MEMBENTUK KETERATURAN MASYARAKAT DENGAN PEMAHAMAN SHALAT MELALUI SUPEREGO

KARYA TULIS ILMIAH

 

MEMBENTUK KETERATURAN MASYARAKAT DENGAN PEMAHAMAN SHALAT MELALUI SUPEREGO

 

 

Disusun Oleh:

 

Viny Alfiani                       105120307111067

 

 

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2012

Abstract:

Keteraturan masyarakat adalah sebuah kondisi dimana masyarakat dalam kehidupan bermasyarakat dapat berjalan tertib dan teratur. Dalam Negara, keteraturan masyarakat sangat penting sebagai tolak ukur kesehatan suatu Negara. Tetapi dewasa ini banyak fenomena korupsi, tindak kejahatan, depresi, stress, dan skizofrenia yang menunjukkan ketidakteraturan masyarakat di Indonesia. Problema ini patut dikaji karena Negara dengan mayoritas penduduknya beragama Islam tetapi memiliki tingkat kejahatan, stress, depresi, skizofrenia yang terus bertambah banyak jumlahnya setiap tahunnya.

Pada QS. Al-Ankabut: 45 yang menyatakan bahwa “Sholat dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar”. Maka dapat menjawab mengapa di Indonesia angka kejahatan, stress, depresi, dan skizofrenia sangat tinggi. Kurangnya pemahaman akan esensi sholat merupakan salah satu akar dan pencetus dari permasalahan-permasalahan yang ada dalam masyarakat. Masyarakat Indonesia kebanyakan masih berpandangan bahwa sholat hanyalah kewajiban semata untuk mendapatkan pahala dan menghindari siksa, bukan sebagai kebutuhan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan yang secara tidak langsung berdampak pada ketentraman jiwa dan ketenangan hati.

Berdasarkan teori psikoanalitik, Freud mengenai super ego, yang dalam konteks Islam merupakan ke-imanan yang meliputi nilai-nilai ketuhanan. Maka Super ego merupakan hal yang harus dibentuk dan ditanamkan sejak dini. Salah satu bentuk tindakan yang dapat mendekatkan mengenai ketuhanan atau ketauhidan adalah dengan Sholat.

Pada realita saat ini, pemahaman esensi sholat ini kebanyakan luput dari penjelasan orang tua. Banyak pengasuhan dan pola didikan orang tua yang hanya mengajarkan anak tentang sholat sebagai suatu ritunitas, kewajiban atau terkesan formalitas tanpa penghayatan yang mendalam dan konprehensif. Sehingga sejak kecil anak-anak hanya diminta untuk mengikuti gerakan sholat orang tua dan menghafalkan bacaan-bacaan sholat tanpa memahami tujuan sebenarnya melakukan sholat dan makna dari setiap bacaannya. Sehingga tidak sedikit anak yang memiliki pemahaman sholat yang salah, dan fatalnya, hal demikian  mengakar sampai mereka dewasa.

Dengan demikian pentingnya menanamkan esensi sholat sejak dini dan urgensi dari permasalahan yang dihadapi masyarakat Indonesia. Maka untuk mengatasi permasalahan tersebut, tulisan ini menawarkan solusi dengan program parenting  DAS (Dialog After Shalat) yang dilakukan oleh orang tua dengan memaksimalkan dialog atau percakapan orang tua-anak dengan mengisi jeda ba’da sholat maghrib dan isya’.  Pada dialog tersebut orang tua dapat menamkan pemahaman akan esensi shalat. Sehingga kelak setiap anak memiliki masalah akan menjadikan sholat sebagai problem solving untuk mendekatkan diri kepada Tuhan dan mendapatkan ketenangan hati yang dapat menjauhkan diri dari gangguan hati seperti stress, depresi, dan skizofrenia sebagai pemicu tindak kejahatan ataupun bunuh diri. Sehingga laju kejahatan di Indonesia bisa ditekan. Yang pada akhirnya, mampu membentuk keteraturan masyarakat yang agamis.

Keyword: Keteraturan Masyarakat, Esensi Sholat, Super Ego, Parenting

 

KATA PENGANTAR

 

Puji syukur saya panjatkan kepada Allah SWT atas segala rahmat dan hidayah-Nya sehingga Karya Tulis Ilmiah ini dapat diselesaikan dengan tepat waktu dan dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Adapun judul dari Karya Tulis Ilmiah ini adalah “Membentuk Keteraturan Masyarakat Dengan Pemahaman Shalat Melalui Super Ego” . Pada kesempatan kali ini, dengan segala ketulusan dan kerendahan hati,  saya juga tidak lupa mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya kepada semua pihak yang telah membantu saya dalam proses pembuatan Karya Tulis Ilmiah ini sehingga saya dapat menyelesaiakan Karya Tulis Ilmiah ini dengan tepat waktu dan dengan sebaik-baiknya yaitu ditujukan kepada :

  1. Dosen pembimbing Karya Tulis Ilmiah saya, yaitu Bpk Ilhamnuddin, S.Psi., M.A
  2. Orang tua saya yang senantiasa mendoakan saya untuk dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini.
  3. Teman-teman saya yang selalu mendukung dalam pembuatan Karya Tulis Ilmiah ini, khususnya adalah Nevita dan Alif. 
  4. Semua pihak yang tidak dapat saya sebutkan satu per satu yang telah membantu saya dalam proses pembutan Karya Tulis Ilmiah ini.

Saya menyadari bahwa Karya Tulis Ilmiah ini memiliki kekurangan dan belum sempurna, maka dari itu kritik dan saran sangat saya harapkan demi kesempurnaan Karya Tulis Ilmiah yang selanjutnya. Semoga Karya Tulis Ilmiah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca. AMIN.

