif akan gunung kawi.

  1. Sikap tentang suatu obyek.

Sikap individu terhadap suatu objek sangat dipengaruhi oleh keyakinan akan suatu informasi tersebut. Sehingga ketika pengunjung muslim gunung kawi percaya akan manfaat datang kesana maka mereka akan menunjukkan sikap pro akan aktivitas ritual di gunung kawi dengan melakukan ritual-ritual tersebut.

 

Bagian-bagian ini terorganisasi dan terstruktur sehingga kemudian menjadi sistem sosial-kognitif seseorang.

 

4.2.2.Pengaruh Motivasi terhadap terbentuknya perilaku ritual dan pengaruhnya dalam kepercayaan

Motivasi seseorang akan suatu hal akan mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu untuk mencapai tujuan tertentu. Pada fenomena yang terdapat di gunung kawi, motivasi seseorang datang kesana khususnya pengunjung muslim adalah karena ingin mendapatkan berkah dan kesuksesan yang merupakan bentuk dari kebutuhan manusia. Berdasarkan teori Hirarki Kebutuhan Abraham Maslow yang terdiri dari:

  1. Kebutuhan Fisiologis. Kebutuhan fisiologis adalah kebutuhan manusia yang paling mendasar untuk mempertahankan hidupnya secara fisik, yaitu kebutuhan akan makanan, minuman, tempat tinggal, seks, tidur, istirahat, dan udara. Salah satu alasan dari pengungjung datang ke gunung kawi adalah untuk sukses dan keberhasilan dalam hidup. Sehingga kebutuhan-kebutuhan dasarnya mereka dapat terpenuhi.
  2. Kebutuhan Keamanan dan Keselamatan. Segera setelah kebutuhan dasariah terpuaskan, muncullah apa yang digambarkan Maslow sebagai kebutuhan akan rasa aman atau keselamatan. Kebutuhan ini menampilkan diri dalam kategori kebutuhan akan kemantapan, perlindungan, kebebasan dari rasa takut, cemas dan kekalutan. Motivasi untuk memenuhi kebutuhan ini juga tampak di pengunjung muslim gunung kawi, dimana mereka datang kesana dikarenakan ingin sehat, jauh dari sakit, serta ingin berhasil dan sukses sehingga jauh dari ketakutan serta kecemasan terhadap kegagalan dan kurangnya sejahtera.
  3. Kebutuhan Sosial. Setelah terpuaskan kebutuhan akan rasa aman, maka kebutuhan sosial yang mencakup kebutuhan akan rasa memiliki-dimiliki, saling percaya, cinta, dan kasih sayang akan menjadi motivator penting bagi perilaku. Kedatangan ke gunung kawi karena ingin mendapatkan jodoh juga tidak lepas dari faktor kebutuhan ini.
  4. Kebutuhan Penghargaan. Menurut Maslow, semua orang dalam masyarakat (kecuali beberapa kasus yang patologis) mempunyai kebutuhan atau menginginkan penilaian terhadap dirinya yang mantap, mempunyai dasar yang kuat, dan biasanya bermutu tinggi, akan rasa hormat diri atau harga diri. Pada pengunjung di gunung kawi motivasi akan pemenuhan kebutuhan penghargaan ini tidak lepas jika seseorang dalam kedudukannya mengalami perubahan kearah yang positif yaitu bertambah sukses, berhasil dalam karir dll, masyarakat sekitar pasti akan memberikan penghargaan terhadap individu tersebut.
  5. Kebutuhan Akutualisasi Diri (Self Actualization) Setiap orang ingin mengembangkan kapasitas kerjanya dengan baik. Hal ini merupakan kebutuhan untuk mewujudkan segala kemampuan (kebolehannya) dan seringkali nampak pada hal-hal yang sesuai untuk mencapai citra dan cita diri seseorang. Aktualisasi diri ini juga tidak lepas dari ingin mendekatkan diri dengan Tuhan. Sehingga pengunjung disana juga beranggapan bahwa dengan datang kesana merupakan salah stu aktivitas yang dapat mendekatkan diri dengan Tuhan.

Berdasarkan kebutuhan-kebutuhan pengunjung muslim di gunung kawi. Maka menyebabkan mereka datang ke gunung kawi dan melakukan ritual-ritual tersebut sebagai salah satu bentuk dari usaha mereka untuk menadapatkan kebutuhan tersebut.

Jika dikaitkan dengan kepercayaan maka seseorang yang memiliki motivasi atau dorongan akan pemenuhan kebutuhan akan percaya dengan segala apapun yang menghantarkan mereka pada pemenuhan kebutuhan tersebut. Sehingga jika seseorang sudah termotivasi dan memiliki kepercayaan maka akan menimbulkan perilaku sesuai dengan kepercayaan dan motivasi mereka dalam pemenuhan kebutuhan.

 

BAB V

PENUTUP

 

5.1. Kesimpulan

Terdapat hubungan yang saling terkait antara kepercayaan jawa dengan agama islam. Dimana penganut agama islam di jawa tidak terlepas dari ritual-ritual budaya jawa seperti selamatan, nyekar, dll. Kepercayaan yang didapat oleh pengunjung di gunung ini merupakan hasil dari proses kognif yang dikaitkan dengan teori representasi sosial dalam pembentukaanya. Kepercayaan pengunjung akan ritual-ritual gunung yang dapat memberikan keberkahan dan kesuksesan juga menjadikan arahan dalam pembentukan perilaku. Sehingga seseorang akan melakukan sesuatu hal pasti di dasarkan pada kepercayaan bahwa perilaku tersebut sesuai dengan apa yang dia yakini. Motivasi dalam pemenuhan kebutuhan juga merupakan penguat dari perilaku ritual gunung kawi oleh pengunjung muslim.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Satori Djam’an., Komariah Aan. 2011. Metode Penelitian Kualitatif. Alfabeta: bandung

Sugiyono. 2008. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Alfabeta: bandung

Munandar Ashar Sunyoto. 2010. Psikologi Industri dan Organisasi. UI Press: Jakarta

Solso, Robert L., Maclin, Otto H., Maclin M. K. 2007. Psikologi Kognitif. Erlangga: Jakarta

Alwisol. 2009. Psikologi Kepribadian. UMM Press: Malang

Simuh, Islam dan Pergumulan Budaya Jawa, (Jakarta Selatan : Teraju, 2003).

http://wisata.kompasiana.com

http://akhfa14.wordpress.com/2012/02/06/representasi-sosial/

http://kolokiumkpmipb.wordpress.com/tag/representasi-sosial/

http://www.docstoc.com/docs/20428553/LATAR-BELAKANG-TEORETIK-TEORI-REPRESENTASI-SOSIAL

http://kumpulan-teori-skripsi.blogspot.com/2011/09/teori-hirarki-kebutuhan.html

http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2009/11/motivasi-teori-hirarki-kebutuhan-maslow/

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Hubungan Antara Kepercayaan Kejawen Dan Agama Islam Dalam Ritual Gunung Kawi Oleh Pengunjung Muslim

LAPORAN PENELITIAN

METODELOGI PENELITIAN

“Hubungan Antara  Kepercayaan Kejawen Dan Agama Islam Dalam Ritual Gunung Kawi Oleh Pengunjung Muslim”

 

Dosen:

Intan Rahmawati, S.Psi., M.Psi

 

 

 

 

Oleh:

Viny Alfiani                           (105120307111015)

 

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2012

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1.   Latar Belakang

Banyak sekali cerita di Jawa yang menggambarkan bahwa pemenuhan harapan orang kejawen tidak cukup hanya dengan bekerja dan bersembahyang. Ada upaya lain yang harus mereka lakukan. Upaya tersebut adalah ritual, yang dilaksanakan masyarakat sesuai dengan kepercayaan mereka terhadap berbagai mitos dan sejarah tempat-tempat keramat tertentu yang berkembang. Salah satu tempat ritual dan memiliki kepercayaan mitos yang kuat adalah Gunung Kawi.

Gunung Kawi  terletak di kabupaten Malang, berada di ketinggian 2860m dari permukaan laut. Gunung Kawi masih merupakan tempat kunjungan wisata religi favorit yang sampai saat ini masih banyak di kunjungi wisatawan dari berbagai daerah. Banyak orang yang menganggap, bahwa Gunung Kawi sangat berkaitan dengan hal-hal mistis terutama pesugihan. Di Gunung kawi juga tidak terlepas dari ritual-ritual kejawen yaitu mengelilingi pesarehan dalam jumlah ganjil yang afdhol dilakukan diatas jam 12 malam, duduk di pohon dewandaru, nyekar, mandi di air sumber dan selametan. Ritual-ritual tersebut dilakukan pada Jumat legi, Senin pahing, Malam syuro, dan Tahun baru.

Kebanyakan dari pengunjung Gunung Kawi adalah orang muslim yang bertujuan untuk berziarah. Kebanyakan dari orang muslim yang datang, meyakini bahwa kedua makam Kyai Raden Mas Zakaria II (mbah Djoego) dan Kyai Raden Mas Iman Soedjono (mbah Soedjo) yang merupakan Tokoh Utama di Gunung Kawi, Wonosari  adalah makam “Wali”. Tetapi orang-orang muslim pengunjung disana tidak hanya berziarah atau nyekar, mereka juga melakukan ritual-ritual seperti keliling pesarehan dalam jumlah ganjil di 4 pos yang mengarah ke makam, duduk di pohon dewandaru yang dipercaya sakral dan magis, mandi di air sumber, dan selametan.

