MEMBENTUK INDONESIA BERKARAKTER DENGAN NILAI-NILAI KETUHANAN SEBAGAI PONDASI UTAMA

Abstrack:

karakter adalah sebuah sistem keyakinan dan kebiasaan yang mengarah pada  tindakan seorang individu.  Sesuai dengan sifat-sifat Rasullah yang didasarkan pada nilai-nilai Ketuhanan seperti  jujur, amanah, dan dapat dipercaya. Maka karakter yang didasarkan pada nilai-nilai Ketuhanan inilah pondasi utama membentuk Indonesia berkarakter. Tetapi  dewasa ini  fenomena korupsi, penipuan, dan tindak kejahatan dengan menyalagunakan wewenang sedang marak terjadi di Indonesia, padahal Negara Indonesia merupakan Negara yang mayoritas beragama islam. berlainan dengan karakter  orang muslim yang jujur, amanah, dan bertanggung jawab yang seharusnya dimiliki Negara Indonesia dengan mayoritas beragama islam. Hal tersebut merupakan permasalahan dalam pembahasan ini. Permasalahan tersebut akan lebih urgent lagi jika anak-anak sebagai generasi muda yang merupakan pewaris tanggung jawab dalam pembentukan peradapan masa depan bangsa juga  memiliki karakter-karakter yang tidak jujur, tidak amanah, dan tidak bertanggung jawab. Maka untuk mengatasi permasalahan tersebut, tulisan ini menawarkan solusi dengan program parenting yang dilakukan oleh orang tua dengan memaksimalkan dialog atau percakapan orang tua-anak dengan mengisi jeda ba’da sholat maghrib dan isya’.  Pada dialog tersebut orang tua dapat menamkan karakter-karakter terpuji yang didasarkan nilai-nilai Ketuhanan melalui cerita-cerita para nabi, rasulullah, dan para sahabat.

Keyword: karakter, nilai-nilai ketuhanan, parenting

 

Naskah

Menurut bahasa, karakter adalah tabiat atau kebiasaan. Sedangkan menurut ahli psikologi, karakter adalah sebuah sistem keyakinan dan kebiasaan yang mengarahkan tindakan seorang individu. Karena itu, jika pengetahuan mengenai karakter seseorang itu dapat diketahui, maka dapat diketahui pula bagaimana individu tersebut akan bersikap untuk kondisi-kondisi tertentu.

Dilihat dari sudut pengertian, ternyata karakter dan akhlak tidak memiliki perbedaan yang signifikan. Keduanya didefinisikan sebagai suatu tindakan yang terjadi tanpa ada lagi pemikiran lagi karena sudah tertanam dalam pikiran, dan dengan kata lain, keduanya dapat disebut dengan kebiasaan.

Karakter-karakter yang berdasarkan nilai-nilai ketuhanan merupakan pondasi utama yang harus ditanamkan pada anak-anak. Nilai-nilai ketuhanan merupakan nilai-nilai yang didasarkan pada Ketuhanan, nilai-nilai ketuhanan dalam islam ini dijelaskan pada Asma’ul Husnah atau nama-nama baik yang merupakan sifat-sifat Allah. Dari 99 nama Allah bisa dijadikan dasar dalam suri tauladan atau karakter yang baik dalam berkehidupan.

Dari beberapa nilai-nilai ketuhanan yang terdapat di dalam Asmaul Husna. Jujur, amanah, dan dapat dipercaya merupakan karakter yang harus ada dan dimiliki anak-anak sebagai generasi muda Indonesia sebagai pondasi utama. Sebagai generasi muda yang merupakan calon-calon Khalifah atau pemimpin di bangsa ini maka karakter tersebut sangatlah penting untuk Membentuk Indonesia Berkarakter yang sesuai dengan karakter yang dimiliki masyarakatnya.

Karakter jujur dalam nilai-nilai ketuhanan.

Seperti halnya dalam Asmaul Husna bahwa Allah memiliki sifat Al-Mujiibu yang artinya Maha Mengabulkan, sifat tersebut ditegaskan dalam Al-Quran, “Aku mengabulkan permohonan orang yang mendoa, apabila berdoa kepadaKu” (Q.S. Al Baqarah, 2: 186). Didalam sifat Allah yang Maha Mengabulkan juga terkandung sifat Maha menepati janji, dimana Allah tidak pernah ingkar atau berbohong dengan janji-janji-Nya yang akan mengabulkan permintaan umatnya. Jika dikupas secara mendalam dalam sifat Allah yang Al-Mujiibu selain mememiliki sifat Maha Mengabulkan juga terdapat sifat-sifat lain yang menyertainya, seperti: Maha Menepati Janji, Maha Jujur terhadap semua perkataan dan tindakan-Nya. Maka karakter “jujur” inilah yang dapat ditiru oleh manusia untuk dijadikan salah satu pondasi dalam membentuk karakter lainnya.