 

 

Malang, 5 Mei 2012

 

                                                                                                                    Penulis

 

BAB

PENDAHULUAN

 A.    Latar Belakang

Dewasa ini fenomena tindak kejahatan, stres, depresi, dan skizofrenia yang ada di Indonesia semakin banyak terjadi dan semakin bertambah setiap tahunnya. Problema ini tidak hanya dialami oleh orang dewasa saja, tetapi juga anak-anak, remaja, dewasa, dan pada usia lanjut. Banyak kita temui kasus-kasus bullying ataupun pemerkosaan yang dilakukakan oleh anak SD, begitu juga pada remaja, dimana banyak remaja yang mengalami stress, depresi akibat dari permasalahan yang tidak dapat diselesaikan seperti patah hati yang akhirnya berujung pada percobaan bunuh diri. Begitu juga oleh kasus-kasus yang dihadapi oleh orang dewasa ataupun lansia yang tidak jauh dari fenomena-fenomena tersebut.

Problema tersebut merupakan pokok bahasan yang penting, dimana Negara Indonesia  yang merupakan mayoritas bergama Islam tetapi mengapa memiliki tingkat kejahatan, stres, depresi, dan skizofrenia yang cukup tinggi. Mengapa bisa terdapat permasalahan seperti demikian? Jika menilik dari Al-Quran pada surat Al-Ankabut: 45;

 

45. bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, Yaitu Al kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. dan Sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.

 Dari redaksi ayat di atas, maka sebenarnya bisa menjawab pertanyaan tersebut. Sebab  sholat merupakan ukuran ataupun cerminan dari perbuatan manusia.  Jika seseorang tetap melakukan perbuatan kejahatan ataupun masih mengalami stres, depresi, atau bahkan sampai skizofrenia maka dimungkinkan nilai sholatnya nihil.

Jika demikian, maka yang perlu menjadi perhatian adalah bagaimana orang tua mengajarkan dan mengenalkan anaknya mengenai sholat. Apakah orang tua sudah menanamkan esensi sholat yang tepat pada anak? Pada realita yang ada di masyarakat banyak orang tua yang mengajarkan dan mengenalkan sholat sebagai suatu kewajiban. Jika  rajin melakukan sholat maka Allah pasti akan memberikan pahala dan Surga, tetapi jika anak tidak melakukan sholat maka akan mendapatkan siksa dan neraka. Statement inilah yang selalu ditekankan pada orang tua untuk menakuti dan memaksa anak untuk melakukan sholat, dan jika anak masih  tidak patuh maka tidak semua orang tua melakukan punishment, diantaranya dengan “memukul” anaknya sebagai hukuman. Sehingga esensi sholat yang seharusnya sebagai salah satu cara untuk mendekatkan diri kepada Allah agar menjadikan jiwa tentram dan tenangnya hati menjadi terabaikan.

Pandangan dan pola mendidik inilah yang harus dirubah dari orang tua. Karena seperti pada teori tabularasa dimana anak diperumpamakan seperti kertas kosong dan orang tualah yang akan menentukan apa yang akan dituangkan pada kertas kosong tersebut. Jika orang tua sudah salah memberikan pemahaman tentang sholat sejak awal, maka anak akan memiliki  pemahaman dan pemaknaan sholat yang salah pula. Sehingga pemaksimalan peran orang tua dalam membentuk pemahaman anak baik dalam sholat ataupun dalam segala hal sangatlah penting.

Menanamkan super ego sebagaimana teori Freud merupakan hal yang penting untuk ditanamkan sejak dini, khususnya pada usia keemasan pada anak. Sehingga ketika dewasa kelak anak akan memiliki sistem mekanisme pertahanan diri yang kuat terhadap semua masalah dan segala bentuk permasalahan hati yang dapat mengakibatkan seseorang melakukan tindak kejahatan ataupun mengalami stres, depresi, dan skizofrenia. Dengan demikian membentuk masyarakat yang teratur bukanlah hal yang mustahil jika permasalahan-permasalahan yang marak terjadi di Indonesia bisa berkurang atau bahkan tidak ada lagi.

 

B.  Rumusan Masalah

1. Bagaimana membentuk super ego pada anak usia dini?

2. Bagaimana membangun keteraturan masyarakat dengan pemahaman sholat yang tepat pada anak usia dini?

3. Bagaimana peran orang tua dalam menanamkan esensi sholat sejak dini?

 

C.   Tujuan Penulisan

1. Untuk mengetahui pembentukan super ego pada anak usia dini

2. Untuk mengetahui bagaimana keteraturan masyarakat melalui pemahaman shalat

3. Untuk mengetahui peran orang tua terhadap pemahaman esensi shalat sejak dini

 

D.   Manfaat Penulisan

Ada dua bentuk kemanfaatan yang bisa diambil dalam penulisan kali ini:

Secara Teoritik

Secara teoritik penulisan kali ini memungkinkan bisa dijadikan tolak ukur, referensi pada kajian yang memiliki kesamaan bahasan atau bahkan kajian ulang dalam rangka pembenahan atas segala bentuk kekurangan yang tereduksi dalam kajian ini, yang selanjutnya untuk diadakan penyempurnaan dengan pengkajian yang cukup komprehensif, sekaligus dalam rangka pengembangan pemikiran secara akademik.

Secara Praktis

Ketika hasil penulisan ini memiliki akurasi dan juga memiliki tingkat kebenaran yang secara rasional atau secara esensial bisa diterima oleh banyak kalangan, baik kalangan akademisi maupun masyarakat umum, maka tidaklah keliru untuk menjadikan karya tulis ini tidak sekedar sebagai manhaj atau literatur akademis saja, namun layak untuk diaplikasikan oleh masing-masing orangtua dan lembaga pendidikan dalam rangka mencapai tujuan pendidikan anak tentang shalat yang ideal. Yaitu, tidak mengabaikannya sebuah pemahaman tentang esensi shalat yang menjadikan pembentukkan karakter anak yang betul-betul menjadikan shalat sebagai inspirasi dalam kehidupan jangka panjang.

 

BAB

TELAAH PUSTAKA

 

 A.    KETERATURAN MASYARAKAT

Masyrakat berasal dari bahasa arab yaitu musyarak. Masyarakat memiliki arti sekelompok orang yang membentuk sebuah sistem semi tertutup atau terbuka. Masyarakat terdiri atas individu-individu yang saling berinteraksi dan saling tergantung satu sama lain atau di sebut zoon polticon. Dalam proses pergaulannya, masyarakat akan menghasilkan budaya yang selanjutnya akan dipakai sebagai sarana penyelenggaraan kehidupan bersama. Oleh sebab itu, konsep masyarakat dan konsep kebudayaan merupakan dua hal yang senantiasa berkaitan dan membentuk suatu sistem.