Ritual yang ada di Gunung Kawi pada sebagian besar pengunjung sana, tanpa terkecuali orang muslim memaknai sebagai ritual yang dipercaya dalam rangka untuk memperoleh berkah atau minta perlindungan dari bencana atau juga untuk menangkal pengaruh buruk dari daya kekuatan gaib yang tidak dikehendaki yang akan membahayakan bagi kelangsungan kehidupan manusia.

Ritual-ritual tersebut tidak lepas dari kepercayaan Kejawen, Sehingga disini peneliti ingin mengetahui bagaimana kepercayaan kejawen mempengaruhi agama khususnya agama islam, bagaimana masyarakat atau pengunjung khususnya orang muslim mempercayai ritual tersebut dan sejauh apa mereka mempraktekkan apa yang mereka percayai, dll. Sehingga berdasarkan rasa ingin tahu yang tinggi disamping juga tugas salah satu mata kuliah Metode Penelitian, Peneliti melakukan penelitian dengan terjun langsung ke Gunung Kawi untuk mengamati fenomena yang terjadi disana berdasarkan apa yang telah menjadi spesifikasi tujuan pengamatan peneliti.

 

1.2.   Rumusan Masalah

  1. Apa pengertian dari kepercayaan Kejawen dan ritual?
  2. Apa pengertian dari agama Islam?
  3. Bagaimana hubungan antara kepercayaan kejawen dalam ritual Gunung Kawi dengan agama Islam?
  4. Apa saja yang mempengaruhi kepercayaan pengunjung muslim terhadap ritual Gunung Kawi?

 

1.3.   Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk  menjawab rasa ingin tahu peneliti akan fenomena yang terjadi di Gunung Kawi dan juga untuk menyelesaikan tugas Mata Kuliah Metode Penelitian.

 

 

 

 

 

1.4.   Manfaat Penelitian

Ada dua bentuk kemanfaatan yang bisa diambil dalam laporan penelitian kali ini:

Secara Teoritik

Secara teoritik laporan penelitian kali ini memungkinkan bisa dijadikan tolak ukur, referensi pada kajian yang memiliki kesamaan bahasan atau bahkan kajian ulang dalam rangka pembenahan atas segala bentuk kekurangan yang tereduksi dalam kajian ini, yang selanjutnya untuk diadakan penyempurnaan dengan pengkajian yang cukup komprehensif, sekaligus dalam rangka pengembangan pemikiran secara akademik.

Secara Praktis

Ketika hasil penelitian ini memiliki akurasi dan juga memiliki tingkat kebenaran yang secara rasional atau secara esensial bisa diterima oleh banyak kalangan, baik kalangan akademisi maupun masyarakat umum, maka tidaklah keliru untuk menjadikan penulisan laporan ini tidak hanya sebagai tugas kuliah atau literatur akademis saja, namun juga sebagai pengetahuan umum akan fenomena yang ada di gunung kawi, baik kepercayaan kejawennya, ritual yang dilakukan, islam kejawenya dan lain-lain.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

 

2.1. Kepercayaan Kejawen

2.1.1. Kejawen

Kejawen adalah sebuah kepercayaan atau mungkin boleh dikatakan agama yang terutama dianut di pulau Jawa oleh suku Jawa dan suku bangsa lainnya yang menetap di Jawa.

Etimologi

Kata “Kejawen” berasal dari kata Jawa, sebagai kata benda yang memiliki arti dalam bahasa Indonesia yaitu segala yg berhubungan dengan adat dan kepercayaan Jawa (Kejawaan). Penamaan “kejawen” bersifat umum, biasanya karena bahasa pengantar ibadahnya menggunakan bahasa Jawa. Dalam konteks umum, kejawen merupakan bagian dari agama lokal Indonesia. Seorang ahli antropologi Amerika Serikat, Clifford Geertz pernah menulis tentang agama ini dalam bukunya yang ternama The Religion of Java atau dalam bahasa lain, Kejawen disebut “Agami Jawi”.

Kejawen dalam opini umum berisikan tentang seni, budaya, tradisi, ritual, sikap serta filosofi orang-orang Jawa. Kejawen juga memiliki arti spiritualistis atau spiritualistis suku Jawa. Penganut ajaran kejawen biasanya tidak menganggap ajarannya sebagai agama dalam pengertian seperti agama monoteistik, seperti Islam atau Kristen, tetapi lebih melihatnya sebagai seperangkat cara pandang dan nilai-nilai yang dibarengi dengan sejumlah laku (mirip dengan “ibadah”). Ajaran kejawen biasanya tidak terpaku pada aturan yang ketat, dan menekankan pada konsep “keseimbangan”. Dalam pandangan demikian, kejawen memiliki kemiripan dengan Konfusianisme atau Taoisme, namun tidak sama pada ajaran-ajarannya. Hampir tidak ada kegiatan perluasan ajaran (misi) namun pembinaan dilakukan secara rutin.

Simbol-simbol “laku” biasanya melibatkan benda-benda yang diambil dari tradisi yang dianggap asli Jawa, seperti keris, wayang, pembacaan mantera, penggunaan bunga-bunga tertentu yang memiliki arti simbolik, dan sebagainya. Akibatnya banyak orang (termasuk penghayat kejawen sendiri) yang dengan mudah mengasosiasikan kejawen dengan praktek klenik dan perdukunan.

Ajaran-ajaran kejawen bervariasi, dan sejumlah aliran dapat mengadopsi ajaran agama pendatang, baik Hindu, Buddha, Islam, maupun Kristen. Gejala sinkretisme ini sendiri dipandang bukan sesuatu yang aneh karena dianggap memperkaya cara pandang terhadap tantangan perubahan zaman.

 

2.1.1. Kepercayaan

Kepercayaan adalah kemauan seseorang untuk bertumpu pada orang lain dimana kita memiliki keyakinan padanya. Kepercayaan merupakan kondisi mental yang didasarkan oleh situasi seseorang dan konteks sosialnya. Ketika seseorang mengambil suatu keputusan, ia akan lebih memilih keputusan berdasarkan pilihan dari orang- orang yang lebih dapat ia percaya dari pada yang kurang dipercayai (Moorman, 1993).

Menurut Rousseau et al (1998), kepercayaan adalah wilayah psikologis yang merupakan perhatian untuk menerima apa adanya berdasarkan harapan terhadap perilaku yang baik dari orang lain.

Menurut Ba dan Pavlou (2002) mendefinisikan kepercayaan sebagai penilaian hubungan seseorang dengan orang lain yang akan melakukan transaksi tertentu sesuai  dengan harapan  dalam sebuah  lingkungan yang penuh ketidakpastian. Kepercayaan terjadi ketika seseorang yakin dengan reliabilitas dan integritas dari orang yang dipercaya (Morgan & Hunt, 1994).

Das dan Teng (1998) memberikan definisi atau pengertian kepercayaan (trust) sebagai derajat di mana seseorang yang percaya menaruh sikap positif terhadap keinginan baik dan keandalan orang lain yang dipercayanya di dalam situasi yang berubah ubah dan beresiko.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa kepercayaan kejawen adalah merupakan kondisi mental yang didasarkan oleh situasi seseorang dan konteks sosialnya di jawa, dimana seseorang mempercayai segala yg berhubungan dengan adat dan kepercayaan Jawa (Kejawaan).

Kepercayaan merupakan salah satu dari komponen sikap. Komponen sikap lainnya, diantaranya:

  1. Kognitif (kepercayaan/keyakinan)
  2. Afektif  (kehidupan emosional)
  3. Konatif (kecenderungan orang untuk bertindak)

 

Kepercayaan seringkali dihubungkan dengan agama, kepercayaan agama, sesuatu yang berhubungan dengan yang ghaib, atau makhluk halus, dan selainnya. Misalnya saja agama islam, agama hindhu, agama budha, islam kejawen, semuanya menjadi bahasan yang sering ketika memasuki pembahasan masalah kepercayaan. Kepercayaan dalam komponen sikap yang sudah dijelaskan sebelumnya, merupakan jenis kognitif (pemahaman), sehingga ketika ingin mengetahui proses munculnya kepercayaan, sama halnya dengan munculnya pemahaman seseorang. Yakni secara umum, adanya sosialisasi nilai, adanya stimulus yang mempengaruhi pandangan. Ketika stimulus ini semakin sering diterima oleh seseorang, maka lama-kelamaan akan terinternalisasi, atau juga ketika hanya satu kali stimulus namun merupakan suatu hal yang sangat sesuai dengan individu tersebut, maka akan langsung di-iya-kan dan akhirnya dipercayai/diyakini untuk menjadi kepercayaan.

Kepercayaan merupakan salah satu variabel yang berpengaruh pada terbentuknya perilaku, baik perilaku individu maupun masyarakat. Variabel pembentuk perilaku selainnya yakni value dan norma. Kepercayaan adalah keyakinan yang dianut oleh seseorang, dengan adanya kepercayaan itu, maka berpengaruh pada perilaku yang dilakukan oleh seseorang tersebut. Mengingat bahwa sesuatu yang diimani, pastinya akan menuntut sebuah perilaku. Ketika mempercayai sesuatu, maka perilaku harus sesuai dengan kepercayaan tersebut. Sehingga, kepercayaan yang dimiliki oleh seseorang, akan sangat berpengaruh pada terbentuknya perilaku. Semua perilaku yang dijalankan akan diusahakan sesuai dengan kepercayaan tersebut, jika tidak sesuai, maka akan menimbulkan kekhawatiran tersendiri bagi individu tersebut.