Karakter amanah dalam nilai-nilai ketuhanan

Sifat lainnya yang dimiliki oleh Allah adalah Al-Waliy yang berarti Maha Menolong, Maha Melindungi, Maha Menyangga, dan Maha Bertanggung jawab. Dari sifat-sifat tersebut maka ‘bertanggung jawab atau amanah” merupakan karakter yang dijadikan salah satu pondasi dalam hidup bermasyarakat. Seperti halnya bertanggung jawab akan segala sesuatu hal yang diamanahkan atau diberikan kepada kita dengan melindunginya, menjaganya, dan lain-lain.

Karakter dapat dipercaya dalam nilai-nilai ketuhanan

Allah juga memiliki sifat Al Haaqu yang memiliki arti Maha Benar. Allah selalu benar akan setiap perkataan-Nya. Sehingga segala sesuatu yang dijanjikan Allah, wajib dipercaya oleh umat-Nya, karena Allah tidak pernah mengingkari apa yang permah dikatakan-Nya.

Dapat dipercaya merupakan karakter yang melengkapi dari dua karakter lainnya dalam membentuk karakter bermasyarakat yang baik. Sesorang dikatakan dapat dipercaya jika dia memiliki karakter jujur dalam berbicara seperti mengatakan kebenaran dalam perkataannya tidak memutarkan fakta atau kenyataan yang ada dan jujur dalam bertindak, sehingga sesuai antara perkataan dan tindakannya. Jika seseorang memiliki karakter yang jujur maka mereka akan selalu memegang kepercayaan yang diberikannya dan tidak akan mengkhianatinya.

Selain ketiga karakter tersebut masih banyak lagi karakter-karakter pendukung yang bisa dibentuk berdasarkan nilai-nilai ketuhanan yang terdapat dalam Asmaul Husna seperti penyanyang, suka menolong, adil, bijaksana, pemaaf.

Realita yang ada di Indonesia saat ini

Seperti yang kita ketahui fenomena korupsi, penipuan, baik itu penipuan secara langsung ataupun melalui media seperti media online, dan tindak kejahatan yang dikarenakan penyalahgunaan wewenang seperti pemerasan dan kekerasan sedang marak di Indonesia. Fenomena-fenomena tersebut selalu bertambah banyak dan berkembang setiap tahunnya. Bahkan dari survey yang dilakukan badan independen dari 146 negara, tercatat data 10 besar negara yang dinyatakan sebagai negara terkorup dan Indonesia menempati urutan ke-5 dari 10 catatan survey tersebut. sedangkan untuk tingkat Asia-Pasifik, Negara kita menempati urutan pertama menjadi Negara terkorup. Bagaimana hal tersebut bisa terjadi? Padalah Negara Indonesia merupakan Negara yang mayoritas penduduknya beragama islam. Berlainan dengan karakter  orang muslim yang jujur, amanah, dan bertanggung jawab yang seharusnya dimiliki Negara Indonesia dengan mayoritas beragama islam.

Permasalahan tersebut mungkin bukanlah menjadi masalah besar jika Negara kita bukanlah Negara yang penduduknya mayoritas muslim, tetapi kenyataannya Negara kita adalah Negara yang mayoritas beragama islam. hal ini dipertegas dengan data statistik BPS (akhir 2010), yang menyatakan bahwa jumlah pemeluk agama Islam  di Indonesia sekitar 87.18 %. Apa yang mengakibatkan problema demikian? Padahal seperti yang kita ketahui bahwa di dalam Islam perilaku korupsi mengambil sesuatu yang bukan miliknya, menipu, penyalah gunaan wewenang atau adalah perbuatan yang keji dan tercela. hal tersebut diperkuat dalam Al-Quran dimana Allah tidak menyukai dan tidak akan memberikan hidayah. Allah berfirman:

(يهدي من هو مسرف كذاب (غافر: 28 إن الله لا

”Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang melampui batas lagi pendusta.” (QS. Ghafir: 28)

Allah juga mempertegas dengan akan memberikan siksaan kepada orang-orang yang berdusta dan melampaui batas dalam surat Al Baqarah ayat 6-8, yaitu:

وَمِنَ النَّاسِ مَن يَقُولُ آمَنَّا بِاللّهِ وَبِالْيَوْمِ الآخِرِ وَمَا هُم بِمُؤْمِنِينَ
يُخَادِعُونَ اللّهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلاَّ أَنفُسَهُم وَمَا يَشْعُرُونَ
فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٌ فَزَادَهُمُ اللّهُ مَرَضاً وَلَهُم عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ

Artinya:
Di antara manusia ada yang mengatakan: “Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian,” padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar. Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.(Q.S. Al Baqarah: 6-8).

dalam firman Allah tersebut, orang-orang yang menyatakan beriman, padahal mereka sebenarnya berdusta akan hal tersebut, maka mereka adalah orang yang mendustakan dan berkhianat akan agama, dan iman yang mereka katankalah hanyalah untuk menipu Allah dan orang-orang disekitarnya. sehingga tidak akan ada kebenaran dalam perkataannya dan tidak akan dipercaya untuk diamanahkan sesuatu orang-orang tersebut. dan orang-orang yang tergolong dusta, berkhianat, akan mendapatkan siksaan yang pedih sebagai balasannya.

Dalam ajaran nabi Muhammad saw yang merupakan suri tauladan bagi umat islam, beliau menekankan akan pentingnya akhlak yang harus dijaga oleh umat muslim, yaitu jujur, amanah, dan dapat dipercaya. Ketika seorang muslim bisa menjaga akhlak tersebut maka mereka akan terhindar tindakan tercela yang layaknya orang munafik, yaitu bila berbicara, ia berdusta; bila berjanji, ia mengingkari; dan bila dipercaya, ia berkhianat. Ciri-ciri orang munafik di pertegas pada Hadist al-Bukhari, Muslim, Ahmad, at-Tirmidzi, an-Nasaa’i dari abu Hurairah.

Namun pada kenyataanya orang-orang muslim di Indonesia saat ini sedang mengalami permasalahan yaitu krisis karakter yang baik. dan permasalahan bertambah besar dan berkepanjangan ketika anak-anak sebagai generasi penerus juga mengalami krisis karakter baik juga.  Pada saat ini krisis karakter baik pun bahkan sudah menjangkiti anak-anak. hal ini dapat dapat kita lihat realita disekitar kita bahwa saat ini banyak anak yang tidak jujur kepada orang tuanya, kasus mencuri uang jajan temannya pada anak SD, dan kasus-kasus kecil pada anak SD yang dihukum akibat tidak mengerjakan tugas sekolah (amanah) yang diberikan oleh guru.

Krisis karakter baik yang dialami oleh anak-anak saat ini tidak lepas dari pengaruh orang dewasa. Pada teori belajar yang disampaikan oleh Albert Bandura yang menjelaskan bahwa anak-anak akan cenderung melakukan modeling atau peniruan dari lingkungan di sekitarnya. Sehingga jika anak mengalami krisis karakter baik ini sangat terkait dengan meniru perilaku orang dewasa. Dimana jika orang tua dan orang-orang disekitarnya tidak jujur, amanah, dan dapat dipercaya maka besar kemungkinan anak-anak akan meniru sikap-sikap tersebut.

Hal lainnya yang dapat memicu dari krisis karakter pada anak-anak juga akibat dari banyaknya pemberitaan mengenai kasus penipuan, koruptor, dan penyalahgunaan jabatan yang diberitakan. Sehingga tidak menutup kemungkinan anak-anak juga akan meniru perbuatan tersebut.

Oleh sebab itu, Peran Orang tua dalam parenting itu sangatlah penting, peran ayah dan ibu dalam hal ini adalah sebagai pembimbing dalam kehidupan baru, seorang penjaga, maupun seorang pelindung bagi anaknya. Parent adalah seseorang yang mendampingi dan membimbing semua tahapan pertumbuhan anak, yang merawat, melindungi, mengarahkan kehidupan baru anak dalam setiap tahapan perkembangannya (Brooks, 2001).

Pengasuh erat kaitannya dengan kemampuan suatu keluarga atau rumah tangga dan komunitas dalam hal memberikan perhatian, waktu dan dukungan untuk memenuhi kebutuhan fisik, mental, dan social anak-anak yang sedang dalam masa pertumbuhan serta bagi anggota keluarga lainnya (ICN 1992 dalam Engel et al. 1997). Hoghughi (2004) menyebutkan bahwa pengasuhan mencakup beragam aktifitas yang bertujuan agar anak dapat berkembang secara optimal dan dapat bertahan hidup dengan baik.