Adapun beberapa definisi masyarakat menurut para ahli:

  1. Menurut Selo Sumardjan, masyarakat adalah orang-orang yang hidup bersama dan menghasilkan kebudayaan.
  2. Menurut Karl Marx, masyarakat adalah suatu struktur yang menderita suatu ketegangan organisasi atau perkembangan akibat adanya pertentangan antara kelompok-kelompok yang terbagi secara ekonomi.
  3.  Menurut Emile Durkheim, masyarakat merupakan suau kenyataan objektif pribadi-pribadi yang merupakan anggotanya.
  4. Menurut Paul B. Horton & C. Hunt, masyarakat merupakan kumpulan manusia yang relatif mandiri, hidup bersama-sama dalam waktu yang cukup lama, tinggal di suatu wilayah tertentu, mempunyai kebudayaan sama serta melakukan sebagian besar kegiatan di dalam kelompok / kumpulan manusia tersebut.

Sedangkan Keteraturan Masyarakat adalah gambaran dari keadaan masyarakat yang teratur, tertib sebagai hasil hubungan yang serasi antara tindakan sosial, nilai-sosial, dan norma sosial. Dalam keteraturan masyarakat akan melahirkan:

a. Tertib sosial.

b. Order.

c. Keajegan.

d. Pola

Tertib sosial merupakan gambaran tentang kondisi kehidupan masyarakat yang aman, dinamis, dan teratur.

Order menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, diartikan sebagai perintah atau pesanan untuk melakukan sesuatu. Dalam sosiologi, order adalah sistem norma dan nilai-nilai sosial yang berkembang.

Keajegan adalah gambaran tentang suatu kondisi keteraturan sosial yang tetap dan tidak berubah sebagai hasil hubungan yang selaras antara tindakan, norma, dan nilai dalam interaksi sosial.

Pola, artinya gambaran tentang corak, mode, sistem, atau struktur yang tetap. Dalam sosiologi pola berarti gambaran atau corak hubungan sosial yang tetap dalam berinteraksi sosial.

 

B.     ESENSI SHALAT

menurut bahasa, shalat artinya adalah doa. sedangkan menurut istilah syariat, pengertian shalat adalah ibadah yang terdiri dari bacaan-bacaan khusus yang diawali dengan takbir kepada Allah (takbirah al-ihram) dan diakhiri dengan salam.

Dalam Al-Quran sering kali disebut kata shalat. Tentu, hal ini menunjukkan betapa pentingnya kedudukan shalat dalam kehidupan ini. shalat yang baik dan benar akan mengantar seseorang mengingat kebesaran Allah dan mendorongnya untuk melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Makna ini mengandung isyarat tentang hikmah di balik perintah shalat. Sehingga esensi dari shalat itu adalah komunikasi antara hamba dengan penciptanya, yang dapat menimbulkan kecintaan kepada Allah dan menimbulakna ketenangan hati serta pikiran. Sehingga dengan pancaran hati yang tenang maka ia akan sanggup menjauhi perbuatan keji dan mungkar.

Ketakwaan seseorang tercemin dalam kehidupan sehari-hari, berupa akhlak yang baik. alangkah ruginya jika kita mengerjakan shalat, tetapi ternyata masih memiliki akhlak yang buruk. hal itu mengisyaratkan bahwa kita hanya dapat rasa letih dari shalat yang kita kerjakan, dan tanpa disadari, kita sebenarnya sudah menjauh dari Allah Swt.

Shalat merupakan suatu aktivitas jiwa (soul), yang di dalamnya terdapat proses perjalanan spiritual penuh makna yang dilakukan seorang manusia untuk menemui Tuhan Semesta Alam. Shalat dapat menjernihkan jiwa dan mengangkat peshalat untuk mencapai taraf kesadaran yang lebih tinggi (altered states of consciousness) dan pengalaman puncak (peak experience).

Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku (Thaha, 20:14)

Shalat memiliki kemampuan untuk mengurangi kecemasan karena terdapat lima unsur di dalamnya, yaitu:

  1. Meditasi atau doa yang teratur, minimal lima kali sehari
  2. relaksasi melaui gerakan-gerakan shalat
  3. hetero atau auto sugesti dalam bacaan shalat
  4. group-therapy dalam shalat jama’ah, atau bahkan dalam shalat sendirian pun minimal ada aku dan Allah
  5. hydro therapy dalam mandi junub atau wudhu’ sebelum shalat.

Shalat adalah salah satu cara ibadah yang berkaitan dengan meditasi transcendental, yaitu mengarahkan jiwa kepada satu objek dalam waktu beberapa saat, seperti halnya dalam melakukan hubungan langsung antar hamba dengan Tuhannya. ketika shalat, ruhani bergerak menuju Zat Yang maha Mutlak. Pikiran terlepas dari keadaan riil dan panca indra melepaskan diri dari segala macam keruwetan peristiwa disekitarnya, termasuk keterikatannya terhadap sensasi tubuhnya seperti rasa sedih, gelisah, rasa cemas, dan lelah.

Kita merasakan betapa shalat menjadi beban sejak kecil. kita selalu ketakutan kalau tidak melaksanakan shalat. Di waktu itu, guru dan orang tua telah banyak andil menakuti-nakuti kita, bahwa kalau tidak shalat akan dijebloskan ke neraka, sehingga setiap kali ada suara adzan perasaan takut dan ngeri sering menyelusup ke dalam hati. Tanpa disadari, secara psikologis pikiran kita terganggu dengan doktrin tersebut. kita tidak pernah disadarkan, bahwa shalat itu untuk kebaikan kita dan bisa dirasakan langsung oleh pikiran dan perasaan hati kita, bahwa shalat itu akan membuat perasaan kita damai dan tenang, bahwa shalat itu merupakan tempat kita mengadu di saat kesusahan serta memohon petunjuk jika ada kebuntuhan pikiran. tetapi doktrin itu sudah terlanjur lengket dalam benak kita. sehingga tidak bisa dipungkiri, bahwa shalat menjadi benar-benar berat dan sulit dilaksanakan.