 

2.2.  Ritual

2.2.1. Pengertian Ritual

Pengertian ritual menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Tim Penyusun, 2001 : 959) adalah hal ihwal  ritus atau tata cara dalam upacara keagamaan. Upacara ritual atau ceremony adalah sistem atau rangkaian tindakan yang ditata oleh adat atau hukum yang berlaku dalam masyarakat yang berhubungan dengan berbagai macam peristiwa yang biasanya terjadi dalam masyarakat yang bersangkutan (Koentjaraningrat, 1990 : 190)

Dalam kajian antropologi agama, Victor Turner memberikan definisi ritual, menurut Turner ritual dapat diartikan sebagai perilaku tertentu yang bersifat formal, dilakukan dalam waktu tertentu secara berkala, bukan sekedar sebagai rutinitas yang bersifat teknis, melainkan menunjuk pada tindakan yang didasari oleh keyakinan religius terhadap kekuasaan atau kekuatan-kekuatan mistis.

Dalam analisis Djamari (1993: 36), ritual ditinjau dari dua segi: tujuan (makna) dan cara. Dari segi tujuan, ada ritual yang tujuan¬nya bersyukur kepada Tuhan; ada ritual yang tujuannya mendekatkan diri kepada Tuhan agar mendapatkan keselamatan dan rahmat; dan ada yang tujuannya meminta ampun atas kesalahan yang dilakukan. Adapun dari segi cara, ritual dapat dibedakan menjadi dua: individual dan kolektif. Sebagian ritual dilakukan secara perorangan, bahkan ada yang dilakukan dengan mengisolasi diri dari keramaian, seperti meditasi, bertapa, dan yoga. Ada pula ritual yang dilakukan secara kolektif (umum), seperti khotbah, salat berjamaah, dan haji.

George Homans (Djamari, 1993: 38) menunjukkan hubungan antara ritual dan kecemasan. Menurut Homans, ritual berawal dari kecemasan. Dari segi tingkatannya, ia membagi kecemasan menjadi: kecemasan yang bersifat “sangat”, yang ia sebut kecemasan primer; dan kecemasan yang biasa, yang ia sebut kecemasan sekunder.
Selanjutnya, Homans menjelaskan bahwa kecemasan primer melahirkan ritual primer; dan kecemasan sekunder melahirkan ritual sekunder. Oleh karena itu, ia mendefinisikan ritual primer sebagai upacara yang bertujuan mengatasi kecemasan meskipun tidak langsung berpengaruh terhadap tercapainya tujuan- dan ritual sekunder sebagai upacara penyucian untuk kompensasi kemungkinan kekeliruan atau kekurangan dalam ritual primer.
Berbeda dengan Homans, C. Anthony Wallace (Djamari, 1993: 39) meninjau ritual dari segi jangkauannya, yakni sebagai berikut.

  1. Ritual sebagai teknologi, seperti upacara yang berhubungan dengan kegiatan pertanian dan perburuan.
  2. Ritual sebagai terapi, seperti upacara untuk mengobati dan mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.
  3. Ritual sebagai ideologis -mitos dan ritual tergabung untuk mengendalikan suasana perasaan hati, nilai, sentimen, dan perilaku untuk kelompok yang baik. Misalnya, upacara inisiasi yang merupakan konfirmasi kelompok terhadap status, hak, dan tanggung jawab yang baru.
  4. Ritual sebagai penyelamatan (salvation), misalnya seseorang yang mempunyai pengalaman mistikal, seolah-olah menjadi orang baru; ia berhubungan dengan kosmos yang juga mempengaruhi hubungan dengan dunia profan.
  5. Ritual sebagai revitalisasi (penguatan atau penghidupan kembali). Ritual ini sama dengan ritual salvation yang bertujuan untuk penyelamatan tetapi fokusnya masyarakat.

 

2.2.2. Ritual Kejawen Di Gunung Kawi

Pengertian dari ritual kejawen adalah ritual yang didasarkan pada kepercayaan kejawen atau kepercayaan yang ada di budaya jawa. Ritual kejawen yang terdapat di Gunung Kawi yaitu:

  1. Ritual keliling pesarehan yaitu berjalan keliling makam dalam jumlah ganjil, ketika melewati setiap pintu, mereka berhenti sejenak didepannya untuk memanjatkan doaa-doa, lalu melanjutkan berjalan keliling makam.
  2. Ritual selamatan yaitu ritual yang dilakukan dalam bentuk selamatan berupa selamatan ayam, kambing, dll
  3. Ritual nyekar dengan membawa sesaji dan uang sumbangan
  4. Ritual duduk di dewandaru
  5. Ritual mandi di air sumber untuk pembersihan

 

2.3.   Agama Islam

2.3.1. Pengertian Islam

Dari segi kebahasaan, Islam berasal dari bahasa Arab yaitu dari kata salima yang mengandung arti selamat, sentosa, dan damai. Dari kata salima selanjutnya diubah menjadi bentuk aslama yang berarti berserah diri masuk dalam kedamaian. Oleh sebab itu orang yang berserah diri, patuh, dan taat kepada Allah swt. disebut sebagai orang Muslim. Dari uraian tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa kata Islam dari segi kebahasaan mengandung arti patuh, tunduk, taat, dan berserah diri kepada Allah swt. dalam upaya mencari keselamatan dan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Hal itu dilakukan atas kesadaran dan kemauan diri sendiri, bukan paksaan atau berpura-pura, melainkan sebagai panggilan dari fitrah dirinya sebagai makhluk yang sejak dalam kandungan telah menyatakan patuh dan tunduk kepada Allah.

Adapun pengertian Islam dari segi istilah, banyak para ahli yang mendefinisikannya; di antaranya Prof. Dr. Harun Nasution. Ia mengatakan bahwa Islam menurut istilah (Islam sebagai agama) adalah agama yang ajaran-ajarannya diwahyukan Tuhan kepada masyarakat manusia melalui Nabi Muhammad saw. sebagai Rasul. Islam pada hakikatnya membawa ajaran-ajaran yang bukan hanya mengenal satu segi, tetapi menganal berbagai segi dari kehidupan manusia.

Sementara itu Maulana Muhammad Ali mengatakan bahwa Islam adalah agama perdamaian; dan dua ajaran pokoknya, yaitu keesaan Allah dan kesatuan atau persaudaraan umat manusia menjadi bukti nyata bahwa agama Islam selaras benar dengan namanya. Islam bukan saja dikatakan sebagai agama seluruh Nabi Allah, sebagaimana tersebut dalam Al Qur’an, melainkan pula pada segala sesuatu yang secara tak sadar tunduk sepenuhnya pada undang-undang Allah.

 

2.3.1. Pengertian Agama Islam

Kata Islam, berasal dari kata ‘as la ma – yus li mu – Is la man’ artinya, tunduk, patuh, menyerahkan diri. Kata Islam terambil dari kata dasar sa la ma atau sa li ma yang artinya selamat, sejahtera, tidak cacat, tidak tercela. Dari akar kata sa la ma itu juga terbentuk kata salmun, silmun artinya damai patuh dan menyerahkan diri. Sedangkan kata agama, menurut bahasa Al-Qur’an banyak digunakan katadin.

Din dalam bahasa Smit berarti Undang-undang atau hukum. Dalam Al-Qur’an kata din mempunyai arti berarti “agama” dalam surat Al-Fath 28 di sebutkan:

“Dialah yang mengutus rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang hak agar di menangkan-Nya terhadapsemuaagama, Dan cukuplah Allahsebagaisaksi”

Kedua kata tersebut din dan Islam bila digabungkan menjadi DinulIslam yang biasa juga dipakai istilah Agama Islam. Agama Islam menurut terminologi banyak disampaikan oleh para ulama dan cendikiawan, antara lain dikutipkan di sini menurut Abullah Al-Masdoosi (cenikiawan muslim asal Pakistan) yang dikutip Endang Saifuddin Anshari :”menurut pandangan Islam, agama ialah kaidah hidup yang diturunkan kepada ummat manusia, sejak manusia digelar ke atas buana ini, dan terbina dalam bentuknya yang terakhir dan sempurna dalam Al-Qur’an yang suci yang diwahyukan Allah kepada Nabi-Nya yang terakhir yakni Muhammad bin Abdullah sebagai Rasulullah SAW., satu kaidah hidup yang memuat tuntunan yang jelas dan lengkap mengenai aspek hidup manusia baik spiritual maupun material.

Pada dasarnya agama Islam terdiri dari tiga unsur pokok yaitu iman, islam dan ihsan, meskipun ketiganya mempunyai pengertian yang berbeda tetapi dalam praktek satu sama lain saling terkait dan tidak dapat dipisahkan.