Sementara itu, menurut Jerome Kagan seorang psikolog perkembangan mendefinisikan pengasuhan (parenting) sebagai serangkaian keputusan tentang sosialisasi pada anak, yang mencakup apa yang harus dilakukan oleh orang tua atau pengasuh agar anak mampu bertanggung jawab dan memberikan kontribusi sebagai anggota masyarakat termasuk juga apa yang harus dilakukan orang tua atau pengasuh ketika anak menangis, marah, berbohong, dan tidak melakukan kewajibannya dengan baik (Berns, 1997). Dengan pengasuhan yang baik oleh orang tua anak tidak akan mengalami krisis karakter, melainkan akan membentuk anak yang berkarakter dan berakhlak baik, sehingga dapat hidup dengan baik dalam kehidupan bermasyarakat.

Oleh karena urgensi dari permasalahan yang dialami di Indonesia yang berdampak pada pembentukan karakter pada anak, maka tulisan ini memberikan solusi program parenting yang bisa dilakukan oleh orang tua yang ada di Indonesia untuk membentuk anak-anak berkarakter dengan nilai-nilai ketuhanan yaitu dengan memaksimalkan dialog antara orang tua dan anak. Mengapa pemaksimalan dialog orang tua-anak dijadikan solusi utama? hal ini dikarenakan proses pengasuhan bukanlah sebuah hubungan satu arah yang mana orang tua mempengaruhi anak namun lebih dari itu, pengasuhan merupakan proses interaksi antara orang tua dan anak.

Dalam tulisan ini juga memberikan alternatif yang tepat dimana kapan pemaksimalan dialog antara orang-anak yang dirasa tepat yaitu pada saat jeda ba’da sholat maghrib dan isya’. Mengapa pada saat tersebut dirasa tepat?

  • Karena kegiatan tersebut dilakukan pada saat ba’da sholat maghrib dan isya’ maka orang tua bisa sekaligus menerapkan sholat berjamaah dengan anak.
  • Karena pada saat-saat itu atmosfir atau suasana dirasa sangat cocok untuk memberikan pemahaman dan menanamkan nilai-nilai ketuhanan pada anak.
  • Karena pada saat itu orang tua terbebas dari pekerjaan kantor (bagi ayah) dan pekerjaan rumah tangga (bagi ibu), dan anakpun pada saat itu bebas dari aktivitas bermain.

 

Sedangkan pada isi dialog tersebut orang tua bisa mengisinya dengan mengenalkan dan memberikan pemahaman akan ketahuidan, nilai-nilai ketuhanan, karakter-karakter terpuji. Adapun juga orang tua bisa mengawali dialog tersebut dengan mengaji bersama kemudian menjelaskan apa yang sudah mereka bajakan dengan pemahaman yang dapat ditangkap oleh anak yaitu melalui cerita-cerita para nabi, rasulullah, dan para sahabat. Orang tua disini juga harus berperan aktif untuk memancing tanggapan anak seperti bagaimana tanggapan anak mengenai cerita contohnya cerita nabi yang diberi kepercayaan meletakkan hajar aswat di dekat ka’bah. sehingga dari tanggapan anak tersebut akan memicu dialog secara dua arah. dan akhirnya anak akan memiliki pemahaman secara terarah dan dapat mengambil kesimpulan dari pelajaran dari kisah-kisah para nabi, rasul, dan para sahabat. Dari kisah dan dialog tersebut akhirnya anak akan secara tidak langsung akan menanamkan pemahaman akhlak atau karakter baik dalam perilaku sehari-hari yang sesuai dengan yang dilakukan oleh nabi, rasul, dan para sahabat.

Ketika orang tua di Indonesia dapat melakukan sebagaimana solusi yang ditawarkan ini. maka harapan untuk menjadikan Anak Berkarakter sekaligus Indonesia Berkarakter di hari esok bukanlah hal yang mustahil jika memang anak-anak sebagai generasi penerus memiliki karakter-karakter terpuji layaknya para nabi, rasul, dan para sahabat seperti jujur, amanah, dan dapat dipercaya.

DAFTAR REFRENSI

 

Hasan Al-Banna. Al Qura’anulkarim dan Terjemahannya. Sygma: Bandung

Papalia, Diane E., Olds, Sally W., Feldman, Ruth D. 2009. Human Development Perkembangan manusia. Edisi 10. Jilid 1. Salemba Humanika: Jakarta

Hawari, Dadang. 2008. Integritas Agama Dalam Pelayanan Medik. Balai Penerbit FKUI: Jakarta

http://edukasi.kompasiana.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s