Jika sudah demikian maka shalat kita itu akan sia-sia sehingga shalat tidak lagi menjadi alat atau sarana menciptakan karakter mukmin yang berakhlak mulia. shalat yang demikian (lalai), akan menjemukan dan membuat kita merasa lelah. shalat tidak memberikan rasa nyaman, enak dan menyenangkan. kalau sudah demikian, nafsu kita tidak bisa dikendalikan karena ruh telah tenggelam, dimana ruh telah kehilangan kontak dengan sang pemberi petunjuk, sang pemberi ilmu, dan juru penerang.

 

C.    PARENTING

Anak adalah aset yang sangat berharga bagi sebuah Negara. anak akan menjadi generasi penerus yang pada masanya nanti akan menentukan perkembangan suatu Negara. Anak-anak yang terdidik dan berkualitas secara inteleltual, mental, dan spiritual akan berkembang menjadi orang dewasa yang kompeten dan mampu menjalankan roda kehidupan berbangsa dan bernegara sehingga kelangsungan dan martabat Negara dapat terjamin.

Parent dalam parenting memiliki beberapa definisi-ibu, ayah, seseorang yang akan membimbing dalam kehidupan baru, seorang penjaga, maupun seorang pelindung. Parent adalah seseorang yang mendampingi dan membimbing semua tahapan pertumbuhan anak, yang merawat, melindungi, mengarahkan kehidupan baru anak dalam setiap tahapan perkembangannya (Brooks, 2001).

Pengasuh erat kaitannya dengan kemampuan suatu keluarga/ rumah tangga dan komunitas dalam hal memberikan perhatian, waktu dan dukungan untuk memenuhi kebutuhan fisik, mental, dan social anak-anak yang sedang dalam masa pertumbuhan serta bagi anggota keluarga lainnya (ICN 1992 dalam Engel et al. 1997). Hoghughi (2004) menyebutkan bahwa pengasuhan mencakup beragam aktifitas yang bertujuan agar anak dapat berkembang secara optimal dan dapat bertahan hidup dengan baik. Prinsip pengasuhan menurut Hoghughi tidak menekankan pada siapa (pelaku) namun lebih menekankan pada aktifitas dari perkembangan dan pendidikan anak. Oleh karenanya pengasuhan meliputi pengasuhan fisik, pengasuhan emosi dan pengasuhan social.

Pengasuhan fisik mencakup semua aktifitas yang bertujuan agar anak dapat bertahan hidup dengan baik dengan menyediakan kebutuhan dasarnya seperti makan, kehangatan, kebersihan, ketenangan waktu tidur, dan kepuasan ketika membuang sisa metabolisme dalam tubuhnya. Pengasuhan emosi mencakup pendampingan ketika anak mengalami kejadian-kejadian yang tidak menyenangkan seperti merasa terasing dari teman-temannya, takut, atau mengalami trauma. Pengasuhan emosi ini mencakup pengasuhan agar anak merasa dihargai sebagai seorang individu, mengetahui rasa dicintai, serta memperoleh kesempatan untuk menentukan pilihan dan untuk mengetahui resikonya. Pengasuhan emosi ini bertujuan agar anak mempunyai kemampuan yang stabildan konsisten dalam berinteraksi dengan lingkungannya, menciptakan rasa aman, serta menciptakan rasa optimistic atas hal-hal baru yang akan ditemui oleh anak. Sementara itu, pengasuhan sosial bertujuan agar anak tidak merasa terasing dari lingkungan sosialnya yang akan berpengaruh terhadap perkembangan anak pada masa-masa selanjutnya. Pengasuhan sosial ini menjadi sangat penting karena hubungan sosial yang dibangun dalam pengasuhan akan membentuk sudut pandang terhadap dirinya sendiri dan lingkungannya.pengasuhan sosial yang baik berfokus pada memberikan bantuan kepada anak untuk dapat terintegrasi dengan baik di lingkungan rumah maupun sekolahnya dan membantu mengajarkan anak akan tanggung jawab sosial yang harus diembannya (Hughoghi, 2004).

Sementara itu, menurut Jerome Kagan seorang psikolog perkembangan mendefinisikan pengasuhan (parenting) sebagai serangkaian keputusan tentang sosialisasi pada anak, yang mencakup apa yang harus dilakukan oleh orang tua/ pengasuh agar anak mampu bertanggung jawab dan memberikan kontribusi sebagai anggota masyarakat termasuk juga apa yang harus dilakukan orang tua/ pengasuh ketika anak menangis, marah, berbohong, dan tidak melakukan kewajibannya dengan baik (Berns, 1997). Berns (1997) menyebutkan bahwa pengasuhan merupakan sebuah proses interaksi yang berlangsung terus-menerus dan mempengaruhi bukan hanya bagi anak juga bagi orang tua. Senada dengan Berns, Brooks (2001) juga mendefinisikan pengasuhan sebagai sebuah proses yang merujuk pada serangkaian aksi dan interaksi yang dilakukan orang tua untuk mendukung perkembangan anak. Proses pengasuhan bukanlah sebuah hubungan satu arah yang mana orang tua mempengaruhi anak namun lebih dari itu, pengasuhan merupakan proses interaksi antara orang tua dan anak yang dipengaruhi oleh budaya dan kelembagaan sosial dimana anak dibesarkan.

Beberapa definisi tentang pengasuhan tersebut menunjukkan bahwa konsep pengasuhan mencakup beberapa pengertian pokok, antara lain: (i) pengasuhan bertujuan untuk mendorong pertumbuhan dan perkembangan anak secara optimal, baik secara fisik, mental maupun sosial, (ii) pengasuhan merupakan sebuah proses interaksi yang terus menerus antara orang tua dengan anak, (iii)pengasuhan adalah sebuah proses sosialisasi, (iv) sebagai sebuah proses interaksi dan sosialisasi proses pengasuhan tidak bisa dilepaskan dari sosial budaya dimana anak dibesarkan.