  1. Iman artinya membenarkan dengan hati, mengucapkan dalam perkataan dan merealisasikan dalam perbuatan akan adanya Allah Swt, dengan segala Kemaha sempurnaan-Nya, para Malaikat, Kitab-kitab Allah, para Nabi dan Rasul, hari akhir serta Qadha dan Qadhar.
  2. Islam artinya taat, tunduk, patuh dan menyerahkan diri dari segala ketentuan yang telah di tetapkan Allah Swt. Yang terdiri atas Syahadatain (dua kalimat Syahadat), Shalat, Puasa, Zakat dan Haji bagi yang mampu.
  3. Ihsan artinya berakhlak serta berbuat shalih sehingga dalam melaksanakan ibadah kepada Allah dan bermuamalah (interaksi) dengan sesama makhluk dilaksanakan dengan penuh keikhlasan seakan-akan Allah menyaksikan gerak-geriknya sepanjang waktu meskipun ia sendiri tidak melihatnya.

 

2.3.3. Pengertian Ritual Menurut Psikologi Islam

Salah satu aspek dari kehidupan beragama adalah bahwa agama mengandung usur ajaran yang disebut ritual (rites), ibadat, atau upacara keagamaan tertentu yang harus dilakukan oleh penganutnya, seperti menyembah Tuhan, berdo’a, berkorban, tawaf, dan lain sebagainya. Adanya ibadat atau ritual ini juga merupakan kelanjutan dari kepercayaan kepada hal-hal yang sakral. Kepercayaan kepada yang sakral menghendaki sikap tertentu dan melarang melakukan pantangan tertentu. Tuhan sebagai yang Maha suci harus disembah dalam berbagai kesempatan. Kitab suci Al-Qur’an harus dibaca secara rutin dan dipelajari isinya dengan penuh kesadaran.

Ritual dalam Islam yang terinklud dalam pilar-pilar Iman dan Islam, serta berkembang dalam ritus popular atau local, semuanya merupakan prilaku yang terstruktur dan bermakna dalam budaya Islam. 

Tidak heran jika upaya pemeliharaan terhadap ritual keagamaan ini perlu mendapat perhatian khusus. Agama sebagai sumber system nilai merupkan pedoman dan pendorong bagi manusia untuk memecahkan berbagai masalah hidupnya, tentu pada prilaku manusia yang menunjukan pada keridhaan Allah. Agama Islam adalah agama yang mengandung ketentuan-ketentuan keimanan (akidah), ibadah, mu’amalah (syari’ah) yang menentukan proses berfikir, berbuat, dan proses terbentuknya kata hati.

Ritual agama tentu memiliki ciri dan kekhasan tersendiri dari agama yang lainnya. Bentuk ritual yang berbeda inipun dalam perkembangannya memerlukan sikap dan nilai etika dalam hal menyikapi kekhasan masing-masing ritual agam-agama. Menurut Haryatmoko, Masalah kekhasan suatu agama tidak identik sama sekali dengan superioritasnya. Hendaknya tidak mencampur adukkan masalah kebenaran dengan masalah superioritas. Permasalahan utama ialah identitas khas (ritual) suatu agama, yang tetap menghormati identitas religious yang lain. Perbedaan agama menjadi tantangan untuk dijawab.Dari sinilah tampak bahwa ritual yang bersarang sebagai aspek penting dalam agama tentu memerlukan responsibility internal dan eksternal, baik individual maupun kelompok.

Sehingga secara umum, ritual dalam Islam dapat dibedakan menjadi dua: ritual yang mempunyai dalil yang tegas dan eksplisit dalam A1-Quran dan Sunnah; dan ritual yang tidak memiliki dalil, baik dalam Al-Quran maupun dalam Sunnah. Salah satu contoh ritual bentuk pertama adalah shalat. Sedangkan contoh ritual kedua adalah marhabaan, peringatan hari (bulan) kelahiran Nabi Muhammad Saw (rnuludan, Sunda), dan tahlil yang dilakukan keluarga ketika salah satu anggota keluarganya menunaikan ibadah haji atau meninggal dunia.

Dari segi tujuan, ritual Islam dapat dibedakan menjadi dua pula, yaitu ritual yang bertujuan mendapatkan ridla Allah semata dan balasan yang ingin dicapai adalah kebahagiaan ukhrawi; dan ritual yang bertujuan mendapatkan balasan di dunia ini, misalnya shalat istisqa, yang dilaksanakan untuk memohon kepada Allah agar berkenan menakdirkan turun hujan.
Dengan meminjam pembagian ritual menurut sosiolog (yang dalam tulisan ini diambil dari Homans), ritual dalam Islam juga dapat dibagi menjadi dua: ritual primer dan ritual sekunder.
Ritual primer adalah ritual yang merupakan kewajiban sebagai pemeluk Islam. Umpamanya, kewajiban melakukan salat Jumat bagi Muslim laki-laki. Di sebagian masyarakat Indonesia, terdapat kebiasaan salat i’adah, yaitu salat zuhur yang dilakukan secara berjamaah setelah salat Jumat.

2.4. Teori Representasi Sosial

Representasi sosial sebagai mempelajari hubungan yang terjadi antara pikiran awal atau pengetahuan yang bersifat opini umum dan pengetahuan keilmuan; menjelaskan proses terjadinya pemikiran sosial; pembiasaan akan hal-hal baru dan pemahaman kebaruan tersebut berdasarkan pengalaman sosial yang berfungsi suatu pandangan fungsional yang membiarkan individu atau kelompok memberikan makna atau arti terhadap tindakan yang dilakukannya, untuk mengerti suatu realita kehidupan sesuai dengan referensi yang mereka miliki, dan untuk beradaptasi terhadap realitas tersebut (Abric, 1976). Representasi sosial terdiri dari elemen informasi, keyakinan, pendapat, dan sikap tentang suatu obyek. Bagian-bagian ini terorganisasi dan terstruktur sehingga kemudian menjadi sistem sosial-kognitif seseorang.

Teori yang dikembangkan oleh Moscovici ini memiliki beberapa tujuan, yakni untuk mengarahkan perilaku. Paradigma utama merujuk pada dua proses besar pembentukan representasi sosial : obyektivasi (objectification) yang menjelaskan intervensi kelompok-kelompok social (norma, nilai, kode, dll, yang ikut campur sebagai meta-sistem yang mengatur proses kognitif) serta kendala-kendala komunikasi dalam penyeleksian dan pengaturan unsur-unsur representasi di satu pihak, dan pengakaran (anchoring) yang menjelaskan pengintegrasian informasi-informasi baru ke dalam sistem pengetahuan dan pemaknaan yang sudah ada, di lain pihak. Proses itu menjelaskan juga cara elemen-elemen tersebut diperkenalkan kembali,sebagai instrumen operasional, dalam interpretasi terhadap situasi dunia dan dalam interaksi dengan orang lain.

Paradigma ini juga menyediakan instrumen konseptual untuk analisis representasi social seperti hasil yang terbentuk, maksudnya pengaturan isi (yang merupakan ide, imajinasi, dan simbol), dikenali dalam berbagai pendukung (produksi diskursus atau ikon, peralatan materi, dan praktik secara individual atau kolektif) dan/atau yang beredar dalam masyarakat, melalui berbagai saluran komunikasi (percakapan, media, dan institusi).

Di dalamnya ada tiga dimensi (informasi, sikap, dan ranah representasi, yang mencakup gambaran, ekspresi nilai-nilai, kepercayaan, dan opini, dll). Dalam hal pembentukan isi yang berhubungan dengan komunikasi sosial yang langsung, 3 faktor (penyebaran dan kesenjangan informasi yang bisa berupa penundaan atau ketidakberfokusan, tekanan dalam inferensi seperti berkesimpulan sendiri bagi penutur, serta kepentingan penutur dan implikasinya pada komunikasi) akan mempengaruhi aspek-aspek kognitif dalam representasi dan membedakan pemikiran awam dalam pola penalarannya, logikanya, dan gayanya. Dalam hal komunikasi media terjadi efek-efek yang disebabkan oleh upaya untuk menarik perhatian publik, akan secara berbeda-beda mempengaruhi pembentukan sikap dan perilaku: dan propaganda yang bersifat stereotip. Perkembangan terakhir teori Moscovici, menekankan pembedaan antara tipe-tipe pemikiran (magis, ilmiah, ideologis); peran thêmata, struktur-struktur biner yang mapan, yang mendukung pembentukan representasi-representasi baru; dasar subyektif dari representasi sosial dan cara menarik pengikut yang menjadi obyeknya pada saat representasi sosial telah berakar di dalam sejarah kebudayaan dalam bentuk kepercayaan.

 

2.5. Teori Hirarki Kebutuhan

Kebutuhan dapat didefinisikan sebagai suatu kesenjangan atau pertentangan yang dialami antara satu kenyataan dengan dorongan yang ada dalam diri. Menurut Abraham Maslow manusia mempunyai lima kebutuhan yang membentuk tingkatan-tingkatan atau disebut juga hirarki dari yang paling penting hingga yang tidak penting dan dari yang mudah hingga yang sulit untuk dicapai atau didapat. Motivasi manusia sangat dipengaruhi oleh kebutuhan mendasar yang perlu dipenuhi.

Kebutuhan maslow harus memenuhi kebutuhan yang paling penting dahulu kemudian meningkat ke yang tidak terlalu penting. Untuk dapat merasakan nikmat suatu tingkat kebutuhan perlu dipuaskan dahulu kebutuhan yang berada pada tingkat di bawahnya.
Lima (5) kebutuhan dasar Maslow – disusun berdasarkan kebutuhan yang paling penting hingga yang tidak terlalu krusial :

  1. 1.      Kebutuhan Fisiologis. Kebutuhan fisiologis adalah kebutuhan manusia yang paling mendasar untuk mempertahankan hidupnya secara fisik, yaitu kebutuhan akan makanan, minuman, tempat tinggal, seks, tidur, istirahat, dan udara. Seseorang yang mengalami kekurangan makanan, harga diri, dan cinta, pertama-tama akan mencari makanan terlebih dahulu. Bagi orang yang berada dalam keadaan lapar berat dan membahayakan, tak ada minat lain kecuali makanan. Bagi masyarakat sejahtera jenis-jenis kebutuhan ini umumnya telah terpenuhi. Ketika kebutuhan dasar ini terpuaskan, dengan segera kebutuhan-kebutuhan lain (yang lebih tinggi tingkatnya) akan muncul dan mendominasi perilaku manusia.
  2. 2.      Kebutuhan Keamanan dan Keselamatan. Segera setelah kebutuhan dasariah terpuaskan, muncullah apa yang digambarkan Maslow sebagai kebutuhan akan rasa aman atau keselamatan. Kebutuhan ini menampilkan diri dalam kategori kebutuhan akan kemantapan, perlindungan, kebebasan dari rasa takut, cemas dan kekalutan; kebutuhan akan struktur, ketertiban, hukum, batas-batas, dan sebagainya. Kebutuhan ini dapat kita amati pada seorang anak. Biasanya seorang anak membutuhkan suatu dunia atau lingkungan yang dapat diramalkan. Seorang anak menyukai konsistensi dan kerutinan sampai batas-batas tertentu. Jika hal-hal itu tidak ditemukan maka ia akan menjadi cemas dan merasa tidak aman. Orang yang merasa tidak aman memiliki kebutuhan akan keteraturan dan stabilitas serta akan berusaha keras menghindari hal-hal yang bersifat asing dan tidak diharapkan.
  3. 3.      Kebutuhan Sosial. Setelah terpuaskan kebutuhan akan rasa aman, maka kebutuhan sosial yang mencakup kebutuhan akan rasa memiliki-dimiliki, saling percaya, cinta, dan kasih sayang akan menjadi motivator penting bagi perilaku. Pada tingkat kebutuhan ini, dan belum pernah sebelumnya, orang akan sangat merasakan tiadanya sahabat, kekasih, isteri, suami, atau anak-anak. Ia haus akan relasi yang penuh arti dan penuh kasih dengan orang lain pada umumnya. Ia membutuhkan terutama tempat (peranan) di tengah kelompok atau lingkungannya, dan akan berusaha keras untuk mencapai dan mempertahankannya. Orang di posisi kebutuhan ini bahkan mungkin telah lupa bahwa tatkala masih memuaskan kebutuhan akan makanan, ia pernah meremehkan cinta sebagai hal yang tidak nyata, tidak perlu, dan tidak penting. Sekarang ia akan sangat merasakan perihnya rasa kesepian itu, pengucilan sosial, penolakan, tiadanya keramahan, dan keadaan yang tak menentu.
  4. 4.      Kebutuhan Penghargaan. Menurut Maslow, semua orang dalam masyarakat (kecuali beberapa kasus yang patologis) mempunyai kebutuhan atau menginginkan penilaian terhadap dirinya yang mantap, mempunyai dasar yang kuat, dan biasanya bermutu tinggi, akan rasa hormat diri atau harga diri. Karenanya, Maslow membedakan kebutuhan ini menjadi kebutuhan akan penghargaan secara internal dan eksternal. Yang pertama (internal) mencakup kebutuhan akan harga diri, kepercayaan diri, kompetensi, penguasaan, kecukupan, prestasi, ketidaktergantungan, dan kebebasan (kemerdekaan). Yang kedua (eksternal) menyangkut penghargaan dari orang lain, prestise, pengakuan, penerimaan, ketenaran, martabat, perhatian, kedudukan, apresiasi atau nama baik. Orang yang memiliki cukup harga diri akan lebih percaya diri. Dengan demikian ia akan lebih berpotensi dan produktif. Sebaliknya harga diri yang kurang akan menyebabkan rasa rendah diri, rasa tidak berdaya, bahkan rasa putus asa serta perilaku yang neurotik. Kebebasan atau kemerdekaan pada tingkat kebutuhan ini adalah kebutuhan akan rasa ketidakterikatan oleh hal-hal yang menghambat perwujudan diri. Kebutuhan ini tidak bisa ditukar dengan sebungkus nasi goreng atau sejumlah uang karena kebutuhan akan hal-hal itu telah terpuaskan.
  5. 5.      Kebutuhan Akutualisasi Diri (Self Actualization) Setiap orang ingin mengembangkan kapasitas kerjanya dengan baik. Hal ini merupakan kebutuhan untuk mewujudkan segala kemampuan (kebolehannya) dan seringkali nampak pada hal-hal yang sesuai untuk mencapai citra dan cita diri seseorang. Dalam motivasi kerja pada tingkat ini diperlukan kemampuan manajemen untuk dapat mensinkronisasikan antara cita diri dan cita organisasi untuk dapat melahirkan hasil produktivitas organisasi yang lebih tinggi.

 

2.5. Kerangka Pemikiran

                                      Kepercayaan Kejawen

Kepercayaan                                                                      Proses Kognitif          Perilaku Ritual

                                       Kepercayaan Islam

Motivasi

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

METODELOGI PENELITIAN

 

3.1.   Metode Penelitian

Metode penelitian yang digunakan peneliti adalah metode penelitian kualitatif. Metode penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat postpositivisme, digunakan untuk meneliti pada kondisi objek yang alamiah, dimana peneliti adalah instrument kunci. Hasil dari penelitian kualitatif lebih menekankan makna. Denzin dan Lincoln (Moleong, 2007:5), metode penelitian kualitatif merupakan penelitian yang menggunakan latar alamiah, dengan maksud menafsirkan fenomena yang terjadi. Dengan berbagai karakteristik khas yang dimiliki, penelitian kualitatif memiliki keunikan tersendiri sehingga berbeda dengan penelitian kuantitatif.

 

3.2.  Subjek Penelitian

Subjek dari penelitian ini adalah pengunjung gunung kawi yang peneliti spesifikasikan pada pengunjung muslim. Sehingga pengambilan subjek, peneliti menggunakan purposive sampling, yaitu menentukan subjek/objek sesuai dengan tujuan.

 

3.3.   Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian yang dilakukan peneliti bertempat di Gunung Kawi, kecamatan Wonosari, kabupaten Malang, Jawa Timur.

 

3.4.   Teknik Pengumpulan Data

  1. Observasi

Observasi atau pengamatan merupakan suatu teknik atau cara mengumpulkan data dengan jalan mengadakan pengamatan terhadap kegiatan yang sedang berlangsung. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan observasi dalam bentuk observasi partisipan, dimana dalam observasi ini peneliti ikut berpartisipasi dengan terjun secara langsung apa yang dilakukan oleh subjek. Susan Stainback (1988) menyatakan “In participant observation, the researcher observes what their activities”. Dalam observasi partisipatif, peneliti mengamati apa yang dikerjakan orang, mendengarkan apa yang mereka ucapkan, dan berpatisipasi dalam aktivitas mereka.

  1. Wawancara

Wawancara adalah proses pengumpulan data atau informasi melalui tatap muka antara pihak penanya (interviewer) dengan pihak yang ditanya atau penjawab (interviewee). Wawancara yang dilakukan oleh peneliti adalah dengan wawancara mendalam yang dilakukan dalam konteks observasi partisipasi. Wawancara mendalam adalah suatu proses mendapatkan informasi untuk kepentingan penelitian dengan cara dialog antara peneliti dengan yang diteliti.

 

3.5.   Validity

Uji keabsahan berdasarkan ketepatan antara data yang terjadi pada objek penelitian dengan daya yang dilaporkan oleh peneliti ditunjukkan dengan memastikan ketepatan validitas, yang terdiri dari reflective validity, ironic validity, neo-pragmatic validity, rhizomatic validity, dan situated validity.

 

3.6.   Reliability

Uji keabsahan berdasarkan dengan derajad kekonsistenan dan stabilitas data atau temuan juga ditunjukkan oleh peneliti dengan berdasarkan kondisi di lapangan (Quixotic Reliability), terdapat sumber yang jelas berupa buku sejarah (Diachronic Reliability), dan mengacu pada kesuaian data (Synchronic Reliability).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV

PEMBAHASAN

 

4.1.   Hubungan Antara Kepercayaan Kejawen Dalam Ritual Gunung Kawi Dengan Agama Islam

Di dalam ritual gunung kawi tidak terlepas dari kepercayaan kejawen (kepercayaan Jawa). Ritual yang terdapat di gunung kawi seperti ritual keliling pesarean dalam jumlah ganjil, selamatan, nyekar, duduk di pohon dewandaru, mandi di air sumber merupakan bentuk-bentuk ritual yang melekat dengan kebudayaan jawa.

Pada fenomena yang dapat dilihat di dalam Gunung Kawi banyak terdapat pengunjung muslim yang datang kesana baik untuk berziarah maupun juga melakukan ritual-ritual yang terdapat di sana. Berdasarkan analisa fakta yang ada di sana, terdapat hubungan antara kepercayaan kejawen dalam ritual gunung kawi dengan agama islam.