Parenting merupakan tugas yang disandang oleh pasangan suami-isteri ketika mereka sudah mempunyai keturunan. Parenting di lain pihak adalah suatu tugas yang berkaitan dengan mengarahkan anak menjadi mandiri di masa dewasanya, secara fisik dan psikologis. Parenting ini menurut Shanock (Garbarino & Benn, 1992), adalah suatu hubungan yang intens berdasarkan kebutuhan yang berubah secara pelan sejalan dengan perkembangan anak. Idealnya, pasangan orangtua akan mengambil bagian dalam pendewasaan anak-anak karena dari kedua orang tua, anak-anak akan belajar untuk mandiri, entah melalui proses belajar sosial dengan modeling (Belsky, 1984), ataupun melalui proses resiprokal dengan prinsip pertukaran sosial.

Ayah dan ibu adalah pasangan yang datang dengan latar belakang yang berbeda. Perbedaan ini, idealnya, akan saling melengkapi sehingga pasangan akan dapat menjalankan rumah tangga dan perkawinannya dengan lancar. Demikian pula dalam hal pengasuhan, kedua orang tua akan memberikan model yang lengkap bagi anak-anak dalam menjalani kehidupan.

Pengasuhan anak merupakan tugas dalam masa menjadi orang tua. Tujuan pengasuhan ini adalah sosialisasi, yaitu mengajarkan anak bagaimana menjadi bagian dari masyarakat.

Keterlibatan dan Sensitivitas dalam Pengasuhan

Pengasuhan atau parenting adalah suatu perilaku yang pada dasarnya mempunyai kata-kata kunci yaitu; hangat, sensitive, penuh penerimaan, resiprokal, ada pengertian, dan respon yang tepat pada kebutuhan anak. Pengasuhan dengan ciri-ciri tersebut melibatan kemampuan untuk memahami kondisi dan kebutuhan anak, kemampuan untuk memilih respon yang paling tepat baik secara emosional afektif, maupun instrumental.

Keterlibatan dalam pengasuhan anak mengandung aspek waktu, interaksi, dan perhatian. Lamb (Shehan, 2003) dalam menganilisis dan meng-kategorikan keterlibatan dalam pengasuhan dalam tiga bentuk. Engagement atau interaction (McBride, Schoppe, & Rane, 2002) adalah interaksi dengan anak, meliputi kegiatan seperti memberi makan, mengenakan baju, berbincang, bermain, mengerjakan PR, dan sebagainya. Accesbility adalah bentuk keterlibatan yang lebih rendah. Orang tua ada di dekat anak tetapi tidak berinterkasi secara langsung dengan anak. Responsibility adalah bentuk keterlibatan yang paling intens karena melibatkan pe-rencanaan, pengambilan keputusan, dan mengorganisasi.

Sedangkan Grant menyebutkan filosofi dalam mengasuh anak adalah bahwa kesejahteraan dan kebahagiaan individu tergantung pada empat elemen, yaitu elemen fisik, elemen sosial, elemen spiritual, dan elemen intelektual. Orang tua haruslah dapat menfasilitasi perkembangan anak dalam ke-empat hal tersebut.

Pada penelitian Galinsky (Shehan, 2003) pada anak-anak Amerika mengungkap bahwa lebih dari 40 persen anak merasa ketika bersama-sama dengan orang tua meterka merasakan adanya ketergesaan, sehingga anak-anak kemudian mempunyai harapan agar orang tua mempunyai “waktu yang terfokus” atau focused time ketika bersama mereka. Perhatian diberikan pada mereka pada saat orang tua bersama mereka dan bukannya secara fisik bersama mereka tetapi pikiran terpecah pada hal lain. Dengan waktu yang terfokus ini orang tua menggunakan semua proses kognisinya untuk menjalin hubungan yang akrab dengan anak. Orang tua dapat saja mengembangkan gagasan-gagasan dalam berinteraksi sambil pada saat itu tetap menyadari apa yang menjadi kebutuhan anak sehingga terbentuk pengertian dan penerimaan.

Dalam penelitian Galinsky terdapat delapan keterampilan pengasuhan yang menjadi indikator, yaitu:

  1. membuat anak merasa penting dan dicintai.
  2. merespon pada tanda-tanda dan isyarat anak.               
  3. menerima anak apa adanya, tetapi juga mengharapkan keberhasilan.
  4. mengajarkan nilai-nilai yang kuat.
  5. menggunakan disiplin yang konstruktif.
  6. menyediakan hal-hal yang rutin dan yang bersifat ritual agar hidup lebih terprediksi.
  7. terlibat dalam pendidikan anak.
  8. siap membantu dan menudukung anak.

D.    SUPEREGO

Sigmun Freud, yang dikenal sebagai tokoh utama Psikoanalisis, dalm teorinya mengajukan tiga konsep utama yang mendasari perilaku manusia. Pertama adalah struktur kepribadian, yang terdiri dari Id, Ego, dan Superego. Ketiga struktur kepribadian tersebut akan mewarnai perilaku seseorang. Ke dua, adalah tingkat kesadaran atau consciousness levels. Ada tiga tingkat kesadaran yaitu bawah sadar (unconscious), ambang sadar (preconscious), dan tingkat sadar (consciousness). Tingkat kesadaran menunjuk pada letak di mana id, ego, dan superego berada, dan selanjutnya menggambarkan kekuatan masing-masing struktur tersebut dalam mempengaruhi perilaku seseorang.

Super Ego terdiri atas dua hal yaitu ego-ideal yang berupa konsep tentang perilaku yang baik dan buruk; dan conscience yang berupa konsep tentang betul dan salah. Superego terbentuk pada diri seorang anak dalam berhubungan dengan orang tuanya, terutama orang tua dengan jenis kelamin yang sama (Lefrancois, 1990), dimulai ketika usia anak sekitar 4-6 tahun. Proses pembentukan terjadinya melalui proses identifikasi dan internalisasi. Proses identifikasi dan internalisasi ini akan menghasilkan superego, dan hasil pembentukan ini dapat berupa superego yang kuat, lemah, atau menjadi ekstrim, tergantung pada nilai-nilai yang dikenalkan orang tua dalam proses ini.