Jika dikaitkan dengan sejarah penyebaran islam. Penyebaran islam di pulau Jawa memang berbeda dengan pulau lainya. Pada penyebaran islam di pulau ini menggunkanan perantara budaya sebagai sarana mediator penyebarannya. Seperti menggunakan wayang, gamelan, dll. Aspek-aspek kepercayaan jawa pun digabungkan ke dalam ibadah islam. Contohnya pada saat dulu islam belum masuk di pulau jawa para penduduk jawa ketika di suatu daerah terdapat orang yang mati, maka akan dilakukan ritual-ritual sesajen, penjagaan roh, dll. Tetapi setelah penyebaran islam memasuki jawa aktivitas tersebut dirubah dengan melakukan tahlilan, selamatan pada 7 hari, 40 hari, 100 hari, dan 1000 harinya.

Dari metode penyebaran agama islam yang sangat terkait dengan media budaya jawa menyebabkan adanya percampuran antara kepercayaan kejawen dengan islam sehingga terjalinnya sebuah hubungan yang akhirnya membentuk islam kejawen. Islam kejawen ini merupakan islam yang sangat dipengaruhi oleh animesme kejawen/ kepercayaan kejawen. Sehingga dalam perilaku ibadahnya juga menggabungkan syariat islam dan budaya jawanya.

Berdasarkan sejarahnya masuknya islam yang menggunakan media budaya jawa ini kita bisa menganalisa mengapa banyak pengunjung muslim yang datang di gunung kawi mereka disana tetap melakukan ritual-ritual gunung kawi yang mengandung kepercayaan kejawen. Hal ini tidak lepas dari faktor pengaruh budaya dimana kita tinggal. Dimana masyarakat jawa tidak serta merta bisa melupakan budaya jawa dalam ritual ibadahnya.

Dalam analisis Djamari (1993: 36), ritual ditinjau dari dua segi: tujuan (makna) dan cara. Dari segi tujuan, ada ritual yang tujuannya bersyukur kepada Tuhan; ada ritual yang tujuannya mendekatkan diri kepada Tuhan agar mendapatkan keselamatan dan rahmat; dan ada yang tujuannya meminta ampun atas kesalahan yang dilakukan. Ritual yang terdapat di Gunung Kawi pun seperti ritual keliling pesarean, nyekar, selametan, duduk di pohon dewandaru menurut anggapan pengunjung juga merupakan bentuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Sehingga dari tujuan tersebut pengunjung muslim di Gunung kawi melakukan ritual-ritual tersebut dengan alasan mendekatkan diri dan mencari rahmat Allah.

Adapun beberapa hal yang menguatkan kepercayaan kejawen dalam ritual-ritual gunung kawi dengan agama islam, yaitu menurut salah satu orang ahli yang berada di Gunung Kawi ritual seperti keliling pesarean dalam jumlah ganjil merupakan adaptasi layaknya thowaf  yang ada di Mekkah. Sehingga ritual tersebut tidak serta merta adaptasi dari kepercayaan kejawen saja.

 

4.2.   Pembentukan Kepercayaan Pengunjung Muslim Terhadap Ritual Gunung Kawi

Kepercayaan dalam komponen sikap yang sudah dijelaskan sebelumnya, merupakan jenis kognitif (pemahaman), sehingga ketika ingin mengetahui proses munculnya kepercayaan, sama halnya dengan munculnya pemahaman seseorang. Yakni secara umum, adanya sosialisasi nilai, adanya stimulus yang mempengaruhi pandangan. Ketika stimulus ini semakin sering diterima oleh seseorang, maka lama-kelamaan akan terinternalisasi, atau juga ketika hanya satu kali stimulus namun merupakan suatu hal yang sangat sesuai dengan individu tersebut, maka akan langsung di-iya-kan dan akhirnya dipercayai/diyakini untuk menjadi kepercayaan.

Kepercayaan merupakan salah satu variabel yang berpengaruh pada terbentuknya perilaku, baik perilaku individu maupun masyarakat. Variabel pembentuk perilaku selainnya yakni value dan norma. Kepercayaan adalah keyakinan yang dianut oleh seseorang, dengan adanya kepercayaan itu, maka berpengaruh pada perilaku yang dilakukan oleh seseorang tersebut. Mengingat bahwa sesuatu yang diimani, pastinya akan menuntut sebuah perilaku. Ketika mempercayai sesuatu, maka perilaku harus sesuai dengan kepercayaan tersebut. Sehingga, kepercayaan yang dimiliki oleh seseorang, akan sangat berpengaruh pada terbentuknya perilaku. Semua perilaku yang dijalankan akan diusahakan sesuai dengan kepercayaan tersebut, jika tidak sesuai, maka akan menimbulkan kekhawatiran tersendiri bagi individu tersebut.

Berdasarkan fenomena yang ada di Gunuung Kawi, sebagain besar para pengunjung Gunung Kawi percaya bahwa aktivitas ritual seperti keliling pesarehan, nyekar, duduk di pohon dewandaru, selamatan merupakan kegiatan yang mendatangkan berkah, kesuksesan, dan keberhasilan dalam hidup. Sehingga tidak sedikit pengunjung gunung kawi khususnya yang muslim datang ke sana dikarenakan ingin mendapat berkah, kesuksesan akibat kehidupan sebelumnya yang gagal atau kurang sukses.

Salah satu bentuk fakta yang terdapat di lapangan menunjukkan bahwa pengunjung percaya dengan ritual-ritual gunung kawi adalah banyaknya pengunjung yang melakukan ritual-ritual tersebut. Hal ini menunjukkan adanya korelasi antara kepercayaan dengan pengarahan perilaku menujun kepercayaan tersebut. Sehingga benar jika pengunjung percaya dengan ritual tersebut sebagai pembewa sukses dan keberkahan, maka dia akan melakukan ritual tersebut.

 

4.2.1.Proses terbentuknya kepercayaan menurut teori representasi sosial

Terbentuknya kepercayaan tidak lepas dari faktor kognitif, dimana individu mengolah secara kognitif informasi yang diberikan, sugesti, pengaruh dari luar untuk di yakini atau dipercayai. Berdasarkan teori representasi sosial yang disampaikan oleh kita bisa melihat bagaimana proses pembentukan kepercayaan para pengunjung gunung kawi khususnya pengunjung muslim yang sangat dipengaruhi oleh sugesti, pengaruh dari luar yang di proses secara kognitif.

Representasi sosial ini  menjelaskan proses terjadinya pemikiran sosial; pembiasaan akan hal-hal baru dan pemahaman kebaruan tersebut berdasarkan pengalaman sosial yang berfungsi suatu pandangan fungsional yang membiarkan individu atau kelompok memberikan makna atau arti terhadap tindakan yang dilakukannya, untuk mengerti suatu realita kehidupan sesuai dengan referensi yang mereka miliki, dan untuk beradaptasi terhadap realitas tersebut (Abric, 1976).

Sesuai dengan data penelitian di gunung kawi, pemahaman pengunjung akan gunung kawi juga sangat mempengaruhi kepercayaan tersebut. Sehingga tindakan yang dilakukan pengunjung kawi seperti melakukan ritual-ritual yang ada dimaknai sebagai usaha dalam mendapat sesuatu, yang tidak lepas dari pengamatan yang dilakukan oleh pengunjung lain disana.

Adapun elemen-elemen terbentuknya  kepercayaan adalah:

 

  1. Elemen informasi

Elemen informasi ini merupakan elemen penting dalam pembentukan kepercayaan. Dimana dalam elemen ini informasi awal dari luar diproses secara kognitif untuk pemberian makna atau interpretasi. Dalam kasus yang ada, pengunjung gunung kawi sebagian yang datang mendapatkan informasi tentang gunung kawi dari teman, keluarga, tetangga, dll yang pernah datang kesana dan mendapatkan keberkahan dalam kehidupan berupa kesusksesan atau kesehatan. Setelah pemberian informasi tersebut dimaksukkan ke dalam proses kognitif berupa internalisasi untuk mendapatkan pemaknaan.

  1. Keyakinan

Setelah individu mendapatkan pemaknaan akan informasi tersebut maka elemen selanjutnya yang penting dalam pembentukan kepercayaan adalah keyakinan. Dalam tahap ini keyakinan akan diperkuat jika individu sudah melakukan sesuatu sesuai dengan informasi yang didapat dan mendapatkan hal positif yang didapat. Hal ini juga yang dilakukan oleh pengunjung di gunung kawi, dimana setelah mereka tertarik akan cerita gunung kawi yang dapat memberikan kesuksesan dan keberkahan. Maka mereka akan datang kesana dan setelah mereka merasakan efek dari datang kesana, maka keyakinan tersebut akan muncul dan diperkuat dengan datang kesana lagi.

  1. Pendapat

Elemen ini merupakan bentuk dari pendapat individu mengenai informasi tertentu. Sesuai dengan data yang ditemui, ketika pengunjung mendapatkan kesuksesan dan keberkahan selama berkunjung di gunung kawi, maka mereka akan memberikan pendapat yang positif akan gunung kawi.

  1. Sikap tentang suatu obyek.

Sikap individu terhadap suatu objek sangat dipengaruhi oleh keyakinan akan suatu informasi tersebut. Sehingga ketika pengunjung muslim gunung kawi percaya akan manfaat datang kesana maka mereka akan menunjukkan sikap pro akan aktivitas ritual di gunung kawi dengan melakukan ritual-ritual tersebut.

 

Bagian-bagian ini terorganisasi dan terstruktur sehingga kemudian menjadi sistem sosial-kognitif seseorang.

 

4.2.2.Pengaruh Motivasi terhadap terbentuknya perilaku ritual dan pengaruhnya dalam kepercayaan

Motivasi seseorang akan suatu hal akan mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu untuk mencapai tujuan tertentu. Pada fenomena yang terdapat di gunung kawi, motivasi seseorang datang kesana khususnya pengunjung muslim adalah karena ingin mendapatkan berkah dan kesuksesan yang merupakan bentuk dari kebutuhan manusia. Berdasarkan teori Hirarki Kebutuhan Abraham Maslow yang terdiri dari:

  1. Kebutuhan Fisiologis. Kebutuhan fisiologis adalah kebutuhan manusia yang paling mendasar untuk mempertahankan hidupnya secara fisik, yaitu kebutuhan akan makanan, minuman, tempat tinggal, seks, tidur, istirahat, dan udara. Salah satu alasan dari pengungjung datang ke gunung kawi adalah untuk sukses dan keberhasilan dalam hidup. Sehingga kebutuhan-kebutuhan dasarnya mereka dapat terpenuhi.
  2. Kebutuhan Keamanan dan Keselamatan. Segera setelah kebutuhan dasariah terpuaskan, muncullah apa yang digambarkan Maslow sebagai kebutuhan akan rasa aman atau keselamatan. Kebutuhan ini menampilkan diri dalam kategori kebutuhan akan kemantapan, perlindungan, kebebasan dari rasa takut, cemas dan kekalutan. Motivasi untuk memenuhi kebutuhan ini juga tampak di pengunjung muslim gunung kawi, dimana mereka datang kesana dikarenakan ingin sehat, jauh dari sakit, serta ingin berhasil dan sukses sehingga jauh dari ketakutan serta kecemasan terhadap kegagalan dan kurangnya sejahtera.
  3. Kebutuhan Sosial. Setelah terpuaskan kebutuhan akan rasa aman, maka kebutuhan sosial yang mencakup kebutuhan akan rasa memiliki-dimiliki, saling percaya, cinta, dan kasih sayang akan menjadi motivator penting bagi perilaku. Kedatangan ke gunung kawi karena ingin mendapatkan jodoh juga tidak lepas dari faktor kebutuhan ini.
  4. Kebutuhan Penghargaan. Menurut Maslow, semua orang dalam masyarakat (kecuali beberapa kasus yang patologis) mempunyai kebutuhan atau menginginkan penilaian terhadap dirinya yang mantap, mempunyai dasar yang kuat, dan biasanya bermutu tinggi, akan rasa hormat diri atau harga diri. Pada pengunjung di gunung kawi motivasi akan pemenuhan kebutuhan penghargaan ini tidak lepas jika seseorang dalam kedudukannya mengalami perubahan kearah yang positif yaitu bertambah sukses, berhasil dalam karir dll, masyarakat sekitar pasti akan memberikan penghargaan terhadap individu tersebut.
  5. Kebutuhan Akutualisasi Diri (Self Actualization) Setiap orang ingin mengembangkan kapasitas kerjanya dengan baik. Hal ini merupakan kebutuhan untuk mewujudkan segala kemampuan (kebolehannya) dan seringkali nampak pada hal-hal yang sesuai untuk mencapai citra dan cita diri seseorang. Aktualisasi diri ini juga tidak lepas dari ingin mendekatkan diri dengan Tuhan. Sehingga pengunjung disana juga beranggapan bahwa dengan datang kesana merupakan salah stu aktivitas yang dapat mendekatkan diri dengan Tuhan.

Berdasarkan kebutuhan-kebutuhan pengunjung muslim di gunung kawi. Maka menyebabkan mereka datang ke gunung kawi dan melakukan ritual-ritual tersebut sebagai salah satu bentuk dari usaha mereka untuk menadapatkan kebutuhan tersebut.

Jika dikaitkan dengan kepercayaan maka seseorang yang memiliki motivasi atau dorongan akan pemenuhan kebutuhan akan percaya dengan segala apapun yang menghantarkan mereka pada pemenuhan kebutuhan tersebut. Sehingga jika seseorang sudah termotivasi dan memiliki kepercayaan maka akan menimbulkan perilaku sesuai dengan kepercayaan dan motivasi mereka dalam pemenuhan kebutuhan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB V

PENUTUP

 

5.1. Kesimpulan

Terdapat hubungan yang saling terkait antara kepercayaan jawa dengan agama islam. Dimana penganut agama islam di jawa tidak terlepas dari ritual-ritual budaya jawa seperti selamatan, nyekar, dll. Kepercayaan yang didapat oleh pengunjung di gunung ini merupakan hasil dari proses kognif yang dikaitkan dengan teori representasi sosial dalam pembentukaanya. Kepercayaan pengunjung akan ritual-ritual gunung yang dapat memberikan keberkahan dan kesuksesan juga menjadikan arahan dalam pembentukan perilaku. Sehingga seseorang akan melakukan sesuatu hal pasti di dasarkan pada kepercayaan bahwa perilaku tersebut sesuai dengan apa yang dia yakini. Motivasi dalam pemenuhan kebutuhan juga merupakan penguat dari perilaku ritual gunung kawi oleh pengunjung muslim.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Satori Djam’an., Komariah Aan. 2011. Metode Penelitian Kualitatif. Alfabeta: bandung

Sugiyono. 2008. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Alfabeta: bandung

Munandar Ashar Sunyoto. 2010. Psikologi Industri dan Organisasi. UI Press: Jakarta

Solso, Robert L., Maclin, Otto H., Maclin M. K. 2007. Psikologi Kognitif. Erlangga: Jakarta

Alwisol. 2009. Psikologi Kepribadian. UMM Press: Malang

Simuh, Islam dan Pergumulan Budaya Jawa, (Jakarta Selatan : Teraju, 2003).

http://wisata.kompasiana.com

http://akhfa14.wordpress.com/2012/02/06/representasi-sosial/

http://kolokiumkpmipb.wordpress.com/tag/representasi-sosial/

http://www.docstoc.com/docs/20428553/LATAR-BELAKANG-TEORETIK-TEORI-REPRESENTASI-SOSIAL

http://kumpulan-teori-skripsi.blogspot.com/2011/09/teori-hirarki-kebutuhan.html

http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2009/11/motivasi-teori-hirarki-kebutuhan-maslow/

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Lampiran

 

 

 

 

 

 

 

 


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KRISIS LAGU ANAK-ANAK: LAGUKU BUKAN LAGI DUNIAKU (REALITA MUSIK ANAK INDONESIA)

Dunia anak???

jika setiap orang ditanya dunia anak-anak itu seperti apa maka kebanyakan orang pasti akan menjawab dunia anak adalah bermain. Dunia anak-anak berisikan hal-hal yang menyenangkan, penuh dengan hiburan, dan bernyanyi.

Bermain dan bernyanyi tidak dapat dipisahkan dari dunia anak-anak. Anak dapat bermain sambil bernyanyi untuk menunjukkan perasaan bahagia mereka. Bernyanyi sangatlah penting bagi anak-anak. Dengan bernyanyi anak dapat meningkatkan semangat mereka dalam belajar, contohnya ketika guru TK ingin menarik perhatian murid mereka maka guru tersebut akan menggabungkan belajar dengan bernyanyi. Bernyanyi juga dapat mendekatkan hubungan antara orang tua-anak, anak dengan teman sebaya dan anak dengan guru.

Ketika kita mengetahui bagaimana pentingnya peran bernyanyi dalam perkembangan anak-anak. maka jenis lagu dan isi lagu sangatlah penting juga. Pada jenis lagu yang dapat digunakan anak-anak, maka tentulah lagu yang bergenre anak-anak dengan isi atau content dari lagu juga mencerminkan dunia anak-anak. Seperti yang kita ketahui banyak lagu anak-anak yang ceria, sederhana, dan sarat nilai yang  berguna bagi perkembangan anak serta berguna dalam pendidikan dan pembentukan karakter anak-anak bangsa, seperti lagu ambilkan bulan bu, bangun tidur, kasih ibu, lihat kebunku, satu-satu, si kancil, pelangi, nenek moyang dll.

Sehingga kita harusnya juga mengetahui bahwa betapa pentingnya musik bagi dunia anak-anak. Dengan musik anak dapat menghilangkan kelelahan, kecemasan, dan ketegangan yang dialami anak-anak; dengan musik anak dapat meningkatkan konsentrasi mereka dalam belajar; dengan musik anak dapat memperdalam hubungan persahabatan dengan teman sebaya; dengan musik anak dapat menciptakan kreativitas; dan dengan musik pula anak dapat memperkuat karakter dan perilaku positif mereka.

Bagaimana realita musik anak Indonesia sekarang???