Kaitan anatara Id, Ego, dan Superego dengan pemahaman islam

a. ID

Menurut teori Freud ini Id adalah bagian dari jiwa seseorang berupa dorongan atau nafsu yang sudah ada sejak manusia dilahirkan yang memerlukan pemenuhan dan pemuasan segera. Unsur Id ini sifatnya vital sebagai suatu mekanisme pertahanan diri, sebagai contoh misalnya dorongan atau nafsu makan, minum, seksualitas, agresivitas, dan lain-lain. Id sendiri terletak di ketidaksadaran, sehingga tidak bersentuhan langsung dengan realitas, oleh karena itu prinsip yang dianut id adalah prinsip kesenangan, yaitu bahwa tujuan dari id adalah memuaskan semua dorongan primitive ini. Id adalh dorongan-dorongan yang belum dibentuk atau dipengaruhi oleh kebudayaan, yaitu dorongan untuk hidup dan mempertahankan kehidupan dan dorongan untuk mati. bentuk dari dorongan hidup adalah dorongan seksual atau juga libido dan bentuk daripada dorongan mati adalah agresi, yaitu dorongan yang menyebabkan orang ingin menyerang orang lain berkelahi atau marah.

Dari sudut pandang agama (Islam), konsep Id, Ego, Super ego dari teori Freud tersebut diatas sebenarnya sudah ada hanya peristilahannya saja yang berbeda. Manusia sebagai mahkluk fitrah, sejak menusia lahir sudah dibekali dengan dorongan-dorongan atau nafsu seperti nafsu makan, minum, agresif, dan nafsu seksual. tanpa adanya dorongan Nafsu sebagaimana contoh diawal, maka manusia tidak akan dapat mempertahankan diri keberadaannya di dunia. misalnya bila seseorang kehilangan nafsu makan dan minum dengan sendirinya kondisi fisik akan melemah, maka dapat memudahkan terinfeksi penyakit dan jika hal tersebut berkepanjangan maka dapat menyebabkan kematian. Dorongan nafsu sebagaimana uraian di atas dikenal dalam teori freud sebagai Id.

b.  EGO

Ego merupakan “badan pelaksana” yang menjalankan kebutuhan Id setelah disensor dahulu oleh Super ego. Manusia melaksanakan kebutuhan-kebutuhan Nafsu tadi dalam bentuk perbuatan, perilaku atau amal yang kesemuanya disebut akhlak. dalam konsep Freud Akhlak ini disebut Ego. akhlak seseorang menjadi baik atau buruk tergantung dari hasil tarik menarik antara nafsu dan Imam atau dengan kata lain antara Id dan Super Ego. hasil tarik menarik antara nafsu dan iman tadi pada sebagian orang dapat menimbulkan konflik batin, misalnya pada orang yang melakukan perzinaan akan timbul perasaan bersalah, berdosa, dan ketakutan.

c.  SUPER EGO

Super ego merupakan “badan penyensor” yang memiliki nilai-nilai moral etika yang dapat membedakan mana yang boleh mana yang tidak, mana yang baik mana yang buruk, mana yang halal mana yang haram, dan sejenisnya. dengan kata lain Super ego merupakan “hati nurani” manusia.

Superego adalah suatu gambaran kesadaran akan nilai-nilai dan moral masyarakat yang ditanamkan oleh adat istiadat, agama, orang tua, guru dan orang- orang lain pada anak.

Karena itu pada dasarnya Superego adalah hati nurani (concenience) seseorang yang menilai benar atau salahnya suatu tindakan seseorang.itu berarti Superego mewakili nilai-nilai ideal dan selau berorientasi pada kesempurnaan. Cita-cita individu juga diarahkan pada nilai-nilai ideal tersebut, sehingga setiap individu memiliki gambaran tentang dirinya yang paling ideal (Ego-ideal).

Bersama-sama dengan ego, Superego mengatur dan mengarahkan tingkah laku individu yang mengarahkan dorongan-dorongan dari Id berdasarkan aturan-aturan dalam masyarakat, agama atau keyakinan-keyakinan tertentu mengenai perilaku yang baik dan buruk. Mengakhiri deskripsi singkat diatas tentang ketiga sistem kepribadian diatas, harus diingat bahwa Id, Ego, dan Superego tidak dipandang sebagai orang – orangan yang menjalankan suatu kepribadian mental.

Sebaliknya mereka bekerja sama seperti suatu tim yang diatur oleh ego. Kepribadian Mental biasanya berfungsi sebagai suatu kesatuan dan bukan merupakan tiga bagian yang terpisah. Secara sangat umum Id dipandang sebagai komponen biologis kepribadian mental, sedangkan ego dipandang sebagai komponen psikologis dan superego sebagai komponen sosialnya.

Sedangkan menurut islam

Untuk melaksanakan kebutuhan nafsu manusia berbeda dengan mahkluk hewan, karena pada diri manusia sudah ada fitrah ke-Tuhan-an yang berisikan akal (rasio), moral dan etika sehingga manusia itu dapat membedakan mana yang halal dan mana yang haram, mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang boleh dan tidak. Fitrah ke-Tuhan-an ini dalam istilah Freud disebut Super ego, dan dalam agama (islam) dapat dianalogikan dengan Imam yang berfungsi sebagai pengendalian diri (self control). oleh karena itu dalam memenuhi kebutuhan nafsu seksual tersebut diatas terdapat perbedaan yang jelas antara manusia dengan mahkluk hewan. hubungan seksual sesama manusia diatur oleh hukum tertulis maupun tidak tertulis berdasarkan adat istiadat, hukum Negara dan hukum agama; sedangkan mahkluk hewan hewan berdasarkan naluri atau insting belaka.