Anak-anak Indonesia banyak menyanyikan lagu iwak peyek??? atau bahkan hafal lagunya Justin Bieber??? Fenomena tersebut bukanlah hal yang aneh lagi di masyarakat. Memang itulah realita yang dialami anak-anak saat ini. Sering kita temui di lingkungan sekitar kita banyak anak kecil yang menyayikan dan menyukai lagu-lagu orang dewasa. Padahal kita mengetahui lagu-lagu itu bukanlah lagu yang layak dan tepat dinyanyikan oleh anak-anak.

Bagaimana lagu tersebut bisa tidak tepat atau bahkan tidak layak dikonsumsi oleh anak-anak jika pada lagu tersebut berisikan putus cinta, selingkuh, cemburu, galau, dll. Padahal seperti yang kita ketahui dunia anak-anak tidak bisa dilepaskan dari bermain dan bernyanyi. Maka lagu-lagu yang baik dan tepat bagi anak-anak pun sangatlah penting bagi tumbuh kembang anak-anak.

Bagaimana jika anak-anak terus mengkonsumsi lagu-lagu dewasa???
Dampak dari fenomena tersebut sudah dapat kita rasakan saat ini, dimana sekarang banyak anak kecil seperti anak SD yang sudah pacaran, dan bahkan punya pacar lebih dari satu karena terinspirasi dari sebuah lagu. Jika terjadi hal seperti itu apakah perkembangan anak  secara emosional dan psikis dapat dikatakan baik???

Maka jawabannya adalah TIDAK. Dewasa sebelum umurnya akibat sebuah lagu merupakan salah satu dampak dari konsumsi lagu dewasa pada anak-anak, dampak yang lainnya juga meliputi menurunnya moral dan karakter anak-anak pada umumnya.

Maraknya lagu dewasa dan sedikitnya perkembangan lagu anak-anak di Indonesia inilah yang menjadi salah satu penyebab mengapa anak-anak lebih menyukai lagu-lagu dewasa. Kita ketahui bahwa banyak sekali acara-acara musik di televisi yang menayangkan lagu-lagu dewasa, tetapi hanya sedikit yang mengeksplor lagu-lagu anak-anak. Maka tidak heran jika memang anak-anak suka menyanyikan lagu-lagu dewasa. Mengamati dan meniru itulah anak-anak. Jadi tidak salah jika anak-anak sering menyanyikan lagu-lagu dewasa jika mereka memang sering mendengarkan lagu-lagu tersebut.

Maka bagaimana untuk menanggulangi hal tersebut???

Peran orang tua dalam hal ini sangatlah penting dalam hal ini, karena tugas orang tualah yang memfilter apa saja yang masuk atau dikonsumsi oleh anak-anak. oleh karena itu maka orang tua harus aktif mengenalkan lagu anak-anak kembali ke dunia mereka. Buat anak-anak suka menyanyikan lagu anak-anak dari pada lagu-lagu dewasa. itulah yang harus dicapai oleh orang tua, sulit memang jika anak-anak sudah terlanjur terkontaminasi lagu dewasa tapi hal itu bukanlah mustahil jika orang tua bisa memaksimalkan perannya dalam mengenalkan lagu-lagu anak kembali.

Peran industry musik pun juga penting dalah hal ini, sehingga tugas dari industry musik Indonesia adalah mengembangkan kembali lagu anak-anak yang ceria, sederhana dan sarat nilai.

Sehingga untuk menanggulai permasalahan yang menimpa anak-anak dan musik anak Indonesia. Maka tugas kita bersama baik anak, kaum pemuda, orang tua, industry musik, untuk mengembalikan dunia anak ke lagu anak-anak.Image

KRISIS LAGU ANAK-ANAK: LAGUKU BUKAN LAGI DUNIAKU (REALITA MUSIK ANAK INDONESIA)

Dunia anak???
jika setiap orang ditanya dunia anak-anak itu seperti apa maka kebanyakan orang pasti akan menjawab dunia anak adalah bermain. Dunia anak-anak berisikan hal-hal yang menyenangkan, penuh dengan hiburan, dan bernyanyi.
Bermain dan bernyanyi tidak dapat dipisahkan dari dunia anak-anak. Anak dapat bermain sambil bernyanyi untuk menunjukkan perasaan bahagia mereka. Bernyanyi sangatlah penting bagi anak-anak. Dengan bernyanyi anak dapat meningkatkan semangat mereka dalam belajar, contohnya ketika guru TK ingin menarik perhatian murid mereka maka guru tersebut akan menggabungkan belajar dengan bernyanyi. Bernyanyi juga dapat mendekatkan hubungan antara orang tua-anak, anak dengan teman sebaya dan anak dengan guru.
Ketika kita mengetahui bagaimana pentingnya peran bernyanyi dalam perkembangan anak-anak. maka jenis lagu dan isi lagu sangatlah penting juga. Pada jenis lagu yang dapat digunakan anak-anak, maka tentulah lagu yang bergenre anak-anak dengan isi atau content dari lagu juga mencerminkan dunia anak-anak. Seperti yang kita ketahui banyak lagu anak-anak yang ceria, sederhana, dan sarat nilai yang berguna bagi perkembangan anak serta berguna dalam pendidikan dan pembentukan karakter anak-anak bangsa, seperti lagu ambilkan bulan bu, bangun tidur, kasih ibu, lihat kebunku, satu-satu, si kancil, pelangi, nenek moyang dll.
Sehingga kita harusnya juga mengetahui bahwa betapa pentingnya musik bagi dunia anak-anak. Dengan musik anak dapat menghilangkan kelelahan, kecemasan, dan ketegangan yang dialami anak-anak; dengan musik anak dapat meningkatkan konsentrasi mereka dalam belajar; dengan musik anak dapat memperdalam hubungan persahabatan dengan teman sebaya; dengan musik anak dapat menciptakan kreativitas; dan dengan musik pula anak dapat memperkuat karakter dan perilaku positif mereka.
Bagaimana realita musik anak Indonesia sekarang???
Anak-anak Indonesia banyak menyanyikan lagu iwak peyek??? atau bahkan hafal lagunya Justin Bieber??? Fenomena tersebut bukanlah hal yang aneh lagi di masyarakat. Memang itulah realita yang dialami anak-anak saat ini. Sering kita temui di lingkungan sekitar kita banyak anak kecil yang menyayikan dan menyukai lagu-lagu orang dewasa. Padahal kita mengetahui lagu-lagu itu bukanlah lagu yang layak dan tepat dinyanyikan oleh anak-anak.
Bagaimana lagu tersebut bisa tidak tepat atau bahkan tidak layak dikonsumsi oleh anak-anak jika pada lagu tersebut berisikan putus cinta, selingkuh, cemburu, galau, dll. Padahal seperti yang kita ketahui dunia anak-anak tidak bisa dilepaskan dari bermain dan bernyanyi. Maka lagu-lagu yang baik dan tepat bagi anak-anak pun sangatlah penting bagi tumbuh kembang anak-anak.
Bagaimana jika anak-anak terus mengkonsumsi lagu-lagu dewasa???
Dampak dari fenomena tersebut sudah dapat kita rasakan saat ini, dimana sekarang banyak anak kecil seperti anak SD yang sudah pacaran, dan bahkan punya pacar lebih dari satu karena terinspirasi dari sebuah lagu. Jika terjadi hal seperti itu apakah perkembangan anak secara emosional dan psikis dapat dikatakan baik???
Maka jawabannya adalah TIDAK. Dewasa sebelum umurnya akibat sebuah lagu merupakan salah satu dampak dari konsumsi lagu dewasa pada anak-anak, dampak yang lainnya juga meliputi menurunnya moral dan karakter anak-anak pada umumnya.
Maraknya lagu dewasa dan sedikitnya perkembangan lagu anak-anak di Indonesia inilah yang menjadi salah satu penyebab mengapa anak-anak lebih menyukai lagu-lagu dewasa. Kita ketahui bahwa banyak sekali acara-acara musik di televisi yang menayangkan lagu-lagu dewasa, tetapi hanya sedikit yang mengeksplor lagu-lagu anak-anak. Maka tidak heran jika memang anak-anak suka menyanyikan lagu-lagu dewasa. Mengamati dan meniru itulah anak-anak. Jadi tidak salah jika anak-anak sering menyanyikan lagu-lagu dewasa jika mereka memang sering mendengarkan lagu-lagu tersebut.
Maka bagaimana untuk menanggulangi hal tersebut???
Peran orang tua dalam hal ini sangatlah penting dalam hal ini, karena tugas orang tualah yang memfilter apa saja yang masuk atau dikonsumsi oleh anak-anak. oleh karena itu maka orang tua harus aktif mengenalkan lagu anak-anak kembali ke dunia mereka. Buat anak-anak suka menyanyikan lagu anak-anak dari pada lagu-lagu dewasa. itulah yang harus dicapai oleh orang tua, sulit memang jika anak-anak sudah terlanjur terkontaminasi lagu dewasa tapi hal itu bukanlah mustahil jika orang tua bisa memaksimalkan perannya dalam mengenalkan lagu-lagu anak kembali.
Peran industry musik pun juga penting dalah hal ini, sehingga tugas dari industry musik Indonesia adalah mengembangkan kembali lagu anak-anak yang ceria, sederhana dan sarat nilai.
Sehingga untuk menanggulai permasalahan yang menimpa anak-anak dan musik anak Indonesia. Maka tugas kita bersama baik anak, kaum pemuda, orang tua, industry musik, untuk mengembalikan dunia anak ke lagu anak-anak.