Dari bahasan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa perkembangan seorang anak diarahkan pada kemampuan mengintegrasikan Id, Ego, dan Superego sehingga dalam kehidupannya seseorang akan selalu terkendali perilakunya secara sosial dengan landasan moralitas yang dimilikinya. Seseorang dapat jatuh sakit (baik sakit fisik atau psikis) manakala seseorang tidak dapat menyelesaikan konflik internal (konflik batin) antara Id, Ego, dan Super ego.

 

BAB

ANALISIS DAN SINTESIS

A.    Analisis

Berdasarkan data yang didapat dari badan statistic nasional permasalahan di Indonesia seperti tindak kejahatan, stres, depresi, dan skizofrenia yang ada semakin banyak terjadi dan semakin bertambah setiap tahunnya. Problema ini tidak hanya dialami oleh orang dewasa saja, tetapi juga anak-anak, remaja, dewasa, dan pada usia lanjut. Banyak kita temui kasus-kasus bullying ataupun pemerkosaan yang dilakukakan oleh anak SD, begitu juga pada remaja, dimana banyak remaja yang mengalami stress, depresi akibat dari permasalahan yang tidak dapat diselesaikan seperti patah hati yang akhirnya berujung pada percobaan bunuh diri. Begitu juga oleh kasus-kasus yang dihadapi oleh orang dewasa ataupun lansia yang tidak jauh dari fenomena-fenomena tersebut.

Dengan demikian maka bisa dianalisa bahwa kondisi msyarakat Indonesia baik secara fisik dan psikis sedang sakit dan keteraturan masyarakat ini sendiri sedang mengalami ketidakteraturan yang disebabkan banyaknya permasalahan masyarakat yang meresahkan dan menimbulkan ketidaknyamanan serta ketertiban di Indonesia.

Ketidakterauran masyarakat Indonesia yang dimunculkan dengan banyaknya problema seperti tindak kejahatan, stres, depresi, dan skizofrenia yang cukup tinggi di Indonesia. Padahal seperti yang kita ketahui bahwa masyarakat di Indonesia mayoritas adalah orang muslim. Sehingga jika ditilik dari perspektif islam maka permasalan tersebut sangatlah dipengaruhi dengan kualitas shalat masyarakat muslim di Indonesia.

Dan dari fakta yang kita ketahui di Indonesia ternyata pandangan mereka mengenai shalat adalah sebuah kewajiban yang hanya sebagai rutinitas lima kali dalam sehari. Sehingga esensi dari shalat tersebut tidak tercapai, seperti ketenangan hati dan pikiran setelah berkomunikasi dengan penciptanya yaitu Allah SWT. Dari shalat itu sendiripun terdapat pembentukan ketauhidan dan pembentukan akhlak dan moral yaitu Superego.

Dari sinilah maka dapat dianalisa mengapa permasalahan di Indonesia seperti tindak kejahatan, stress, depresi, dan skizofrenia selalu terus berkembang dan bertambah banyak. karena shalat sendiri sebagai tiang agama dan pondasi dari akhlak serta moral yang dapat membentuk superego, hanya sebagai kewajiban bukan sebagai kebutuhan dan problem solving.

Jika demikian, maka yang perlu menjadi perhatian adalah bagaimana orang tua mengajarkan dan mengenalkan anaknya mengenai sholat. Pada realita yang ada di masyarakat banyak orang tua yang mengajarkan dan mengenalkan sholat sebagai suatu kewajiban. Jika  rajin melakukan sholat maka Allah pasti akan memberikan pahala dan Surga, tetapi jika anak tidak melakukan sholat maka akan mendapatkan siksa dan neraka. Statement inilah yang selalu ditekankan pada orang tua untuk menakuti dan memaksa anak untuk melakukan sholat, dan jika anak masih  tidak patuh maka tidak semua orang tua melakukan punishment, diantaranya dengan “memukul” anaknya sebagai hukuman. Sehingga esensi sholat yang seharusnya sebagai salah satu cara untuk mendekatkan diri kepada Allah agar menjadikan jiwa tentram dan tenangnya hati menjadi terabaikan.

Pandangan dan pola mendidik inilah yang harus dirubah dari orang tua. Karena seperti pada teori tabularasa dimana anak diperumpamakan seperti kertas kosong dan orang tualah yang akan menentukan apa yang akan dituangkan pada kertas kosong tersebut. Jika orang tua sudah salah memberikan pemahaman tentang sholat sejak awal, maka anak akan memiliki  pemahaman dan pemaknaan sholat yang salah pula. Sehingga pemaksimalan peran orang tua dalam membentuk pemahaman anak baik dalam sholat ataupun dalam segala hal sangatlah penting.

Menanamkan super ego sebagaimana teori Freud merupakan hal yang penting untuk ditanamkan sejak dini, khususnya pada usia keemasan pada anak. Sehingga ketika dewasa kelak anak akan memiliki sistem mekanisme pertahanan diri yang kuat terhadap semua masalah dan segala bentuk permasalahan hati yang dapat mengakibatkan seseorang melakukan tindak kejahatan ataupun mengalami stres, depresi, dan skizofrenia. Dengan demikian membentuk masyarakat yang teratur bukanlah hal yang mustahil jika permasalahan-permasalahan yang marak terjadi di Indonesia bisa berkurang atau bahkan tidak ada lagi.

 

B.     Sintesis

Karena urgensi dari permasalahan yang dialami di Indonesia seperti tindak kejahatan, stress, depresi dan skizofrenia  yang berdampak ketidakteraturan masyarakat akibat dari peran orang tua yang salah menanamkan pemahaman sholat dalam membentuk superego, maka tulisan ini memberikan solusi program parenting DAS (Dialog After Shalat), dimana dalam program ini orang tua diberi pemahaman terlebih dahulu bagaimana urgensi peran mereka dalam membentuk superego (iman) anak dan bagaimana dampaknya jika orang tua kurang maksimal dalam memberikan pemahaman pada anak akan suatu hal. Sehingga setelah orang tua tahu urgensi peran mereka, yang bisa dilakukan oleh orang tua yang ada di Indonesia untuk membentuk  superego dalam artian iman, akhlak dan moral dengan pemahaman esensi sholat sejak dini yaitu dengan memaksimalkan dialog antara orang tua dan anak. Mengapa pemaksimalan dialog orang tua-anak dijadikan solusi utama? hal ini dikarenakan proses pengasuhan bukanlah sebuah hubungan satu arah yang mana orang tua mempengaruhi anak namun lebih dari itu, pengasuhan merupakan proses interaksi antara orang tua dan anak. Sehingga interaksi melalui dialog dua arah anatara orang tua-anak dirasa tepat memberikan pemahaman anak secara maksimal dan dapat membentuk superego secara maksimal pula.

Dalam tulisan ini juga memberikan alternatif yang tepat dimana kapan pemaksimalan dialog antara orang-anak yang dirasa tepat yaitu pada saat jeda ba’da sholat maghrib dan isya’. Mengapa pada saat tersebut dirasa tepat?

  1. Karena kegiatan tersebut dilakukan pada saat ba’da sholat maghrib dan isya’ maka orang tua bisa sekaligus menerapkan sholat berjamaah dengan anak.
  2. Karena pada saat-saat itu atmosfir atau suasana dirasa sangat cocok untuk memberikan pemahaman dan menanamkan esensi sholat, akhlak yang berdasarkan nilai-nilai ketuhanan, yang akhirnya dapat membentuk superego yang kuat.
  3. Karena pada saat itu orang tua terbebas dari pekerjaan kantor (bagi ayah) dan pekerjaan rumah tangga (bagi ibu), dan anakpun pada saat itu bebas dari aktivitas bermain.

 

Sedangkan pada isi dialog tersebut orang tua bisa mengisinya dengan mengenalkan dan memberikan pemahaman akan esensi shalat, akhlak, ketahuidan, nilai-nilai ketuhanan, karakter-karakter terpuji. Adapun juga orang tua bisa mengawali dialog tersebut dengan mengaji bersama kemudian menjelaskan apa yang sudah mereka bajakan dengan pemahaman yang dapat ditangkap oleh anak yaitu melalui cerita-cerita para nabi, rasulullah, dan para sahabat. Orang tua disini juga harus berperan aktif untuk memancing tanggapan anak seperti bagaimana tanggapan anak mengenai cerita contohnya cerita shalatnya para nabi serta akhlak terpuji para nabi sehingga dari tanggapan anak tersebut akan memicu dialog secara dua arah. dan akhirnya anak akan memiliki pemahaman secara terarah dan dapat mengambil kesimpulan dari pelajaran dari kisah-kisah para nabi, rasul, dan para sahabat. Dari kisah dan dialog tersebut akhirnya anak akan secara tidak langsung akan menanamkan pemahaman akan esensi shalat, sehingga mereka dapat mengetahui nikmat dari shalat sejak dini yang berpengaruh pada perilaku dan akhlak/ karakter baik dalam perilaku sehari-hari yang sesuai dengan yang dilakukan oleh nabi, rasul, dan para sahabat.

Ketika orang tua di Indonesia dapat melakukan sebagaimana solusi yang ditawarkan ini. maka harapan untuk menuju keteraturan masyarakat bukanlah hal yang mustahil jika memang anak-anak sebagai generasi penerus memiliki iman (superego) yang kuat. Sehingga mereka jauh dari tindak kejahatan, stress, depresi, dan skizofrenia.

BAB

PENUTUP

A.    Simpulan

Jadi, untuk membentuk keteraturan masyarakat maka peran orang tua sangatlah penting dan urgent dalam membentuk superego yang dalam islam dinamakan iman. Pembentukan superego inipun diharuskan ditanamkan sejak dini dengan memberikan pemahaman yang tepat akan sesuatu hal, dalam hal ini adalah pemahaman akan shalat. Sehingga jika anak sebagai generasi penerus bangsa dekat dengan Tuhan, memiliki iman yang kuat, akhlak yang baik, dan tiang agama yang kuat (shalat) maka permasalahan Indonesia saat ini yang menjadikan masyarakat Indonesia tidak teratur, seperti tindak kejahatan, stress, depresi, dan skizofrenia dapat terselesaikan dan tidak akan berakar ke generasi selanjutnya.

B.     Saran

Saran ini ditujukan kepada kita semua khususnya pada orang tua dan calon orang tua bahwa peran sebagai orang tua sangatlah penting dan urgent bagi anak yang merupakan penerus bangsa. Diharapkan orang tua dapat menerapkan program parenting DAS (Dialog After Shalat) yang ditawarkan oleh penulis. Dikarenakan program ini sangatlah efektif, sehingga orang tua dapat memaksimalkan perannya baik dari pengasuhan dan pemberian pemahaman akan suatu hal. Maka dengan orang tua dapat memaksimalkan perannya dengan  melaksanakan program ini sama dengan mereka menyelamatkan 10 generasi Indonesia dari ketidakteraturan dan keterpurukan akhlak.


DAFTAR PUSTAKA

 

Hawari, Dadang. 2006. Dimensi Religi Dalam Praktek Psikiatri Dan Psikologi. Balai Pustaka FKUI: Jakarta.

Andayani, Budi., Koentjoro. 2004. Peran Ayah Menuju Coparenting. Citra Media: Jakarta.

Alwisol. 2009. Psikologi Kepribadian. UMM Press: Malang

Roham & Jahim, Abu. 2001. Shalat Tiang Agama. Media Da’wah: Jakarta

Hawari, Dadang. 2008. Lima Besar Penyakit Mental Masyarakat. Balai Pustaka FKUI: Jakarta

Hawari, Dadang. 2007. Our Children Our Future: Dimensi Psikoreligi Pada Tumbuh Kembang Anak dan Remaja. Balai Pustaka FKUI: Jakarta

Sangkan, Abu. 2005. Pelatihan Shalat Khusyu’: Shalat Sebagai Meditasi Tertinggi Dalam Islam. Baitul Ihsan: Jakarta

Kohn, Alfie & Atmoko M. Rudi. Jangan Pukul Aku: Paradigma Baru Pola Pengasuhan Anak. Mizan Learning Center: Jakarta

Papalia, Old & Feldman. 2009. Human Development: Perkembangan Manusia. Jilid 1. Salemba Humanika: Jakarta

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s